RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 mengakibatkan beberapa sektor mengalami dampak yang besar bahkan menjadi terpuruk. Salah satunya yaitu di sektor pariwisata. Untuk itu perlu adanya strategi dan juga upaya untuk membangkitkan keterpurukan tersebut. Termasuk dengan belajar dari pengalaman negara-negara lain.

Karena itu, Kajian Organisasi Internasional (KOIN) Laboratorium Organisasi Internasional Jurusan Ilmu Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) mengadakan webinar nasional. Dengan tema “Lesson Learned dan Strategi Negara-Negara ASEAN dalam Memulihkan Industri Pariwisata Akibat Pandemi Covid-19 dan Respon Global” secara daring, Kamis (15/10).

Kegiatan ini diharapkan menjadi forum ilmiah bagi para akademisi dan praktisi untuk membahas kondisi aktual dan tantangan serta peluang yang ada di tengah pandemi Covid-19. Hal itu menjadi salah satu upaya akademisi untuk menggali lebih dalam peluang perbaikan di sektor pariwisata nasional melalui pelajaran yang diambil dari konteks negara ASEAN atau negara lain di sekitarnya.

Dalam sambutannya, Rektor UPNVY Dr. Mohamad Irhas Effendi, MSi menyampaikan bahwa Indonesia sangat majemuk baik dari ras, suku, etnik, kultur, dan agama. Pandemi ini membawa dampak di berbagai aspek kehidupan seperti kesehatan, ekonomi, dan sosial.

“Sangat berdampak dan telah mengubah pola interaksi, aktivitas ekonomi, dan komunikasi. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di negara lain,” ujar Irhas Effendi.

Dikatakan, pengaruh yang besar adanya pandemi Covid-19 adalah terganggunya pertumbuhan ekonomi, baik mikro maupun makro. Hal tersebut berkaitan erat dengan sektor industri pariwisata.

“Sebab, sektor ini sangat dipengaruhi oleh keterbukaan ruang transportasi antar wilayah, antarpulau, dan antarnegara. Pandemi ini menjadi mengganggu aktivitas pariwisata. Padahal, parisiwata menjadi sektor andalan untuk mendongkrak ekonomi,” ungkap Irhas Effendi.

Untuk itu, Irhas Effendi menuturkan perlu adanya strategi untuk mengubah ancaman ini menjadi sebuah peluang. Yakni, untuk menghasilkan produk inovasi di berbagai bidang dengan tanpa menghilangkan eksistensi sebagai bangsa melalui nilai kebangsaan, kebhinekaan, dan bela negara.

“Inovasi menjadi penting dalam menghadapi tantangan saat pandemi Covid-19. Apalagi indonesia cukup besar di marketside, sementara inovasi relatif perlu didorong. Sehingga, banyak inovasi yang justru didominasi oleh negara lain, masuk ke Indonesia,” sambung Irhas Effendi.

Pandemi Covid-19 justru dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia, yakni untuk mengembangkan inovasi di dalam negeri untuk memanfatkan ceruk pangsa pasar yang besar itu.

“Salah satu strategi yang penting adalah diplomasi budaya. Yaitu membuka peluang memajukan berbagai bidang, termasuk pengembangan kepariwisataan, dan ekonomi kreatif,” lanjut Irhas Effendi.

Disebutkan, Globalisasi dapat menunjukkan kualitas hidup manusia yang tinggi, maju, dan sejahtera.

“Tetapi, cinta tanah air dengan ditandai dengan rasa bela negara juga suatu hal yang penting,” ucap Irhas Effendi.

Duta Besar RI untuk Uni Emirates Arab (2008-2011) dan Duta Besar RI untuk Federasi Rusia (2016-Juli 2020) H. E. Mr. Mohamad Wahid Supriyadi mengatakan, pandemi Covid-19 menjadikan segala sektor menjadi menciut dan terpuruk.

“Kondisi krisis ini menjadi parah karena melihat sifatnya sangat khusus. Yakni, musuhnya tidak jelas. Selain itu, datangnya secara tiba-tiba dan tentu tidak diinginkan adanya krisis ini sehingga kondisinya sangat sulit,” sebut Wahid Supriyadi.

Tidak hanya Indonesia, bahkan pandemi Covid-19 ini menelan banyak korban hingga seluruh dunia.

“Rusia saja yang awal-awal sangat percaya diri hingga mengirim bantuan hingga luar negeri, seperti ke Italia, ternyata juga terdampak. Bahkan sekarang peringkat ke-4 dunia dengan kasus hingga 1,35 juta lebih,” jelas Wahid Supriyadi.

Dia menyebutkan, pandemi Covid-19 mengakibatkan kontraksi ekonomi yang luar biasa.

