RADAR JOGJA – Merdeka Belajar yang diusung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makariem dituding liberal. Lebih mengacu sistem pendidikan di luar negeri, dibandingkan sistem pendidikan asli Indonesia. Tamansiswa salah satunya.

Hal tersebut disuarakan para pamong pendidikan yang tergabung dalam Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI (Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika), Sabtu (25/7).

Mereka menilai kebijakan tentang Merdeka Belajar mestinya tidak mengacu pada sistem luar negeri yang cenderung tanpa batas. Kegiatan bertema Ki Hadjar Dewantara: Mata Air Kebangsaan kerja sama PP PKBTS dan MPR RI ini turut dihadiri narasumber Taufik Basari selaku Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Anggota MPR RI sekaligus Pembina PP PKBTS Idham Samawi, serta anggota MPR RI Nurul Arifin.

Ketua Umum PKBTS Ki Prof Dr Cahyono Agus menyebut, kualitas pendidikan Indonesia saat ini terpuruk. Dikarenakan, kata dia, akibat adanya miss-manajemen. Sistem pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mengacu nilai-nilai luhur Tamansiswa. “Sebaliknya cenderung mengarah liberalisasi,” ungkapnya.

Maka jika sekarang pendidikan di Indonesia meniru konsep Australia, Korea atau Finlandia, rasanya bertolak belakang mengingat Tamansiswa sejak seabad silam sudah mengadopsi budaya dasar nusantara. “Kalau sekarang mencari-cari berarti mundur satu abad,” kata Prof Cahyono.

Sebagai bentuk keprihatinan atas keberlangsungan sistem pendidikan nasional dan nasionalisme, PKBTS menyampaikan enam poin pernyataan sikap yang juga ditandatangani Sekretaris Umum PKBTS, Ki Hazwan Iskandar Jaya M Med.

Dalam kesempatan itu, mereka juga mengritisi pendidikan jarak jauh yang menggunakan teknologi infomasi pembelajaran modern pada masa darurat Covid-19.

Mereka mengingatkan, tetap harus mampu mengasah kecerdasan otak, kehalusan budi pekerti dan keterampilan tangan, melalui sistem among dengan pola momong, ngemong dan among secara asah, asih, asuh.

Menurut mereka, sekolah dari rumah pada masa pandemi Covid-19 perlu diimbangi harmonisasi Tri-Pusat Pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, serta melalui Pendidikan Semesta. Artinya, setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah pamong. “Itulah yang dikembangkan Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Anggota MPR RI sekaligus Pembina PP PKBTS Idham Samawi mengigatkan, Indonesia yang berpenduduk 270 juta jiwa tetap utuh.

Indonesia yang dibangun lebih dari 700 suku bangsa lebih dari 1.000 bahasa tetap bertahan sampai sekarang. “Karena Pancasila yang digali dari bumi Indonesia tidak bertentangan dengan budaya yang beragam,” tutupnya. (naf/ila)

Pendidikan