RADAR JOGJA – Jiwa berkompetisi harus ada di dalam diri para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru. Sebab, hal tersebut penting sebagai modal untuk bersaing di era revolusi industri 4.0 yang semakin berkembang dan terus maju. Untuk itu, kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bela Negara (PKK-BN) 2020 di hari keempat secara daring ini, mahasiswa baru (maba) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) mengadakan talkshow pengenalan kompetisi dengan mengusung tema “Meningkatkan Semangat Kompetisi Demi Meraih Prestasi”.

“Mahasiswa harus memiliki jiwa berkompetisi, sebab hal tersebut sangat penting untuk masa depan. Yakni, saat mencari atau terjun ke dunia kerja,” kata Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaaan Alumni dan Kerjasama Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UPNVY Asep Saepudin SIP MSi, Kamis (24/9).

Asep menyebutkan, prestasi itu terdiri dari dua jenis. Yaitu, kompetisi (bersifat perlombaan) dan non kompetisi (bukan perlombaan). “Yang bersifat non kompetisi itu ada program pertukaran pelajar baik nasional maupun internasional, pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi visi dan misi UPNVY sebagai kampus bela negara, mahasiswa berwirausaha, kemudian pengakuan atau penghargaan bukan dari lomba tetapi dari karya,” papar dia.
Selanjutnya, prestasi dari kompetisi atau bersifat perlombaan misalnya Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tilawatil Quran, paduan suara, dan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas).

“UPNVY mewadahi itu semua. Kompetisi ini lengkap dan cukup banyak. Jadi, saya sarankan mahasiswa untuk aktif mengikuti ini baik di level nasional atau internasional. Itu semua terus kami fasilitasi bagi para mahasiswa untuk terus berkembang dan mendorong mahasiswa untuk berprestasi,” sambung dia.
Terkait informasi tentang berbagai kegiatan lomba ataupun non lomba, UPNVY juga telah memfasilitasinya di laman UPNVY. Selain itu, Asep juga menyebutkan pihaknya akan melakukan sosialisasi baik langsung ataupun tidak langsung. Atau, bisa juga diakses melalui laman dari Kemdikbud.

Dia mengatakan, akan ada banyak keuntungan dan manfaat jika mahasiswa aktif berkompetisi. Dia membaginya menjadi dua hal, yaitu keuntungan dalam jangka panjang dan pendek.

Di jangka panjang, mahasiswa akan lebih mudah untuk masuk di dunia kerja. Karena, mahasiswa yang sering berkompetisi atau berorganisasi akan memiliki keunggulan atau kelebihan dari mahasiswa lain. ”Lulusan yang sempurna itu bukan hanya IPK-nya tinggi, tetapi juga harus memiliki prestasi di bidang yang lain,” sebut Asep.

Dilanjutkan, untuk keuntungan jangka pendek, mahasiswa yang bersangkutan akan merasa bangga dengan dirinya dan akan mendapat penghargaan. “UPNVY juga akan memberikan insentif atau apresiasi bagi mahasiswanya. Bisa jadi ke depan akan kami arahkan juga supaya prestasi itu diakui di SKS,” lanjutnya.

Asep mengatakan, ada tiga hal penting yang menjadikan mahasiswa paripurna ketika sudah lulus. Yakni, IPK, prestasi, dan organisasi. ”Ketiganya saling mendukung satu sama lain dan harus imbang,” pesannya.
Sementara, dalam talkhsow tersebut dijelaskan pula terkait ajang kompetisi bergengsi mahasiswa yang akan bermuara hingga ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas), yakni PKM.

Kepala Pusat Pengembangan Sistem Pembelajaran Oliver Samuel Simanjuntak ST MEng mengatakan, PKM merupakan program dari Kemdikbud yang diikuti oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. “PKM ini adalah ajang mahasiswa untuk menunjukkan kebolehannya di bidang kreativitas untuk menjawab berbagai macam permasalahan keilmuan,” ujarnya.

Oliver mengatakan, ada beberapa jenis PKM. Di antaranya PKM penelitian, penerapan teknologi, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, karsa cipta, gagasan tertulis, artikel ilmiah, dan gagasan futuristik konstruktif. “Silakan kalian bisa memilih, buat proposal ada buku panduan untuk PKM. Di UPNVY juga ada PKM Center untuk kemudian membantu dan mendampingi mahasiswa yang mengikuti PKM ini,” jelasnya.

Untuk mengikuti PKM, mahasiswa harus memiliki semangat dan juga kreativitas. Ketika melihat masalah, jangan melihat masalah itu sebagai sesuatu yang harus dibiarkan, tetapi diselesaikan. “Membiasakan pancaindera kita peka dengan masalah. Setelah melihat masalah, kemudian kita bertanya dalam diri kita, apa solusinya,” pesan dia.
Salah satu mahasiswa UPNVY yang berprestasi, yakni Aan Munandar Mahasiswa Teknik Geofisika 2018. Dia dan keempat temannya berhasil menjadi juara pertama kategori poster untuk PKM Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) dalam Pimnas ke-32 tahun lalu di Universitas Udayana, Denpasar.

