RADAR JOGJA – Fakultas Teknologi Mineral (FTM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) bekerja sama dengan Geotronix Indonesia. Yakni, dalam hal pengajaran survei dan pemetaan menggunakan drone Light Detection and Ranging (LiDAR) Microdrones seharga Rp 3 Miliar.

Nantinya, data yang diperoleh dari kegiatan pemetaan tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkaya proses kegiatan belajar mengajar. Mahasiswa Program Studi Teknik Geomatika UPNVY dilibatkan langsung dalam proses pemetaan drone.

“Saya berharap itu dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa, tidak hanya Prodi Geomatika tapi semua. Jadi, mahasiswa lulus tidak hanya sekadar mendapat ijazah saja, tetapi juga mendapatkan dukungan skill lain,” ujar Wakil Rektor 1 Bidang Akademik UPNVY Suharsono, bersama Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UPNVY Singgih Saptono, saat mewakili Rektor UPNVY Mohamad Irhas Effendi dalam penandatangan kerja sama, di Kampus UPNVY, di Jalan Padjajaran, Condongcatur, Sleman, DIJ, Rabu (26/8).

Suharsono menyampaikan, saat ini UPNVY sedang menyiapkan diri untuk melaksanakan kebijakan kampus merdeka. Dia berharap dengan adanya kegiatan ini dapat bermanfaat dan menambah nilai plus bagi UPNVY.

“Kami sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan ini,” ungkap Suharsono.

Sementara, Dekan FTM UPNVY Sutarto menyampaikan kegiatan ini untuk membantu pembelajaran mahasiswa Teknik Geomatika. Selain itu, juga mendukung dalam hal melaksanakan kebijakan belajar kampus merdeka memang harus banyak kerjasama dengan industri.

“Saya sangat berterima kasih kepada Geotronix Indonesia karena telah berkenan membantu dan mengajarkan secara praktis kepada mahasiswa apa itu teknologi microdrones untuk pemetaan digital ini,” tutur Sutarto.

Direktur Utama Geotronix Indonesia Fajar Setio Adi menyampaikan, metode LiDAR yaitu menggunakan prinsip pantulan laser untuk mendeteksi dan menentukan jarak objek yang ada di permukaan bumi. Sehingga, dapat menghasilkan data yang lebih akurat.

“Outputnya yaitu data peta 3D yang memiliki koordinat yang akurat. Biasanya drone itu hanya menghasilkan foto yang akurasinya tidak begitu tinggi. Tetapi dengan adanya LiDAR, hasilnya lebih akurat,” terang Fajar Setio Adi.

Dia menyebutkan, di era sekarang alat tersebut sangat penting. Sebab, saat pandemi ini harus mengurangi interaksi banyak orang untuk menghindari kerumunan.

“Kalau biasanya untuk pemetaan itu butuh puluhan orang, dengan drone ini kita hanya memerlukan satu operator saja. Dan saat ini kebutuhan pemetaan dengan akurasi tinggi sudah sangat tinggi. Jadi, ini sangat penting,” jelas Fajar Setio Adi.

Regional Sales Manager Microdrones Australasia Syamsul Bahri melanjutkan, saat ini mayoritas pembuataan peta di Indonesia masih menggunakan cara tradisional, yakni menggunakan GPS dan total station.

“Drone ini mulai diaplikasikan, dan teknologi yang dibawa adalah teknologi yang terbaik di dunia dengan akurasi yang paling tinggi. Selain di perkotaan, teknologi ini juga banyak diaplikasikan di pertambangan,” papar Syamsul Bahri.

Syamsul Bahri menuturkan, drone LiDAR ini penggunaannya sangatlah efektif dan efisien dibandingkan teknologi konvensional. Sebab, dengan teknologi tersebut akan banyak penghematan pada saat mapping. Yakni, penghematan dari sisi waktu dan sumber daya manusia.

“Kalau dibandingakan dengan metode konvensional, metode LiDAR ini lebih canggih. Misalnya, untuk survei konvensional 1 kilometer persegi diperlukan lima orang dan butuh waktu satu minggu. Dengan drone ini hanya perlu waktu 10 menit terbang kita bisa dapat area 1 kilometer persegi dengan sangat detail,” banding Syamsul Bahri.

Koorprodi Teknik Geomatika UPNVY Ediyanto menambahkan, Geotronix Indonesia sebagai distributor Microdrones, merk drone pemetaan tercanggih di dunia, mempraktekkan sekaligus mentransfer ilmu kegunaan drone LiDAR ini dalam kegiatan pemetaan kampus UPNVY bersama mahasiswa Prodi Teknik Geomatika.

Mahasiswa bersama Tim Geotronix menggunakan wahana Microdrones dengan tipe md4-1000 untuk memetakan luasan +/- 14 hektar kampus UPNVY dalam waktu 30 menit dengan membawa sensor mdLiDAR1000 dan kamera foto.

“Hasilnya didapatkan foto udara dan data LiDAR yang terintegrasi dalam sekali terbang dengan akurasi data mencapai fraksi centimeter,” kata Ediyanto. (sce/cr1/pra/rg/ila)

Pendidikan