RADAR JOGJA- Ratusan mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) telah dipulangkan ke kampung halaman mereka sejak wabah virus korona (Covid-19) mulai merebak Maret lalu.

Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP menginstruksikan seluruh mahasiswa menjalani learning from home (LFH) selama masa pandemi Covid-19. Kebijakan tersebut sebagai tindak lanjut instruksi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr.

Selama LFH, para mahasiswa diwajibkan melakukan pendampingan kegiatan pertanian di daerah masing-masing. Yang tersinergi dengan program Kostra Tani di Baqlai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat.

Menurut Dedi, pendampingan mahasiswa sebagai salah satu upaya turut menjaga dan meningkatkan produksi pertanian selama masa pandemi Covid-19 saat ini. “Dan juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani selama darurat Covid-19,” tuturnya lewat video conference ketika itu.

Kelompok tani dan gabungan kelompok tani adalah sasaran para mahasiswa. Seperti dilakukan Ratna Laeli Choiriyah. Mahasiswi Prodi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, Polbangtan YoMa, itu melakukan pendampingan terhadap peternak sapi di Desa Gunung Sari, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Dengan bimbingan seorang penyuluh, Ali Mukdin, Ratna melakukan penanganan retensio secudinae pada sapi bali (Bossondaicus). “Saya membantu Pak Ali melepaskan pertautan antara karunkula dengan kotiledon,” ungkapnya.

Retensio secudinae atau lebih dikenal dengan retensio plasenta adalah kondisi di mana selaput fetus (plasenta) tertahan di uterus lebih dari 8 jam setelah partus. Bahkan sampai 12 jam. Itu terjadi akibat kegagalan pelepasan vili kotiledon fetal dari kripta karunkula maternal. Tidak ada darah yang mengalir ke vili fetal setelah fetus keluar dan kordaum bilikalis putus. Sehingga vili tersebut berkerut dan mengendur terhadap kripta karankula. Sementara uterus terus berkontraksi dan sejumlah darah yang tadinya mengalir ke uterus menjadi berkurang.

Karunkula meternal pun mengecil karena suplai darah berkurang sehingga kripta pada karunkula berdilatasi. “Semua hal tersebut mengakibatkan vili kotiledon lepas dari kripta karankula, sehingga plasenta terlepas,” jelasnya.

Pada retensi plasenta, pemisahan dan pelepasan vili fetalis dari kripta maternal terganggu, sehingga masih terjadi pertautan. Retensio plasenta biasanya berlanjut dengan terjadinya infeksi di dalam uterus dan dapat menyebabkan menurunnya kesuburan atau infertilitas berupa matinya embrio yang masih muda. Itu terjadi lantaran pengaruh mikroorganisme atau kegagalan implantasi, yaitu terganggunya perlekatan embrio pada dinding uterus.

Persentase tingginya kejadian retensio sekundinae disebabkan beberapa factor. Di antaranya, sistem manajemen kandang yang kurang baik, kurangnya exercise (latihan) pada sapi yang sedang bunting, dan kualitas pakan yang rendah. (*/yog)

Pendidikan