PKM yang mereka usung, yakni Program Sekolah Rakyat Serdadu Kumbang ini merupakan hasil kolaborasi antara UPNVY dengan Karang Taruna Sapta Wiratama Sosromenduran, Yogyakarta.

“Waktu itu kami menyusun proposal waktu semester satu mau ke dua. Awalnya ingin menyusun untuk PKM penelitian. Tetapi karena masih awal belum terlalu paham dan menguasai keilmuan kami jadi beralih ke pengabdian masyarakat,” ungkap Aan.
Aan mengatakan, setelah itu mereka mencetuskan ide untuk membentuk sekolah rakyat dengan mencari lokasi yang membutuhkan bantuan. Akhirnya, mereka membidik di daerah lokalisasi Pasar Kembang, Kota Jogja.

Menurutnya, PKM-PM merupakan PKM yang paling mudah. Karena, banyak sekali bentuk pengabdian yang bisa dilakukan. Kegiatannya sederhana, yaitu lebih untuk membantu masyarakat untuk memecahkan permasalahan yang ada di lingkungannya.

“Untuk mendapat ide, kita harus sering main ke daerah-daerah tertentu. Lalu diamati, maka akan terlihat permasalahan yang ada di situ. Baru kita pikirkan solusinya,” saran dia.

Dia berpesan, kepada maba UPNVY 2020 untuk aktif mengikuti kompetisi, terutama PKM. “Karena kompetisi ini paling diminati dan dinantikan oleh mahasiswa di seluruh Indonesia. Kegiatan itu benar-benar bisa menampung seluruh minat dan bakat yang kalian sukai. Jadi unggulkan sisi kreativitas kalian, lalu sering baca buku pedoman dan kerjasama baik tim, dosen pembimbing, maupun pihak kampus,” pesan dia.

Dalam sesi kelas bersama dosen, Kepala Pusat Bela Negara UPNVY Ir Bambang Wicaksono MT menyampaikan, Presiden RI pertama Soekarno berpesan pengetahuan baru bermanfaat jika disumbangkan untuk kemajuan bangsa. Hal itu yang kemudian melandasi kalimat ‘Widya Mwat Yasa’ dalam lambang UPNVY.

“Sejak kelahirannya UPNVY adalah kampus yang memiliki jati diri bela negara. Lima dasar bela negara adalah cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban, dan memiliki kemampuan awal bela negara psikis (pengetahuan) dan fisik (sehat). Bela negara bukan tentang memanggul senjata, tapi pengabdian kepada negara sesuai kompetensi,” ujarnya.

Dosen Bela Negara UPNVY Ir Drs Abdul Rauf MSc memaparkan penerapan bela negara dalam pendidikan dan profesi. Kampus UPNVY adalah monumen hidup yang didirikan oleh para pejuang veteran yang ingin memberikan sumbangsihnya untuk dunia pendidikan Indonesia.

“Harus dicamkan, alumni UPNVY harus menjadi pionir dalam membela NKRI, yang lebih mengutamakan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kurikulum di UPNVY memiliki kekhasan kreativitas, kedisiplinan, dan kejuangan yang melandasi maba dalam menuntut ilmu. Ekonom alumni UPNVY misalnya, harus melahirkan kebijakan moneter yang berpihak kepada rakyat. Bela negara harus menjadi fondasi dan pola pikir para teknokrat alumni UPNVY,” ungkapnya.

Dosen Bela Negara UPNVY Dr Ir Sumarwoto PS MP menegaskan maba harus waspada terhadap potensi rasisme, rasialisme, dan intoleransi selama menempuh studi dan berbaur dengan teman yang multietnis dan multikultur.

“Konsep ini tidak etis karena mengingkari kesetaraan antara sesama manusia. Mahasiswa harus toleran, saling menghargai keberagaman dalam berinteraksi di kampus dan masyarakat,”terangnya.

Dosen Bela Negara UPNVY Abdul Rozak SH MH membekali maba tentang pencegahan dan penanggulangan paham radikalisme melalui penanaman ideologi negara. Sikap radikal yang mengutamakan kekerasan revolusioner harus diwaspadai sebab sering tumbuh di lingkungan terdekat kita. Bentengi diri dan teman dengan jiwa Bela Negara agar tidak terpapar radikalisme.

“Radikalisme berpotensi mencabik-cabik, memecah belah, dan merusak tatanan kehidupan dan harmonisasi saat menuntut ilmu di kampus maupun dalam bermasyarakat. Cintailah negeri ini dengan meletakkan dasar bela negara dalam perilaku sehari-hari. Jangan merasa dirinya paling benar dengan membentuk komunitas eksklusif, dan fanatik berlebihan dalam berinteraksi dengan sesama mahasiswa,” jelasnya. (sce/cr1/bah)

Pendidikan