JOGJA – Pasar bebas yang akan berlaku pada 2015 direspon positif lima mahasiswa UGM. Yakni, Muhammad Nabil Satria Faradis, Hibran Sabila Maksum, Irkham Maulana, ketiganya mahasiswa juruan Teknik Mesin, Rizka Islami Ratnasari, dan Yulisyah Putri Daulay, keduanya mahasiswa Teknik Industri. Untuk membantu pelaku usaha, ke 5 mahasiswa ini menciptakan cetakan untuk helm ukir. Kini, cetakan itu telah digunakan perajin helm di Kota Gedhe. “Potensi pasar helm ukir di luar negeri cukup besar. Misalnya, digunakan pekerja perusahaan Pertamina, Chevron, Wyatt Oil, Seadrill, dan beberapa perusahaan minyak dan alam lain di Eropa dan Timur Tengah,” kata Muhamad Nabil, kemarin (11/7).
Nabil menerangkan, gagasan pembuatan cetakan helm ukir ini berawal dari keluhan perajin helm yang sulit memenuhi pesanan karena keterbatasan teknologi. Selanjutnya, ia bersama rekan-tekannya berdiskusi untuk mencari solusi atas masalah tersebut. Dari diskusi muncul ide membuat cetakan helm dengan motif batik/ukir. “Selain teknologinya kami ingin mengenalkan budaya batik ke luar negeri,” tambah Nabil.
Rizka menerangkan, pembuatan cetakan helm ukir tidak lah mudah. Setelah merampungkan desain, ia harus mencari mitra yang dapat membuat cetakan yang telah didesain tersebut. Setelah ada yang sanggup ternyata pembuatan cetakan mengaku harus membutuhkan waktu yang cukup lama agar cetakan terlihat sempurna. Kendala itu terjadi pada proses pengerjaan helm ukir akibat pembuatan helm polos. “Untuk menghasilkan satu helm polos per harinya satu pekerja harus memukul plat berulang kali,” kata Rizka.
Karena dianggap kurang efisien, Rizka dkk pun membuat mesin pers hidrolis semi otomatis untuk mengefisienkan pembuatan helm polos dari segi waktu, tenaga dan biaya. Awalnya, lembaran plat yang telah dipotong sesuai ukuran diletakkan di atas cetakan helm. Hidrolik akan turun saat tuas di sebelah kiri mesin di tekan. “Kekuatan hidrolik lima ton akan menekan lembaran plat hingga bentuknya sama dengan bentuk cetakan di bawahnya,” terang Rizka.
Dengan alat ini, ia memperkirakan proses produksi helm polos akan lebih cepat sehingga harapannya UKM dapat berkembang dan bersaing dalam ranah pasar bebas mendatang. Untuk pembuatan proyek tersebut mahasiswa menggunakan dana Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Dana Hibah Penelitian (DHP). Ide ini diterima sebagai inisiator di web crowdfunding milik UGM, IdeaConnect.
Rizki berharap cetakan helm buatannya dapat membantu pemerintah dalam memajukan dunia usaha kecil dan menengah. Sehingga, pengusaha UKM di Indonesia lebih produktivitas dan produk yang dibuat lebih berkualitas.”Mahasiswa yang lain harus bisa mencarikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi masyarakat disekitarnya,” pintanya. (mar)

Pendidikan