MAGELANG – Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM diraih Modul Belajar Berbasis Riset (BBR) Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Modul karya dari tim yang diketuai Prof Dr Sukarno Msi tersebut mendapat sertifikat per tanggal 1 April 2019. Itu setelah menunggu sekitar lima bulan sejak diajukan pada 1 Oktober 2018 lalu.”Tentu kami bangga, karena modul ini hasil dari kerja keras tim selama sekitar satu tahun pembuatan,” kata Prof Dr Sukarno MSi kemarin.

Dekan FKIP Untidar itu menuturkan, awal mula lahirnya modul BBR ini berdasarkan visi dan misi Untidar. Yakni universitas berbasis riset dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kewirausahaan. Kala itu Rektor Untidar Prof Dr Cahyo Yusuf MPd yang mencetuskan visi misi ini dan masih berlaku hingga sekarang sudah rektor yang baru, Prof Dr Ir Mukh Arifin MSc. “Visi itu kemudian berkembang menjadi ide dan pendalaman serta pembuatan modul BBR,” tuturnya.

Modul BBR berangkat dari identifikasi masalah. Salah satunya proses pembelajaran yang masih banyak konvensional, yakni menitikberatkan pada guru/dosen sebagai satu-satunya sumber belajar. Padahal, kegiatan belajar mengajar selalu berubah seiring perkembangan zaman.

Di abad 21 ini, proses pembelajaran konvensional sudah tidak sejalan dengan perkembangan zaman. Maka, proses pembelajaran mulai bergeser ke student center learning. “Yakni kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada keaktifan mahasiswa,” jelasnya.

Di beberapa negara maju, seperti Amerika Serikat, Belanda, dan Australia, proses kegiatan belajar mengajar berbasis riset menjadi alat atau sarana menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan hari ini melalui kemampuan riset yang terukur.

Melalui BBR ini, digunakan paradigma dan ikuti langkah atau pemikiran riset, dari identifikasi dan perumusan masalah, kajian, solusi, penyimpulan hingga menyusun implikasi. “Istilahnya kita belajar berpikir tingkat tinggi, tidak hanya hafal dan mengerti saja, tapi juga bisa menganalisis,” ungkapnya.

Dalam menyusun modul tersebut, Sukarno bersama empat dosen lainnya. Yakni Prof Dr Cahyo Yusuf MPd, Dr Sri Haryati MPd, Sri Sarwanti SPd MHum, dan Siswanto SPd MPd. Sebelum menjadi modul, tim mengujicobakan terlebih dahulu dan diseminarkan dengan hasil positif.

Setelah ini, akan diadakan pelatihan ke dosen sehingga dosen bisa menerapkannya ke mahasiswa. Dalam praktiknya nanti, akan dilakukan kajian dengan hasil dibuat jurnal ilmiah. “Selanjutnya kami sempurnakan, misal untuk belajar jarak jauh,” tandas Sukarno.(dem/din/mg2)

Pendidikan