RADAR JOGJA- Wabah virus korona (Covid-19) tak menyurutkan semangat mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) selama mendampingi para petani/peternak. Semua itu demi mendukung program Kementerian Pertanian dalam upaya menjaga ketahanan pangan nasional.

Demikian pula yang dilakukan Dwi Nuryati, yang melaksanakan tugas akhir di Desa Sukorejo, Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sukorejo menjadi pilihan Dwi dalam pengabdian masyarakat lantaran memiliki potensi besar pada peternakan domba dan kambing. “Permintaan pasar cukup tinggi. Ini peluang emas untuk mendongkrak kesejahteraan peternak,” katanya.

POTENSIAL: Dwi Nuryati di kandang kambing peternak Desa Sukorejo, Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. (POLBANGTAN YOMA FOR RADAR JOGJA)

Atas bimbingan dosen Dr Susanto MSi, Dwi terus meyakinkan para peternak domba dan kambing di Sukorejo untuk terus mengembangkan usaha. Selama wabah Covid-19 masih berlangsung. Pendampingan peternak telah dilakukan Dwi sejak sebelum Covid-19 mewabah.

Tak kurang 480 ekor domba tersebar di Sukorejo. Dwi memilih teknologi punyakoti sebagai metode deteksi kebuntingan pada domba sebagai tema tugas akhirnya.

Teknologi punyakoti merupakan salah satu metode deteksi kebuntingan yang sangat murah, mudah, sederhana, serta tidak invasif dari sudut pandang kesejahteraan hewan. Alat dan bahan yang dibutuhkan juga sangat mudah dapatkan di daerah sekitar. Seperti cup (cawan petri), kapas (kertas saring), spuit, biji kacang hijau, aquadest (air), dan urine ternak yang akan dideteksi kebuntingannya.

Prosesnya pun sangat sederhana. Mula-mula siapkan semua alat dan bahan. Kemudian letakkan kapas ke dalam cawan petri. Rendam biji kacang hijau selama 5 menit terlebih dahulu untuk mempercepat proses pertumbuhan. Setelah itu letakkan 15 biji kacang hijau di atas kapas. Campurkan 3 ml air dan 12 ml urine domba yang akan dideteksi kebuntingannya secara terpisah.

Setelah semua tercampur, siramkan larutan urine dan air tadi ke dalam cawan petri. Tunggu sampai 3 hari. Jika biji kacang hijau tumbuh secara sempurna, berarti ternak tersebut tidak bunting. Sebaliknya, jika biji kacang hijau tidak tumbuh (pertumbuhannya terhambat), ternak tersebut dapat dikatakan bunting. “Ini karena di dalam urine ternak bunting mengandung hormon ABA (Abcisic Acid) yang diduga dapat menghambat pertumbuhan tanaman,” jelas Dwi.

Mengingat adanya pandemi Covid-19, pendampingan peternak pun dilakukan dengan anjangsana ke kandang-kandang ternak pribadi. Untuk memudahkan peternak mengakses informasi, Dwi juga menyajikan tutorial melalui Youtube maupun Whatsapp.

“Alhamdulillah saya merasa senang. Meski sedang ada wabah, mahasiswa Polbangtan YoMa masih mau menyempatkan diri membantu dan mendampingi saya mengembangkan usaha ternak domba,” ungkap Gholib, salah seorang peternak Desa Sukorejo.

Menurut Gholib, teknologi punyakoti sangat bermanfaat serta mudah dipahami. “Setelah kami coba ternyata memang terbukti teknologi punyakoti sangat akurat untuk mendeteksi kebuntingan domba,” katanya.

Gholib kian bahagia saat mengetahui hasil uji punyakoti terhadap 10 ekor dombanya. Hasilnya 9 positif bunting.

Sebagaimana diketahui, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr terus mendorong para petani/peternak di Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Terlebih para petani milenial.

Dedi mengajak generasi muda bergelut di dunia pertanian dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. “Ayo sukseskan program Pak Mentan Syahrul Yasin Limpo untuk menciptakan sejuta petani milenial di Indonesia,” ajaknya saat video conference dengan jajaran civitas Polbangtan YoMa belum lama ini.  (*/yog/ila)

Pendidikan