RADAR JOGJA – Desa Srihardono bersama dengan Laboratorium Fakultas Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan seleksi perangkat desa, Senin di Hotel Alana Malioboro. Seleksi ini dilaksanakan untuk mengisi kekosongan formasi Kasi Kesejahteraan Keluharan Srihardono, Pundong, Bantul. Sebanyak 38 peserta yang mengikuti seleksi perangkat desa ini didominasi oleh generasi milenial.

Camat Pundong Nanang Dwi Atmoko S.Sos mengatakan, penghasilan tetap (siltap) menjadi penarik bagi generasi muda untuk mengikuti seleksi perangkat desa di tengah pandemi. Selain itu, seleksi ini tidak dipungut biaya dan semua difasilitasi dari desa.

“Kesejahteraan perangkat desa sudah sangat meningkat. Dengan adanya siltap, sangat menarik bagi milenial untuk bsia berkontribusi kepada desa,” ujar Nanang Dwi Atmoko saat ditemui seusai acara.

Sementara itu, Kepala Desa Srihardono, Awaludin menilai generasi milenial mampu bekerja lebih cepat dan memiliki kemampuan yang lebih dalam penguasaan teknologi informasi (TI), sehingga dia yakin Desa Srihardono akan lebih baik ke depannya. “Harapannya dapat membawa Srihardono lebih baik, lebih maju,” ujarnya.

Pemilihan UMY sebagai pihak ketiga bukan tanpa alasan. Ketua Panitia Seleksi Perangkat Desa Srihardono, Sudrajat mengatakan bahwa UMY merupakan universitas yang memiliki kredibilitas dan netralitas. Pihak UMY melaksanakan proses persiapan hingga tahapan seleksi secara baik dan berlangsung lancar. Untuk itu, diharapkan melalui seleksi ini dapat menghasilkan perangkat desa yang berkualitas.

“Siap kerja, punya tanggung jawab, punya komitmen, pekerjaannya bagus apalagi kami di pamong desa berkaitan langsung dengan masyarakat.” Jelasnya.

UMY melakukan tahapan seleksi diantaranya tes psikologi, tes tertulis, tes ketrampilan, dan tes wawancara. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Lab IP UMY, Sakir Ridho Wijaya. Dia juga menambahkan sudah tiga kali proses tahapan seleksi perangkat desa dilaksanakan di luar kampus UMY. Hal ini dikarenakan jumlah peserta seleksi yang banyak sehingga protokol kesehatan tidak dapat diterapkan apabila tetap dilaksanakan di kampus UMY.

“Di Lab kami komputernya lebih dari cukup. Cuma jaraknya terlalu berdekatan. Jadi lebih baik kami di luar, di hotel bintang empat terus protokol kesehatannya ketat,” ungkapnya.

Setelah acara selesai, nilai dari seluruh peserta seleksi dibacakan oleh ketua panitia dan diumumkan dua nama dengan nilai tertinggi. Dua nama tersebut adalah Novita Anriyani dengan total nilai 68.10 dan Andi Nugroho dengan total nilai 66.06. (naf/ila)

Pendidikan