RADAR JOGJA – Laboratorium Ilmu Pemerintahan (Lab IP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jogja  menggelar Pelatihan Jurnalistik. Berbeda dengan tahun sebelumnya, workshop  I am the Future Journalist ini diadakan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting.

Acara diikuti 261 mahasiswa dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UMY. Workshop diadakan selama dua hari, Senin (13/7) dan Selasa (14/7).

Koordinator Lab IP UMY Sakir Sakir Ridho Wijaya, SIP, MIP mengatakan, mahasiswa angkatan 2019 ini tidak hanya mendapatkan materi dasar-dasar jurnalistik. Melainkan juga praktik wawancara langsung bersama narasumber tamu yang dihadirkan.

“Acaranya seru, materinya asyik sekali. Selain menambah wawasan, acara ini sekaligus dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa terkait teknik dan pengetahuan dasar jurnalistik,” katanya melalui virtual zoom usai acara hari pertama Senin (13/7).

Namun demikian, Sakir mengungkapkan, pelaksanaan soft skill jurnalistik tahun ini terpaksa harus dilaksanakan secara online. Padahal rencana sebelumnya pelatihan jurnalistik akan disertai dengan praktik liputan langsung di lapangan.

“Namun karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terkait Covid-19 dan tidak adanya izin dari pihak kampus maka pelaksanaan pelatihan diselenggaarakan lewat daring,” ujarnya.

Untuk itu, sebagai pengganti kuota selama mengikuti acara, mahasiswa mendapat subsidi sebesar Rp 75.000. Uang subsidi bisa diambil di Lab IP UMY bersama sertifikat, seminar kit, dan ID card yang telah disiapkan. “Itu sudah menjadi hak teman-teman (mahasiswa) monggo diambil,” jelas sakir.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Ilmu Pemerintahan UMY Dr Muchamad Zaenuri, MSi dalam sambutannya sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Zaenuri mengatakan, ke depan mahasiswa akan diberi keleluasaan untuk menulis tugas akhirnya dalam bentuk tiga karya tulis. Yakni skripsi, menulis karya magang, dan penulisan artikel jurnal.

“Mahasiswa diberi opsi, tidak perlu nulis skripsi tebal-tebal lagi. Namun bisa dalam bentuk artikel singkat, yang jelas bisa di-publish. Karena setiap jurnal berbeda-beda,” katanya.

Dia berharap, meskipun berjarak, berbeda tempat, mahasiswa diminta tetap fokus mengikuti pelatihan hingga selesai. Juga menjaga suasana belajar tetap kondusif.

“Era komunikasi ke depan akan banyak menggunakan media online, sehingga jarang bertatap muka secara fisik. Semester depan, 80 persen kemungkinan perkuliahan masih tetap online. Tinggal tunggu SK rektor saja,” ungkapnya.

Senada, Sekretaris Prodi IP UMY Muhammad Eko Atmojo saat membuka acara pada hari kedua mengatakan, pelatihan jurnalistik merupakan soft skill yang wajib diikuti setiap mahasiswa. Sebab di masa mendatang, mahasiswa bukan hanya dituntut untuk cakap berbicara (public speaking), tetapi juga bisa menulis dengan benar.

“Menghadapi dunia kerja tidak hanya lembar ijazah yang menjadi acuan, tetapi keterampilan apa yang dimiliki. Untuk itu setiap soft skill wajib diikuti mahasiswa,” ujarnya.

Materi dasar-dasar jurnalistik disampaikan wartawan senior Radar Jogja Adib Lazwar Irkhami. Sedangkan materi seputar jurnalistik online oleh CEO Radar Jogja Digital Reren Indranila.

”Peserta di hari pertama lebih aktif bertanya, sedangkan di hari kedua peserta lebih aktif mengajukan hasil tulisannya untuk dibedah. Secara umum kualitasnya sudah baik,” jelas Reren.

Sementara itu, sebagai narasumber tamu, Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji berterima kasih telah dilibatkan dalam workshop ini. Reno berharap, pelatihan serupa bisa dikembangkan untuk perguruan tinggi lain di wilayah Jogjakarta.

”Kami sangat senang, Desa Condongcatur jadi ikut dikenal. Kami terbuka dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengetahui lebih jauh tentang pemerintah desa khususnya proses seleksi perangkat desa di Condongcatur,” katanya.

Hari kedua pelaksanaan pelatihan soft skill jurnalistik, mahasiswa diminta menulis tentang pemberdayaan masyarakat di Dusun Joho. Dukuh Joho Retnaningsih hadir sebagai narasumber tamu. (*/naf/ila)

Pendidikan