DWI AGUS/RADAR JOGJA
SERIUS: Geladi bersih UNBK dilakukan sejumlah sekolah di DIJ agar siswa terbiasa mengerjakan soal ujian nasional yang digelar 4 hingga 7 April mendatang.
JOGJA – Pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tinggal hitungan hari. Tak hanya siswa saja yang mempersiapkan diri untuk bisa lulus ujian. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ juga terus melakukan persiapan menghadapi UNBK. Salah satu langkah yang ditempuh membentuk tim satuan kerja (satker). Satker ini bertugas mengantisipasi dan membantu sekolah pelaksana UNBK.

Tim satker ini, menurut Kepala Disdikpora DIJ Baskara Aji, akan berkerja sama dengan proktor (pengawas ujian) dan operator UNBK di setiap sekolah. Tugasnya membantu mengatasi masalah jaringan internet selama ujian berlangsung dari 4 hingga 7 April.

Dia mengungkapkan, berdasarkan pengamatan selama simulasi dan geladi bersih UNBK, ternyata masih menemukan sejumlah kendala. Terutama terkait sinkronisasi server lokal dengan pusat untuk mengunduh naskah soal.

“Selain juga persoalan teknis lain dalam penggunaan komputer di sekolah,” kata Aji ditemui di Kantor Disdikpora DIJ, Senin siang (28/3).

Tim ini, lanjutnya, akan bekerja di setiap sekolah yang melaksanakan UNBK. Langkah antisipasi telah disusun saat sistem UNBK eror. Toleransi waktu diberikan untuk sekolah yang bermasalah baik jaringan atau fasilitas.

Setiap sekolah pelaksana UNBK, menurutnya, bisa mengambil kebijakan memundurkan jadwal ujian. Disdikpora sendiri memberikan toleransi satu jam sebelum ujian sesi berikutnya digelar. Sehingga peserta yang mengalami masalah teknis bisa dimundurkan ke sesi berikutnya ataupun sesi tambahan.

“Tapi tidak ada perpanjang ujian di hari lain. Jadi satu hari harus selesai ujian untuk satu mata pelajaran. Kasihan kalau siswa harus mengerjakan di hari lain,” jelasnya.

Dia juga sudah melakukan koordinasi dengan PLN terkait listrik. Dengan tidak melakukan pemadaman selama ujian berlangsung. Selain itu, koordinasi juga dilakukan bersama jajaran Polda DIJ dalam menjaga keamanan dan lalu lintas.

Persiapan juga dilakukan untuk ujian nasional (unas) regular atau paper based test (PBT). Rencananya, Kamis (31/3) soal PBT akan diterima di gudang Disdikpora dari percetakan. Selanjutnya soal PBT ini akan didistribusikan ke Pokja pada Sabtu (2/4).

“Kita juga tetap fokus untuk penyelenggaraan PBT. Mengingat belum semua sekolah di DIJ melaksanakan UNBK,” katanya.

Memasuki hari keempat pelaksanaan geladi bersih UNBK semakin lancar. Seperti di SMAN 6 Jogja yang tahun ini pertama kali melaksanakan UNBK. Sekolah ini memperbarui fasilitas penunjang seperti headset.

SMAN 6 Jogja menggunakan tiga ruangan plus satu ruangan cadangan untuk menggelar UNBK. Setiap ruangan tersedia 30 unit komputer dengan beberapa komputer cadangan. Jumlah siswa yang mengikuti UNBK sebanyak 251 siswa.

“Untuk genset kita mengusahakan menyewa waktu hari H. Sekolah kita menggunakan empat channel listrik dan salah satu jaringannya ada yang eror. Langkah antisipasi kita tidak menggunakan ruangan yang satu jalur dengan channel listrik ini,” kata Wakil Kepala SMAN 6 Jogja Bidang Kesiswaan Akhmad Fatoni.

Sementara itu, di Sleman sebanyak 34 sekolah peserta UNBK telah melaksanakan geladi bersih. Terakhir, gelada bersih UNBK digelar di SMKN 1 Godean, Senin (28/3).

Kepala Bidang Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Sleman Ery Widaryana menjelaskan, setiap sekolah peserta UNBK wajib melaksanakan simulasi. Ini dilakukan agar siswa terbiasa, karena sebelumnya pelaksanaan ujian menggunakan kertas.

“Setiap sekolah melakukan simulasi sebanyak tiga kali. Kami ingin siswa familiar dengan cara unas yang baru,” jelas Ery saat disela-sela kunjungan ke SMKN 1 Godean.

Dia menjelaskan, tahun ini peserta UNBK diikuti oleh 24 SMK, lima SMA, dan lima SMP. Untuk SMA dan SMP di Sleman, ini merupakan tahun pertama mengikuti UNBK. Sedangkan SMK, terjadi pertumbuhan signifikan dari sebelumnya yang hanya enam sekolah.

Sedangkan untuk kesiapan sarana, Ery memastikan, setiap sekolah telah memenuhi kelayakan mengikuti UNBK. Setiap sekolah telah memenuhi kewajiban memiliki genset guna mengantisipasi kendala teknis serta cadangan server.

“Kami sudah informasikan ke sekolah mengenai kewajiban menyediakan genset meskipun kami telah menyurati PLN agar selama unas tidak terjadi pemadaman listrik,” terangnya.

Kepala Sekolah SMKN 1 Godean Agus Waluyo menerangkan, bila terjadi mati listrik atau kerusakan pada server maka secara otomatis mesin pencatat waktu berhenti. Sedangkan komputer tidak ikut mati karena sudah terhubung dengan UPS.

Bila jaringan internet mati, pihak sekolah sudah mengatisipasi dengan sistem modem. Modem ini cukup kuat untuk memfasilitasi jaringan internet untuk satu ruang laboratorium. “Kami memiliki 102 unit komputer untuk 282 perserta. Sehingga seharinya ada tiga gelombang yang mengikuti ujian,” jelasnya. (dwi/bhn/ila/ong)

Jogja Utama