JOGJA – Penghargaan terhadap inklusivitas dihadirkan oleh Early Childhood Care and Development Resource Centre (ECCD – RC) melalui programnya Ayo Kita Bermain Bersama. Program ini sebagai wujud kampanye pengenalan dan menghargai inklusivitas kepada anak. Kegiatannya berupa bermain bersama antara siswa ECCD RC dengan Deaf Art Community (DAC).
Kegiatan ini dilangsungkan di halaman ECCD RC, Jln. D I Panjaitan Krapyak Jogjakarta. Selain melibatkan siswa ECCD RC dan DAC, juga ada guru dan orang tua murid. Kegiatan dikemas dengan interaksi bermain bersama.
“Agar anak mendapatkan dunianya yang menghargai inklusitas. Juga mendapatkan hak anak, adil gender, ramah lingkungan, dan penerapan kearifan lokal,” kata koordinator divisi training dan media campaign ECCD RC, Endang Retna Widuri Soekrisna.
Wanita yang akrab disapa Ruri ini menjabarkan DAC adalah sebuah komunitas berbakat. Dimana anggota terdiri dari anak-anak tunarungu berbakat. Meski begitu kelemahan ini justru menjadi sebuah motivasi.
Motivasi tersebut ditanamkan melalui interaksi langsung. Menghargai sebuah perbedaan, dan melihatnya sebagai perekat. Motivasi ini ditampilkan melalui puisi visual, tarian dan perkusi.
“Penanaman seperti ini sangatlah penting bagi anak. Terlebih untuk memaknai perbedaan dan kekurangan fisik manusia,” kata Ruri.
Puisi visual dibawakan oleh DAC melalui gerakan tubuh. Puisi ini memiliki makna tentang seorang tunarungu. Pesan ini bermakna mereka tidak minta atau memilih dilahirkan tuli.
Puisi ini juga mengajak untuk tidak mendeskreditkan. Dimana perlakuan setara juga diharapkan dalam keseharian penyandang tunarungu. Ada pula sesi dimana para anggota DAC mengajak murid, guru dan orang tua berbicara menggunakan bahasa isyarat.
“Dari momen ini, harapannya anak juga orang dewasa menjadi tahu bagaimana mereka. Bahwa walaupun mereka tunarungu, tapi mereka tetap sekolah, bahkan kuliah, bisa menari, dan sangat ingin berteman dengan kita,” papar Ruri.
Di penghujung acara, DAC mengajak seluruh penonton untuk menari bersama. Tarian ini diiringi dengan alunan musik beatbox. Semangat pun terpancar dari seluruh murid, guru, orang tua hingga anak-anak DAC. (dwi/jko)

Jogja Utama