JOGJA – SMA Bopkri 2 Kota Jogja mendapat bantuan seperangkat gamelan dari Kementerian Pendidikan RI. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi usaha untuk melestarikan budaya Indonesia terutama di bidang karawitan. Anggota Komisi X DPR RI Esti Wijayanti yang juga membawahi bidang pendidikan mengatakan, dengan makin banyaknya bantuan pemerintah di bidang kebudayaan, semakin meningkatkan kecintaan generasi muda pada generasi bangsa.

“Sebab saat ini sudah mulai muncul pergeseran budaya di kalangan remaja,” katanya, kemarin.

Remaja Indonesia, lanjut Esti, dengan masuknya budaya luar kecenderungan lebih menyukai budaya luar tanpa adanya filter. Imbasnya ada orang Indonesia yang belajar budaya Indonesia ke luar negeri. Ia berharap orang Indonesia terutama Jogja jangan sampai nanti malah banyak belajar budaya ke luar negeri.

“Karena di luar ada kegiatan seni karawitan. Kalau tidak tertarik lagi dengan karawitan budaya asli Indonesia, maka bisa diambil negara lain. Padahal ini salah satu pilar karakter anak bangsa,” tuturnya.

Menurut Esti, generasi muda diharapkan jangan sampai lupa akar budaya leluhur. Hal itu yang juga menjadi pekerjaan rumah semua pihak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Pihak kementerian dan DPR RI telah mengalokasikan dana yang besar untuk pengembangan kebudayaan.

“Sangat banyak. Ada sekitar 600 sekolah SD, SMP, SMA, SMK dan PAUD untuk alat permaina, pembelajaran dan ruang kelas baru. Saya tidak hanya mewakili Jogja, dapil 9daerah pemilihan) saya, tapi juga berbicara Indonesia keseluruhan,” paparnya.

Politikus PDIP ini mengapresiasi ketekunan pengajar dan pelajar SMA Bopkri yang serius nguri-uri karawitan dan seni tari. Menurutnya, jika semua sekolah mau menghargai budaya sendiri, maka tidak perlu khawatir budaya Indonesia luntur dan hilang.

“Dengan kegiatan yang positif seperti karawitan dan tari, tentu saja akan mengikis kegiatan negatif pelajar. Seperti salah satunya tawuran,” ungkapnya.

Kepala SMA Bopkri 2 Sri Sulastri mengapresiasi perhatian kementerian dan DPR RI terkait bantuan tersebut. Hal itu tentu saja merespon kebutuhan sekolah dalam rangka menanamkan nilai karakter berbasis keungulan lokal.

“Sebagai antisipasi dan filter masuknya budaya luar yang kuat. Kalau tidak disiapkan serius, budaya lokal akan kehilangan jati diri,” ujarnya.

Ekstra kurikuler berupa karawitan, sudah mulai sejak 2010 dengan alat sederhana. Sri mengaku bersyukur mendapat bantuan gamelan sehingga memberikan suprot besar bagi anak-anak. Ia berharap, dengan bantuan tersebut, anak-anak mempunyai peluang lebih besar mengembangkan bakat dan minat

“Kita pernah kolaborasi karawitan dan tarian menceritakan perjalanan SMA Bopkri 70 tahun di TBY Januari 2016 lalu,” tandasnya. (riz/dem/ong)

Pendidikan