“Bahkan, Bank Dunia memprediksikan perekonomian dunia pada 2020 ini akan terkontraksi sebesar 5,2 persen. Mungkin bisa lebih kalau dilihat juga sejauh ini belum ada tanda-tanda untuk berakhir,” sebut Wahid Supriyadi.

Untuk itu, perlu adanya startegi dan pengembangan agar pariwisata Indonesia menjadi bangkit.

“Salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan teknologi, yaitu berpromosi secara online,” sebut Wahid Supriyadi.

Sementara, Duta Besar RI untuk Bulgaria (2016-Juli 2020) H. E. Mrs. Sri Astari Rasjid menyebutkan, di tengah pandemi Covid-19 merupakan saat dan kesempatan untuk menyiapkan kawasan wisata seluruh Indonesia berkualitas sesuai dengan ketentuan new normal. Yakni, mengutamakan faktor keamanan, kebersihan, dan kesehatan.

Selain itu juga memperbaiki regulasi kemudahan dalam berbisnis, berinvestasi di Indonesia khususnya di sektor pariwisata.

“Sembari menunggu turis dari luar negeri, Indonesia juga bisa mendorong turis domestik untuk meluangkan waktunya untuk berwisata ke destinasi baru yang bermunculan di Indonesia,” ujar Astari Rasjid.

Sementara pihak pemerintah daerah bisa mengembangkan usaha objek budaya dengan mengikutsertakan produk andalan di daerahnya, misalnya bidang pertanian.

Selain itu, ini juga menjadi momen untuk produk kerajinan UMKM bisa ditingkatkan mutu serta kualitasnya supaya tidak kalah dengan produk negara lain.

“Mungkin Kemenparekraf dan UMKM bisa saling bersinergi untuk itu, seperti dengan mengadakan lomba tingkat internasional sehingga masyarakat saat lockdown bisa tetap berkarya,” saran Astari Rasjid.

Dia mengatakan, produk Indonesia perly ditingkatkan dan disempurnakan kembali jika ingin mengembangkan potensi UMKM. Yakni, untuk mempersiapkan atau menghadapi wisata global setelah new normal nanti.

Selanjutnya, Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan (2007-2007-2011) dan Duta Besar RI untuk Afrika Selatan (2014-2017) H. E. Mr. Suprapto Martosetomo menyebutkan, ada tiga hal yang harus disiapkan dalam membangun pariwisata. Yakni, nyaman, aman, dan menawan.

“Perlu adanya partisipasi masyarakat dalam mewujudkan hal itu. Masyarakat harus disiplin diri mematuhi protokol kesehatan,” kata Suprapto Martosetomo.

Dia meyakini, dengan infrastruktur yang ada, perkembangan pariwisata di Indonesia akan berkembang pesat.

“Harus bersiap untuk bersaing dengan negara lain. Akan ada celah saat pandemi Covid-19 untuk tetap berinovasi di dalam negeri dengan bantuan promosi melalui sosial media dan digital teknologi saat ini,” ujar Suprapto Martosetomo.

Ketua Laboratorium Organisasi Internasional HI Fisip UPNVY Desy Nur Aini Fajri, SIP., MA menjelaskan, ada beberapa hal yang dapat membangun inovasi dan sinergi industri pariwisata di tengah pandemi Covid-19.

“Perlu adanya pembangunan SDM, konektivitas, partisipasi masyarakat lokal, dan tantangan konservasi warisan alam dan budaya. Hal itu untuk mewujudkan pariwisata khususnya pariwisata ASEAN yang berkelanjutan,” jelas Desy Nur Aini Fajri.

Desy Nur Aini Fajri mengungkapkan, jika dilihat dari visi pariwisata, ASEAN akan menjadi destinasi yang berkualitas. Menawarkan keunikan, dan keragaman pengalaman.

“Yang tentunya memberikan kontribusi bagi kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat,” ungkap Desy Nur Aini Fajri.

Untuk mewujudkan itu, tentu ada tantangan yang harus dilalui. Yakni, pemasaran atau promosi secara intensif dan mengupgrade partispasi masyarakat lokal dan public private dalam tourism value chain.

“Saat pandemi Covid-19 ini perlu adanya promosi yang bagus. Melalui digital tentunya. Dengan konten berkualitas dan mencakup seluruh pasar. Sehingga para wisatawan atau konsumen tertarik,” tandas Desy Nur Aini Fajri.

Webinar juga menghadirkan pembicara Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Bangkok Drs Dicky Komar MIS, Dean School of Business President University Maria Jacinta Arquisola MHRM PhD, dan Pengajar Pariwisata Dalam Hubungan Internasional DIHI UGM Drs Usmar Salam MIntStu. (sce/cr1/pra/ila)

Pendidikan