RADAR JOGJA- Tim Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta  (UAJY) dari Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Komunikasi tengah mempersiapkan branding Desa Wisata Tinalah.

Desa wisata ini salah satu desa wisata yang ada di Jogjakarta. Branding desa wisata tersebut berangkat dari Pemerintah DIJ beserta Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang mengharapkan jika pembangunan dan pengembangan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo mempu menjadi daya tarik pengembangan sosial ekonomi di daerah sekitar bandara.

Faktanya, desa wisata di sekitar wilayah YIA ini menjadi destinasi wisata yang mulai banyak dikunjungi oleh turis dalam maupun luar negeri. Namun, masyarakat pengelola destinasi wisata masih membutuhkan pengembangan kapasitas serta ekonomi kreatif.

Hal ini pun kemudian ditinjau oleh Tim Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dari Prodi Sosiologi dan Prodi Ilmu Komunikasi sebagai peluang untuk melakukan pengabdian masyarakat di tengah masa pandemi.

Berlokasi di Desa Wisata Tinalah yang merupakan lokasi dari Tim Abdimas tersebut. Tim pengabdian ini terdiri dari Tim ahli Bidang Sosiologi Pariwisata, Victoria Sundari Handoko  dan  Tim ahli Bidang Komunikasi Pariwisata,  Desideria Cempaka Wijaya Murti.

Tim Ahli Bidang Sosiologi Pariwisata, Victoria Sundari Handoko  mengatakan, branding Desa Wisata Tinalah di bundling menjadi dua hal yaitu logo desa wisata dan munculnya ikon Mbak Dewi yang merupakan simbol pengunjung Dewi Tinalah.

Selain itu, juga melakukan serah terima atas merek baru Desa Wisata Tinalah yang telah terdaftarkan dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). “Kami mengharapkan dengan adanya HAKI atas merek desa wisata, kreativitas dapat ditingkatkan sebab mereka sudah memiliki dasar dari aset desa yakni sebuah merek bernama Dewi Tinalah,” katanya.

Victoria menambahkan, “Mbak Dewi ini menjadi ikon bagi desa supaya lebih atraktif. Ikon ini nantinya bisa dipakai untuk berbagai merek produk-produk desa dan pengembangan aplikasi teknologi Dewi Tinalah ke depan,” tambahnya.

Akibat adanya Covid-19, Desa Wisata Tinalah semakin menyadari bahwa keberadaan Master Plan dari sebuah brand desa akan bisa mengintegrasikan seluruh produk di kawasan tersebut. Keuntungannya adalah pariwisata dapat membantu mempercepat proses diversifikasi usaha serta akselerasi merek UMKM di sekitar lokasi.

“Jika merek desa terintegrasi maka gambaran bahwa Dewi Tinalah ini terkonsep mulai dari usaha wisata hingga produk lokal akan dapat terlihat dengan jelas,” ujarnya.

Pelaksanaan Village Branding atau pembuatan merek komersial bagi desa-desa wisata sangat potensial untuk dilakukan di berbagai tempat. Termasuk dilakukan replikasi secara massif pada suatu regional area, kabupaten dan bahkan propinsi.

“Hal lain yang menjadi perhatian kami dengan adanya potensi ha katas kepemilikan nama Desa Wisata Tinalah ini yang bisa diambil oleh pihak swasta atau pihak-pihak lain yang tidak memiliki hubungan dengan  Desa Wisata Tinalah,” Jelasnya. (*/sky)

Pendidikan