HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
PEDULI: Menbud Dikdasmen Anies Baswedan dalam pembukaan Internasional Fair Of Special Eduacational Needs (IOSEN) 2014 di hall Taman Pintar, kemarin (9/12).

Ajak Ubah Cara Berpikiruntuk Disabilitas

JOGJA – Pemerintah memiliki upaya serius untuk memenuhi kebutuhan seluruh warganya. Termasuk bagi warga yang berkebutuhan khusus se-jak lahir atau penyandang disabili-tas. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Menbud Dik-dasmen) Anies Baswedan mengung-kapkan, perubahan yang harus di lakukan adalah pola pikir di masyarakat dan pemerintah. Penyandang disabilitas bukan penyandang cacat.
Mereka adalah warga berkebutuhan khusus. “Kalau penyandang cacat, itu sama seperti kelainan dan pemenuhan ke-butuhannya pun diabaikan,” kata Anies saat membuka Internasional Fair Of Special Eduacational Needs (IOSEN) 2014 di hall Taman Pintar, kemarin (9/12). Perbedaan perspektif ini, kata Anies, bakal berdampak langsung terhadap kebijakan.
Makanya, sangat penting penggunaan istilah kebutuhan khusus. “Ini untuk mendorong agar kegiatan-kegiatan berorientasi terhadap kebutuhan khusus,” ujarnya.Mantan Rektor Universitas Para-madina Jakarta ini mengatakan, pe-rubahan mindstream bisa menjadi kendala pemenuhan warga yang ber-kebutuhan khusus. “Akhirnya tidak terpenuhi yang berkebutuhan khusus. Karena, semuanya dibuat merata, sama dengan yang umum atau normal,” tambahnya.
Padahal, lanjut dia, yang membeda-kan adalah soal pemenuhan kebutu-han saja. Artinya, dalam setiap kegiatan, harus ada dua untuk warga yang umum dengan yang berkebutuhan khusus.Selain itu, Anies juga menekankan bahwa tumbuh besar dengan ke butuhan khusus, merupakan sebuah kenis-cayaan.
Ia mencontohkan, Ketua Penyandang Disabilitas Indonesia, Dr Ahmad Sholeh. Meski, berkebutuhan khusus tuna netra, Ahmad Sholeh mampu menyelesaikan studi sampai dengan doktoral. “Pasti berbeda penilaian masyarakat. Antara Anies seorang doktoral dengan Ahmad Sholeh yang sama-sama men-dapatkan doktoral,” jelasnya.
Khusus agar semakin banyak pe-nyandang disabilitas menempuh pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi, Anies meminta kampus tak tertutup terhadap penyandang di-sabilitas. Kampus harus berani menga-jak mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat kampus. “Ajak kuliah terlebih dahulu untuk mengenalkan suasana kampus. Agar mereka terbuka dan tertarik untuk melanjutkan pendidikan sampai tinggi,” pesannya.
Menanggapi hal ini, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Bambang Tjipto selaku penyelenggara IOSEN 2014 mengatakan, acara ini untuk mendorong pemerintah dari pusat hingga daerah berupaya meningkatan pemenuhan warga berkebutuhan khusus. “Bahkan, sampai mereka lulus dari kuliah,” kata Bambang.
Ketua Penyandang Disabilitas Indo-nesia Dr Ahmad Sholeh menyotori keberadaan Peraturan Daerah (Perda) No 4 tahun 2012 tentang Perlindu ngan dan Pemenuhan Hak-Hak Disabilitas. (eri/jko/ong)

Pendidikan