RADAR JOGJA- Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang dimotori Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian terbukti ampuh mencetak banyak petani milenial.

Lihat saja geliat kelompok PWMP wilayah koordinasi Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa). Di antaranya, lima kelompok PWMP Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, yang eksis sejak 2018 sampai sekarang. Antara lain: Kelompok Budidaya Jamur Tiram; Lumbung Benih Indonesia; Usaha Yoghurt Homemade; Usaha Peternakan/Pertanian Terpadu; serta Bina Usaha Sejahtera Emping Melinjo.

Usaha kelima kelompok usaha tersebut terus berkembang sejak mendapat suntikan dana PWMP Kementerian Pertanian. Senilai Rp 30 juta per kelompok. ”Hasil usaha kelompok terus meningkat dan semakin luas,” ujar Sumartono, panitia PWMP Unsoed Purwokerto.

BUDIDAYA JAMUR: Kumbung Kelompok Usaha Budidaya Jamur Tiram PWMP Unsoed. (POLBANGTAN YOMA FOR RADAR JOGJA)

Budidaya ayam petelur, misalnya. Kelompok Peternakan/Pertanian Terpadu yang digawangi Janu Mujiyono, Noviana Ernawati, dan Kurniawan Jaka Putra, itu kini mampu meraup omzet Rp 25 juta per bulan. Begitu juga usaha budidaya jamur tiram yang dipelopori Agus Andrianto, Ali Hasan, dan Ani Herawati. Omzetnya Rp 15 juta per bulan.

Selain mendapat bantuan permodalan, kelima kelompok usaha milenial tersebut juga mendapat fasilitas pelatihan. Serta pembinaan berjenjang secara berkesinambungan. Semua fasilitas diberikan oleh para dosen/pengampu masing-masing. Dalam hal ini Unsoed menjadi perguruan tinggi mitra pelaksana PWMP. Sedangkan Polbangtan YoMa sebagai koordinator wilayah PWMP.

Kelompok PWMP Unsoed sering dilibatkan dalam kegiatan pameran. Baik tingkat wilayah maupun nasional. Lewat pameran itulah para pengusaha muda bisa berbagi pengalaman dan mengembangkan jaringan. Khususnya antarsesama kelompok PWMP se-Indonesia.

Melihat sukses kelima usaha tersebut, program PWMP Unsoed terus diperluas. Pada 2019 tambah tiga kelompok. Yakni usana budidaya entok; bibit tanaman; dan obat herbal. Tiap kelompok mendapat bantuan dana Rp 35 juta.

Tahun ini ada lagi enam kelompok PWMP Unsoed yang mendapat bantuan modal PWMP. Masing-masing Rp 28 juta. Yaitu usaha pengembangan kopi, peternakan ayam dan domba, hidrophonik, dan gula kelapa. ”Pada umumnya bantuan dana yang diperoleh dipergunakan untuk menambah kapasitas produksi. Berupa peralatan dan sarana/prasarana produksi,” jelasnya.

Sumartono menegaskan, program PWMP sangat membantu para alumni Unsoed. Untuk pengembangan usaha. Sekaligus membuka peluang peningkatan sektor ekonomi bagi masyarakat.

Kepala BPPSDMP Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr menyatakan, untuk menumbuhkan minat wirausaha di kalangan generasi muda tak cukup hanya dengan pembinaan mental entrepreneurship. Tapi harus dibukakan kesempatan wirausaha seluas-luasnya. Serta disokong bantuan modal. ”Karena tujuan PWMP memang menarik pemuda, mahasiswa, dan sarjana untuk mendukung pembangunan sektor pertanian,” tuturnya belum lama ini.

Sementara itu, Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP menambahkan, program PWMP dirancang untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai center of agripreneur development. Berbasis inovasi agribisnis dengan bantuan modal usaha. “Program ini berlangsung tiga tahap selama tiga tahun. Tahun pertama tahap penyadaran, lalu pengembangan, kemudian kemandirian,” jelasnya. (*/yog/ila)

Pendidikan