RADAR JOGJA – Animo generasi muda untuk berwirausaha di bidang pertanian terus meningkat. Ini berkat Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) sejak 2016.

Dengan PWMP, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) memiliki target mencetak satu juta petani milenial di berbagai daerah se- Indonesia.

Guna mendukung program tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi terus mendorong Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) untuk memperkuat kerja sama dengan perguruan tinggi mitra pelaksana PWMP. “Ayo kita dukung Pak Mentan SYL untuk menciptakan sejuta petani milenial di seluruh Indonesia,” ujarnya kepada jajaran Polbangtan Yogyakarta Magelang (YoMa) belum lama ini.

PETANI MILENIAL: Alumni PWMP Undip Semarang mencukur bulu domba di Bangsal Wedhus Marimulyo, Klaten, Jawa Tengah. (POLBANGTAN YOMA/RADAR JOGJA)

Polbangtan YoMa menindaklanjuti instruksi tersebut dengan menggandeng beberapa perguruan tinggi. Salah satunya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip merupakan salah satu perguruan tinggi mitra yang ditunjuk untuk menyukseskan Gerakan Satu Juta Petani Milenial. Sejauh ini FPP Undip telah mencetak 45 orang alumni yang tergabung dalam 15 unit usaha bidang pertanian.

Pendampingan alumni FPP Undip dalam kegiatan PWMP didukung tiga staf dosen pengajar sebagai pembimbing lapangan selama tiga tahun. Dimulai fase penyadaran, pengembangan, dan kemandirian. PWMP mendorong alumni sesuai dengan misi FPP Undip menjadi fakultas yang unggul dalam bidang peternakan dan pertanian. Dengan mentransformasikan budidaya tradisional ke pertanian modern. Sesuai dengan perkembangan era IT 4.0.

Bidang usaha yang ditekuni alumni PWMP FPP UNDIP meliputi usaha dari hulu ke hilir. Seperti penggemukan sapi potong, pakan ternak dan pupuk organik, penggemukan kambing dan domba, budidaya tanaman hias, sayuran hidroponik, serta pengolahan susu sapi segar. Di antaranya, ToBe Farm Investama di Temanggung yang digawangi Pramudita Dian, Pratiwi Eka Putri, dan Rizki Fajar Fitriyanto. Serta Bangsal Wrdhus Marimulyo di Klaten yang dibidani Mardiyono, Catur, dan Eli.

Program PWMP juga merupakan wujud nyata dukungan perguruan tinggi terhadap peningkatkan produksi dan penyediaan pangan di Indonesia. Khususnya pada masa penanganan wabah Covid-19.

Bidang pertanian terbukti menjadi salah satu bidang yang bertahan di tengah wabah Covid-19. Para petani seolah tak terpengaruh dengan wabah Covid-19. Setiap hari mereka terjun ke sawah. Pun demikian para peternak. Merumput, mengolah pakan hijauan, hingga membersihkan kandang ternak menjadi agenda harian mereka. Tak terkecuali para alumni penggerak PWMP. Mereka tetap aktif di kandang dan mengelola tanaman pangan.

Mereka sadar bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan peluang yang sangat besar untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani. Apalagi saat ini masyarakat semakin sadar tentang asupan gizi yang seimbang. Terlebih di masa pandemi wabah Covid-19 seperti sekarang.

Permintaan produk peternakan dan pertanian semakin tinggi. Terutama untuk konsumen keluarga. Hal ini juga dirasakan kelompok binaan PWMP FPP UNDIP yang menggunakan teknologi informasi secara online untuk pemasaran produk usaha. Seperti halnya yang dilakukan petani milenial ToBe Farm Investama dan Bangsal Wedhus Marimulyo.

Hastag #dirumahaja terbukti sangat ampuh meningkatkan permintaan konsumsi pangan rumah tangga. Maka terjadilah simbiosis mutualisme.

Distribusi produk pertanian secara online memudahkan konsumen mendapatkan kebutuhan pangan. Sekaligus mengurangi kepanikan dan kekhawatiran mereka dari penularan Covid-19. Konsumen tak perlu keluar rumah. Kebutuhan pangan mereka, khususnya produk pertanian dan peternakan, akan diantar sampai tujuan.

Dari situlah pendapatan petani/peternak yang memanfaatkan teknologi informasi tetap stabil di tengah pandemi Covid-19. Bahkan terus meningkat.

Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP optimistis, selama masa pandemi Covid-19 stok kebutuhan pangan masyarakat mencukupi. Semakin tinggi minat generasi milenial terjun di dunia pertanian, maka pemenuhan produk pangan nasional lebih terjamin.

Rajiman berharap, peran petani milenial terus berlanjut hingga masa pandemi Covid-19 selesai. Bahkan sampai masa pemulihan dampak Covid-19 dan masa yang akan datang. “Sektor pertanian tak akan pernah ada matinya. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi peluang besar untuk mendongkrak kesejahteraan petani,” tutur Rajiman. (*/yog/ila)

Pendidikan