RADAR JOGJA- Pandemi virus korona (Covid-19) menghantam sektor ekonomi Indonesia. Kondisi ini tak bisa terelakkan. Terlebih setelah diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, serta Surabaya dan sekitarnya. Kebijakan tersebut secara tidak langsung berakibat terputusnya  rantai perekonomian masyarakat.  Salah satunya  bidang peternakan. Fluktuasi dan deflasi harga produk peternakan menjadi masalah bagi produsen maupun konsumen.

Hal itulah yang saat ini juga dirasakan petani milenial alumni Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa)  ”Pitik Farm” yang bergerak di bidang usaha pemeliharaan ayam dan penyedia ayam potong. Berupa karkas maupun ayam hidup.

PSBB berdampak pada penutupan akses jalan. Sehingga Pitik Farm tidak dapat mengirim ayam ke daerah-daerah tersebut. Akibatnya, tingkat permintaan menurun drastis. “Mungkin para pembeli (konsumen, Red) takut datang ke pasar untuk belanja ayam karena khawatir terpapar Covid-19,” duga Dina Rossiana Pitri, salah seorang pengelola Pitik Farm.

Sebagaimana diketahui, beberapa minggu ini harga ayam potong di tingkat peternak sempat mengalami titik terendah hingga Rp 6 ribu – Rp 7 ribu per kilogram. Sementara harga pokok penjualan (HPP) ayam potong   terendah mencapai Rp 17 ribu per kilogram.

Penurunan harga tersebut diiringi dengan merosotnya permintaan pasar. Pelaku usaha penyedia daging ayam pun merugi. Stok ayam hidup di kandang pun menumpuk. “Itulah penyebab harga ayam anjlok,” ungkapnya.

Padahal, dalam kondisi normal, dengan HPP terendah saja sudah cukup menguntungkan bagi penyedia ayam potong maupun konsumen.

Dina bersama dua sejawatnya, Alia Puji dan Ika Nur, lantas menyusun strategi baru pemasaran. Agar arus keuangan dan kontinuitas produksi Pitik Farm tetap terjaga selama masa pandemi Covid-19.

LAYANAN PESAN ANTAR: Armada Pitik Farm siap melayani konsumen sampai ke tempat tujuan. (POLBANGTAN YOMA FOR RADAR JOGJA)

Mereka sepakat menjual ayam potong secara online.  Juga melayani pesan antar ke daerah yang mudah dijangkau. “Layanan penjualan ini setidaknya bisa menjadi solusi bagi pembeli (konsumen), sehingga mereka bisa tetap berada di rumah saja,” ujar Dina.

Pitik Farm juga tetap melaksanakan pemeliharaan ayam broiler dengan meningkatkan biosecurity.  Demi menjaga ayam tetap sehat. Sehingga walaupun kegiatan panen tidak tepat waktu, peternak tetap memiliki hasil.

Direktur Polbangtan YoMa Dr Rajiman MP terus mendorong para wirausahawan muda pertanian untuk mengambil langkah-langkah antisipatif selama pandemi Covid-19.

Penyedia ayam potong harus memiliki strategi yang jitu. Agar keberlangsungan usaha terus berjalan. Serta untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. “Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Sehingga sektor ekonomi dan usaha pertanian bisa bangkit lagi,” harapnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MAgr pun tak henti-hentinya menyemangati kaum milenial yang bergelut di beragam usaha pertanian maupun peternakan. Dedi berpesan agar para wirausahawan muda pertanian tak patah arang menghadapi keadaan. “Generasi milenial pertanian harus tetap produktif selama masa pandemi Covid-19. Sektor pertanian harus terus berjalan,” imbaunya.

Hal itu sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam rangka menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat di seluruh Indonesia.(*/yog)

Pendidikan