JOGJA – Peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) yang digelar panitia lokal mendapatkan protes dari kalangan disabilitas. Mereka menilai tidak adanya persiapan matang atau perhatian serius dari pihak panitia. Akibatnya, mereka tidak maksimal mengerjakan soal. Hal itu terungkap saat Radar Jogja menyambangi salah satu lokasi tes SBMPTN di SMK 5 Jogja. Tiga peserta tes yakni Ridwan Akbar, Arinil Musfiroh, dan Mukhlishin dari Yaketunis mengikuti tes di ruangan khusus. Padahal sebelumnya panitia lokal meyakinkan peserta difabel dan reguler akan digabung saat mengikuti tes.
Setiap peserta tes difabel masing-masing diawasi seorang pengawas. Mereka juga didampingi pendamping atau penerjemah. Bagi peserta tes difabel, lebih nyaman mengerjakan soal sendiri dibanding diterjemahkan orang lain. Mereka juga mengeluhkan tidak adanya lembar soal dengan huruf braile. Ini membuat peserta SBMPTN dari kalangan disabilitas tidak mendapatkan haknya seperti peserta reguler. “Ya waktunya kurang meski telah ditambah karena lembar soal tidak pakai huruf braile sehingga butuh penerjemah. Ya bersyukur saja kepada Allah sudah bisa ikut tes meski pengerjaan tidak maksimal. Doanya saja bisa masuk UNY,” keluh Ridwan usai tes.
Mukhlishin mengeluhkan soal matematika dan Bahasa Indonesia yang di dalamnya terdapat gambar visual. Menurutnya, bagi peserta tuna netra sulit untuk memvisualisasi gambar yang dimaksud dengan bahasa penerjemah. “Ada sebuah gambar dalam soal tes. Saya sulit untuk menangkap karena tidak bisa melihat dan hanya diterjemahkan lewat mulut penerjemah. Coba kalau soal dalam braile, dapat memudahkan,” katanya.
Pujianto, seorang pendamping peserta disabilitas, mengatakan kendala peserta disabilitas tidak maksimal mengerjakan soal SBMPTN lantaran tidak adanya soal dalam huruf braile. Padahal, waktu untuk mengerjakan tes bagi difabel sama dengan peserta reguler. “Ada sepuluh soal dari bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahkan matematika tidak terjawab. Karena kehabisan waktu meski waktu tambahan yang diberikan panitia 15 menit dianggap tak bisa maksimal dikerjakan teman disabilitas,” terangnya.
Ia berharap di masa depan disediakan soal berhuruf braile. Dengan demikian, difabel tunatetra tidak perlu didampingi. Saat pelaksaan tes SBMPTN yang digelar sehari kemarin, dia mengaku harus mengulang sampai empat atau lima kali untuk menjelaskan soal yang mengandung gambar. “Kadang mereka tidak paham saat saya ceritakan gambar yang dimaksud dalam isi soal. Terpaksa saya lewati dahulu ke soal yang mudah dicerna. Soal yang ada gambarnya dikerjakan terakhir,” ujarnya. (hrp/amd)

Pendidikan