Politik Jangan Merusak Sejarah

JOGJA – Pendidikan sejarah merupakan perangkat yang pen-ting dalam membentuk gene-rasi nasionalis dan berkarakter. Mengingat pentingnya sejarah, lembaga pendidikan dan pe-merintah diminta menyeriusi pendidikan sejarah. Jangan sampai, pendidikan sejarah tidak mendapatkan legitimasi dari negara dan masyarakat. “Pendidikan sejarah sering dipengaruhi oleh politik. Namun, jangan sampai politik merusak legitimasi sejarah bangsa Indonesia yang sesung-guhnya,” kata Sejarawan UNY Abdul Syukur dalam seminar bertema social, politics, his-tory, and educations for schools and societies di ruang sidang UNY, kemarin. Selain membahas mengenai sejarah, seminar juga membi-carakan berbagai isu penting, seperti gerakan keagamaan, dan berbagai masalah sosial. Pro-fesor Adrian Vickers dari Asian Studies The University of Sydney mengatakan, pemilu presiden Indonesia pada Juli 2014 lalu yang diikuti dua pasangan kan-didat merupakan fakta sejarah baru yang layak didokumenta-sikan. Sebab, masing-masingan pasangan kandidat memiliki gaya dan metode sendiri dalam berpidato untuk merebut su ara pemilik. Prabowo yang berlatar bela-kang militer meniru gaya pa-kaian Soekarno dan Pangeran Diponegoro. Sedangkan Jokowi lebih menonjolkan gaya man-tan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Peris-tiwa pemilu Juli 2014 yang diikuti dua pasangan kandidat, merupakan perkembangan sejarah yang baik setelah Soeharto,” kata Adrian. Adrian menambahkan, Soe-harto merupakan sosok politisi sekaligus negarawan yang paling banyak mendapat perhatian akademisi. Sejak 1998 hingga 2008, sedikitnya ada sebanyak 2.000 judul buku yang mengupas mengenai kepemimpinan Soeharto dan sosok pribadinya. “Kemajuan dan kebebasan berpendapat di Indonesia sang-at baik. Dahulu ketika Soeharto berkuasa, memang sulit mem-buat buku. Buku yang diterbitkan selalu ada dua versi, yaitu versi pemerintah dan alternatif,” jelasnya. (mar/jko/ong)

Pendidikan