SLEMAN- Setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti Rohidin Mersyah, dan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, kemarin (26/4), sivitas akademikan Universitas Islam Indonesia menghadirkan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Kampus tertua di Indonesia itu sengaja menghadirkan para kepala daerah yang berpengaruh di wilayah masing-masing, serta memiliki segudang prestasi maupun program kerja yang pro masyarakat. Setidaknya, hal itu sebagai bentuk penegasan visi perguruan tinggi yang bertekad menciptakan generasi rahmatan lil alamin. Dengan membentuk cendekiawan muslim dan calon pemimpin bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia, berilmu amaliah, dan beramal, serta memiliki keunggulan dalam keislaman, keilmuan, kepemimpinan, dan kemandirian, serta profesionalisme.

Tak salah bagi UII menghadirkan Ahmad Heryawan, yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Dalam kesempatan hadir menjadi pembicara stadium generali mahasiswa baru program pascasarjana, Heryawan menekankan pentingnya tiga hal makna dan tujuan pembangunan. Yakni, menciptakan rasa aman dan kesejahteraan masyarakat, serta penghambaan kepada Allah SWT. Terkait hal itu, Heryawan punya resep pembangunan bangsa yang terdiri atas, pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan penguatan daya dukung alam untuk keberlanjutan pembangunan. “Disayangkan jika suatu daerah yang memiliki pendapatan tinggi tapi rakyatnya tidak sejahtera,” ingatnya di hadapan ratusan mahasiswa.

Menurut Heryawan, keberhasilan suatu daerah tak lepas dari karakter para pemimpinnya. Pasangan aktor kawakan Deddy Mizwar itu mengatakan, ada tujuh kategori pemimpin yang diharapkan masyarakat. Yakni, sehat, cerdas, dan cermat; produktif dan berdaya saing tinggi; mandiri dan pandai mengatur diri, berdaya tahan tinggi dalam persaingan, pandai membangun jejaring dan persahabatan global, berintegritas tinggi, serta bermartabat. “Pemimpin juga harus bernilai luhur, jujur dan disiplin, serta memiliki keteladanan dan rasa kesetaraan,” jelasnya.

Rektor UII Dr Harsoyo berharap, melalui stadium generale para mahasiswa bisa menggali pelajaran berharga dari sosok pemimpin, sekaligus ulama yang saat ini memimpin lebih dari 43 juta jiwa di Jawa Barat itu. “Bagaimana menjadikan Islam tidak sebatas retorika dan idealisme. Tapi implementasinya dalam sistem kehidupan bernegara guna membangun NKRI yang sejahtera dan berkeadilan,” paparnya.(yog)

Pendidikan