JOGJA – Insiden kekerasan yang kerap terjadi di Jogjakarta dengan melibatkan warga Papua, mendapat perhatian serius Polda DIJ. Untuk mencegah kasus kekerasan serupa tidak terulang, Polda DIJ meminta kepada seluruh mahasiswa asal Papua yang menempuh studi di perguruan tinggi di Jogja, agar bisa berbaur atau bersosialisasi dengan masyarakat setempat.”Kedatangan para mahasiswa asal Papua di Jogjakarta adalah untuk belajar dan mencari ilmu. Catat ilmu yang didapat di kampus, kemudian dapat dibuka kembali bila suatu saat nanti lupa,” kata Kepala Direktorat Binmas Polda DIJ AKBP Zainal Arifin dalam kuliah umum bersama mahasiswa UNY asal Papua bertema Orasi Ilmiah Pembinaan Karakter Untuk Sukses Studi di UNY di Ruang Sidang Utama Rektorat, kemarin (4/9).
Orasi ilmiah diikuti 65 orang mahasiswa asal Papua dan Papua Barat. Mereka merupakan penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) Papua, Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Berkewenangan Tambahan (PPGT), dan program kerja sama dengan Universitas Musamus Merauke.Dalam kesempatan itu, Zainal meminta kepada mahasiswa asal Papua meningkatkan kedisiplinan, sekaligus mewujudkan perdamaian dan ketertiban di tanah air dengan bingkai NKRI. Sebab, Papua merupakan satu satu daerah otonom dan bagian dari Indonesia.”Mari kita bangun Indonesia menjadi negara yang kuat, berkeadilan, dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” ajak Zaenal.Pembicara lain Kepala Kejaksaan Negeri Sleman Nikolaus meminta kepada mahasiswa asal Papua agar tidak minder dan malu ketika belajar di UNY. Pria kelahiran Merauke 13 Maret 1964 ini berharap, mahasiswa Papua dapat belajar ilmu terapan dengan sungguh-sungguh.
“Belajar lah yang rajin. Tidak hanya belajar di bangku kelas, tapi sering ikuti diskusi dan membaca buku di perpustakaan,” kata Nikolaus dalam kuliah umumnya.Senada dengan Zaenal Arifin, Nikolaus meminta kepada seluruh mahasiswa asal Papua untuk berbaur dengan masyarakat dan jangan selalu berkumpul dengan komunitas Papua. Sebab, apabila mahasiswa asal Papua menutup diri dengan selalu berkumpul dengan komunitasnya, akan sulit mengubah diri dan mendapatkan pengetahuan mengenai budaya daerah lain.”Sebagai mahasiswa Papua, harus mau membuka diri, jangan tertutup. Sebab, Jogja memiliki banyak budaya, banyak orang asal dari berbagai daerah di Indonesia,” tambah Nikolaus.Seorang mahasiswi asal Papua, Margareta Agnes M. Mayor mengaku senang dapat diterima di kampus UNY. Ia berharap studinya dapat ditempuh dengan cepat dan mendapatkan nilai memuaskan. “Saya ingin lulus cepat dengan nilai bagus,” kata mahasiswi yang mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni ini. (mar/jko)

Pendidikan