RADARJOGJA.CO.ID – Film merupakan media komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan. Keunggulan media film tak bisa dianggap remeh dibanding media lain. Untuk menjaga eksistensi perfilman di tanah air, Asosiasi Pengkaji Film Indonesia (Kafein) bekerjasama dengan Program Studi Ilmu Komunikasi UMY menggelar Konferensi Film Indonesia. Acara digelar selama tiga hari, dari Selasa (28/8) hingga Kamis (31/8) di Amphitheater Gedung KH Ibrahim lantai 5 Kampus Terpadu UMY.

Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Dr Seno Gumira Ajidarma mengatakan Konferensi Film Indonesia merupakan even penting. Sebab, even ini merupakan kali pertama diselenggarakan oleh Kafein. “Bukan saja bidang ilmu tapi perkembangan film,” kata Seno.

Menurutnya, ada perbedaan antara pengkaji dan kritikus. Kritikus seringkali diposisikan sebagai orang yang mengerti segalanya. Karena tugasnya setelah mempertimbangkan adalah menentukan baik buruk sebuah film. Namun demikian, keberadaan kritikus film merupakan bagian penting dalam sosialisasi film.

“Kritikus film itu ada agar dapat hadir sebagai bagian dari wacana sosial budaya secara proporsional,” jelas Seno.

Baginya, keberadaan kritikus film untuk mengimbangi mesin promosi yang penuh selubung manipulasi maupun mendekatkan jarak ketika sebuah film menghadirkan bahasa visual baru yang belum dikenal. Berbeda dengan pengkaji yang memiliki arti menyelidiki, mempelajari, dan menguji sehingga pengkaji diposisikan lebih rendah hati.

“Jika masih mempelajari, memeriksa, menyelidiki, menguji dan menelaah tentunya belum ahlidong,” kelakar Seno.

Selain itu, Seno menyampaikan pentingnya literasi media bagi masyarakat. Karena saat ini banyak orang sering tidak sadar tentang media. Saat ini, semua usia sudah sangat sering melihat media. Namun, bukan berarti dilarang menonton namun lebih baik jika mengerti tentang apa yang ditonton.

“Karena itu, perlu dilakukan berbagai penelitian guna memperbaiki hal tersebut dan ini merupakan sebuah langkah strategis yang penting,” paparnya.

Seno berharap seluruh masyarakat bisa melakukan literasi media. Sebab, film yang disaksikan merupakan pesan yang diulang-ulang. “Masyarakat baiknya tidak dengan segera membuat kesimpulan meski suka dengan film tersebut. Sebab, suka adalah faktor personal dan itu hanya pandangan objektif dari orang yang menonton, ” tambah Seno. (mar)

Bantul