RADAR JOGJA – Nama Rayndra Syahdan kian moncer. Terutama sejak dia didapuk sebagai ketua Forum Komunikasi BUMDes sekaligus ketua Badan Ekonomi Kreatif Kabupaten Magelang belum lama ini. Dialah penggerak para pemuda milenial di bawah bendera Cipta Visi Grup.

Usaha agrobisnisnya dari hulu ke hilir. Banyak bidangnya. Di antaranya, produksi sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat. Lalu penggemukan sapi dan breeding domba. Saat ini tak kurang 20 ekor sapi dan 350 kambing yang dikelolanya di dua kandang. Di daerah Kaliangkrik dan Tegalrejo. Keduanya masuk wilayah Kabupaten Magelang. Bersama dua sejawatnya, Ismi dan Faizal Bayu Kusworo, Rayndra mengembangkan usaha perdagangan sarana produksi peternakan (sapronak), tembakau, hingga penggilingan sampah.

BREEDING: Rayndra Syahdan di kandang ternak domba miliknya. (POLBANGTAN YOMA FOR RADAR JOGJA)

Kisah sukses Rayndra menjadi bukti ampuhnya program Penumbuhan Wirausahaan Muda Pertanian (PWMP), Kementerian Pertanian. Ya, semua itu berawal ketika Rayndra mendapat suntikan dana lewat program PWMP pada 2016 silam. Berlanjut 2018, Rayndra kembali mendapat bantuan program PWMP untuk pengembangan usahanya. Bahkan dari situ, kini dua rekannya mampu menggerakkan usaha sendiri secara mandiri.

Manajemen pemasaran ganda membuat usahanya kian maju. Hasil produksi pertanian maupun peternakan dijual secara konvensional maupun online. Jaringan konsumennya tak lagi hanya wilayah Magelang. Tapi sudah merambah di banyak kota/kabupaten lain.

Secara online, Rayndra pernah mencoba memasarkan produk-produk usahanya lewat aplikasi marketplace. Tapi hasilnya kurang optimal. “Akhirnya saya coba pakai media sosial. Ternyata hasilnya lebih efektif,” ujarnya, Senin (12/5/2020).

Rayndra aktif membuat banyak grup dengan aplikasi Whatsapp yang berisi calon-calon konsumennya. Alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) itu juga gencar mencari reseller produk hasil usahanya. “Misal ada orang yang bisa menjualkan domba untuk aqiqah atau kurban, per ekor saya kasih fee Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu,” katanya.

Simbiosis mutualisme itulah yang menjadikan usaha Rayndra kian laris manis. Omset seluruh unit usahanya pun mencapai angka yang cukup fantastis. Yakni mencapai Rp 200 juta per bulan. Pundi-pundi rupiahnya kian melimpah saat mendekati momen Idul Adha. Saat itu Rayndra akan memasok lebih banyak kambing jantan untuk keperluan kurban. “Ke depannya saya berharap bisa ekspor. Karena semua hasil produksi sangat potensial untuk ekapor,” sambungnya.

Tekad Rayndra mewujudkan cita-citanya kian bulat setelah mendapat dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Magelang. Pun Kementerian Pertanian.

Melihat kiprah Rayndra di bidang pertanian dan peternakan, Bupati Magelang Zaenal Arifin pun angkat jempol. Zaenal berharap, ke depan lebih banyak lagi anak muda yang bisa membina masyarakat dengan menghasilkan produk-produk potensial yang ada di desa ke level dunia.

Hal itu sejalan dengan salah satu program unggulan Kementerian Pertanian di bawah komando Menteri Syahrul Yasin Limpo (SYL). Yakni program GraTiEks (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor) untuk produk-produk pertanian dan peternakan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi menjelaskan, GraTiEks merupakan program utama Kementerian Pertanian yang digagas Mentan SYL untuk menyatukan kekuatan seluruh pelaku pembangunan pertanian. Dari hulu hingga hilir. Dengan tujuan menciptakan jutaan lapangan kerja.

Oleh karena itu pula, Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP selalu mengimbau para penerima bantuan program PWMP terus mengembangkan produk usaha skala ekspor. Demi membangun pertanian Indonesia yang lebih maju dan mandiri. (*/yog/ila)

Pendidikan