RADAR JOGJA – Ketua PW Fatayat NU DIJ Khotimatul Husna tak menampik adanya tindakan tak senonoh oleh Bambang Arianto. Tercatat setidaknya ada tiga korban yang sempat melapor kepadanya. Modusnya adalah menjadi responden dalam penelitian Bambang.

Aduan pertama masuk dan diterima pada Mei 2018. Korbannya adalah beberapa anggota PW Fatayat NU DIJ. Tindaklanjut setelahnya adalah pembentukan tim investigasi dan advokasi. Dibarengi dengan pengumpulan data dari para korbannya. 

“Fatayat mendapat aduan pertama kali Mei 2018. Sudah kumpulkan beberapa data chating dan rekaman suara dan kami teruskan ke UNU. Atas pertimbangan saat itu BA masih dibawa naungan UNU,” jelasnya ditemui di kampus UNU Jogjakarta, Selasa (4/8).

Pasca terkumpulnya bukti, PW Fatayat NU DIJ langsung menemui pihak Rektorat UNU Jogjakarta, 14 Mei 2018. Hasil dari pertemuan ini adalah diberhentikannya Bambang Arianto sebagai dosen tamu. 

Bukti terlampir menyajikan modus pelecehan seksual. Mulai dari penggunaan kalimat asing hingga menyinggung seksualitas. Seluruhnya dibalut dengan konsep metode penelitian.

“Chatting mengarah pada pelecehan ada kata swinger dengan modus penelitian. Ada yang langsung dengan akun pribadi ada yang menyaru sebagai istri,” katanya.

Penelitian tersebut mengangkat tema bertukar pasangan suami istri. 

Pemanfaatan akun istri juga wujud dari modus tersebut. Dengan berdalih curahan hati seorang istri atas tingkat laku suaminya. Ada pula tawaran menjadi responden dari penelitian ini.

Sayangnya aksi medio 2018 tersebut tidak berlanjut ranah hukum. Salah satu pertimbangan adalah belum lengkapnya bukti-bukti pelecehan seksual. Selain itu pelecehan secara fisik juga belum terjadi.

“Belum mencukupi diproses hukum pidana karena belum bertemu. Baru lewat WhatsApp dan chat. Tapi kami tetap lakukan pencegahan agar tak terjadi lagi,” ujarnya.

Pihaknya juga tetap melakukan pendampingan. Terlebih kasus masa lalu kembali terkuak ke ranah publik. Tak hanya untuk kasus terbaru tapi juga kasus lama. 

“Dulu teman-teman (korban Bambang) sudah bangkit. Lalu kasus muncul lagi. Ini bisa jadi trauma lagi. Ketakutan terlibat dalam kasus yang sekarang,” katanya.

Wakil Rektor UNU Jogjakarta Abdul Gofar menjamin Bambang tak akan bisa mengajar di kampusnya. Adanya catatan masa lalu ditambah kasus baru menjadi petimbangan utama. Selain mencoreng dunia pendidikan juga melanggar normal sosial. 

Walau begitu Gofar tak menampik sosok Bambang ingin mengajar di kampusnya. Terbukti dari upaya Bambang mengeyam pendidikan master akuntansi di UII.

“Awal 2018 ingin bergabung di Prodi Akutansi (UNU) tertolak karena masternya bukan akutansi dan basisnya ilmu politik. Sistem Dikti menolak karena profesinya peneliti. Pertengahan 2018 ada seperti itu, otomatis sudah terblok,” tegasnya. (dwi/tif)

Pendidikan