RADAR JOGJA – Saat ini hanya dua metode yang digunakan untuk deteksi virus Covid-19 yakni rapid test dan uji PCR. Dari kedua alat deteksi tersebut, tingkat akurasi rapid test hanya 30 persen dan PCR 75 persen. Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Suparta mengembangkan suatu alat tes yang bisa mendeteksi tingkat akurasi virus tersebut melalui teknologi radiografi digital.

“Alat radiografi digital bisa membuktikan tekena virus atau tidak jika dilihat dari struktur paru-parunya. Bila terkena virus corona maka paru-parunya menjadi rusak. Intinya lewat radiografi, signifikansinya sampai 95 persen,” jelasnya.

Dosen Prodi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM ini mengatakan, tidak semua rumah sakit memiliki teknologi radiografi digital. Dari sekitar 3.000 rumah sakit di Indonesia hanya rumah sakit tipe A yang mendapat bantuan alat ini dari pemerintah.

“Hanya rumah sakit tipe A diberi alat radiografi digital. Sedangkan yang lain tidak ada. Bisa diprediksi alat radiografi digital sangat sedikit. Sehingga menjaadi motivasi besar saya sejak lama melakukan riset alat radiografi digital dengan harga bisa dijangkau,” katanya.

Bayu belum mau menyebut harga untuk alat radiografi buatannya, namun dia meyakinkan bahwa harga alat radiografi buatannya jauh lebih lebih murah dari alat yang sama buatan luar negeri yang diimpor.

“ Impian saya, kita bangga dengan produk inovasi kita sendiri, bayangkan 9000 puskesmas bisa memilikinya karena harganya terjangkau,” ungkapnya.

Bayu menuturkan penelitiaan riset radiografi digital ini sudah dia lakukan sejak 30 tahun lalu. Bahkan penelitiannya sudah diluncurkan 15 tahun lalu yang dia dedikasikan sebagai produk unggulan UGM. Namun hingga sekarang belum sempat dihilirisasi. Pada 20 Mei lalu diluncurkan oleh presiden Joko Widodo bersama dengan puluhan produk inovasi lainnya untuk membantu penanggulangan wabah Covid-19.

“Ketika diluncurkan, saya pikir ini tidak main-main. Saya bersama tim bekerja keras menyempurnakan alat ini,” katanya.

Hingga saat ini sudah ada tiga alat radiografi digital buatannya yang diproduksi untuk mendapatkan izin produksi, izin edar dan ujicoba ke pengguna. Menggunakan merek Madeena atau Made in Ina (Indonesia), alat ini sudah dipakai di rumah sakit Tabanan Bali. Selanjutnya dua alat yang lain digunakan sebagai syarat tahapan proses mendapatkan ijin produksi massal.

“Soal hilirisasi dan komersial sepenuhnya saya serahkan ke pemerintah dan stakeholder bidang kesehatan. Kami sudah mengajukan izin produksi dan izin edar, apalagi Presiden sudah meminta untuk produk inovasi monitoring covid dipermudah izinnya,” katanya.

Bayu yakin alat buatannya mampu menentukan dan mengidentifikasi prognosis pasien yang terkena Covid-19. Selain itu menurut dia alat tersebut sangat adapatif dengan teknologi 4.0 dan aman bagi pasien maupun tenaga medis.

“Sangat aman bagi pasien karena dosis radiasi dibuat serendah mungkin. Alat ini dikontrol dengan komputer, lalu sinar X memancarkan ke tubuh pasien, terusan radiasi ditangkap detektor dan dihubungkan ke layar monitor, lalu diolah radigrafer diberikan ke tenaga fisika medik. Setelah itu akan transfer ke dokter secara digital sesuai permintaan,” bebernya.

Salah satu keunggulan alat radigrafi digital ini, lanjut Bayu, terhubung dengan big data. Dengan catatan, rumah sakit atau puskesmas memiliki akses internet. Data hasil radiografi pasien bisa dicek dari jarak jauh bila terhubung dengan sistem kesehatan di setiap pusat layanan kesehatan. (sky/tif)

Pendidikan