Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ memiliki program baru untuk menekan angka putus sekolah DIJ. Tahun ini rencananya program bernama Kartu Cerdas itu siap dijalankan.
Heri Susanto, Jogja
Siswa dari keluarga miskin mendapat perhatian khusus dari Pemprov DIJ. Ini agar mereka mampu bersaing dengan siswa lain yang berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih kuat.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Kadarmanto Baskara Aji menjelaskan program Kartu Cerdas ini memang untuk membantu siswa dari keluarga miskin. Sebab, selama ini siswa dari keluarga miskin dinilai selalu kesulitan untuk melepaskan imej miskin tersebut.
Setelah dewasa, kata dia, mereka tetap menjadi keluarga miskin. “Ini ditambah dengan syarat mendapatkan beasiswa harus memiliki kartu miskin, ” kata Baskara saat rapat dengan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Laporan Kinerja Pertanggungjawaban (LKPJ) di gedung DPRD DIJ kemarin (2/4).
Baskara menjelaskan, Kartu Cerdas ini bertujuan untuk membantu siswa miskin agar tak merasa rendah diri.Ke depan usai lulus sekolah diharapkan mereka bisa membantu keluarganya agar tidak lagi menjadi keluarga miskin.
Program ini juga untuk menekan angka putus sekolah di DIJ. Terutama siswa dari keluarga miskin. Mereka rentan mengalami putus sekolah. “Sehingga mereka terbantu untuk biaya sekolah,” jelasnya.
Jika siswa dari keluarga miskin ini terbantu untuk membiayai sekolah otomatis hal tersebut berdampak langsung dengan rata-rata lama sekolah mereka. Lama bersekolah idealnya 12 tahun atau sampai tuntas jenjang SMA.
Khusus angka rata-rata lama sekolah di DIJ masihcukup rendah. Selama 2012 tercatat rata-rata lama sekolah siswa di DIJ hanya 9,21 persen. Di Kota Jogja, misalnya, rata-rata angka lama sekolahnya mencapai 11,56 persen. Sedangkan di Sleman 10,52 persen, Bantul 8,95 persen, Kulonprogo 8,37 persen, dan Gunungkidul 7,7 persen.
Baskara menambahkan, program Kartu Cerdas itu diharapkan ada peningkatan angka lama sekolah. “Kalau target, bisa sebanyak-banyaknya.Seluruh warga usia sekolah bisa memenuhi ideal 12 tahun,” lanjutnya.
Demi lancarnya pelaksanaan program ini, anggota PansusLKPJ Istiā€™anah ZA memberikan masukan khusus.Ia meminta program itu tak hanya menyasar siswa miskin.Program juga mesti menyasar anak yatim piatu.
Dia menegaskan, anak yatim piatu juga membutuhkan bantuan biaya sekolah. “Banyak siswa yang orang tuanya meninggal tiba-tiba ikut berhenti sekolah. Saya menemukan seorang anak yang menghadapi kasus seperti ini di Gunungkidul, tidak bersedia untuk melanjutkan sekolah,” katanya.
Politikus dari PAN ini juga menyarankan agar sekolah bisa mempermudah siswa yang mendapatkan Kartu Cerdas. Disdikpora juga diingatkan untuk bisa mengimbau sekolah untuk tidak mendiskriminasikan siswa dari keluarga miskin.
“Ini yang penting. Sekolah harus bisa memastikan tidak ada diskriminasi, ” pesannya. (*/amd)
Harus Pastikan Sekolah Tak Diskriminatif
 

Pendidikan