RADAR JOGJA—Dinas Pariwisata DIY (Dinpar) DIY ingin agar aplikasi Visting Jogja dan Pedulilindung bisa terintegrasi. Dengan demikian wisatawan tidak perlu menggunakan dua aplikasi.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinpar DIY Singgih Raharjo yang didampingi Kepala Bidang Pemasaran Dinpar DIY Marlina Handayani dan Benny Saptianto Kasi Pelayanan Informasi Pariwisata, Rabu (8/9).Aplikasi pedulilindungi, menurut Singgih, berguna untuk screening terkait covid-19 sedangkan visiting jogja terkait dengan reservasi wisata di DIY.

“Kedua aplikasi tersebut harus bisa disandingkan dan terintegrasi sehingga wisatawan tidak perlu memiliki dua buah aplikasi,” jelasnya.
Singgih, yakin hal itu bisa dilakukan karena secara teknologi memungkinkan. Untuk itu, Dinpar DIY terus berkomunikasi dengan Kemenkes terkait hal ini.

Mengenai tempat wisata, Singgih mengatakan, saat ini Dinpar memberikan bantuan untuk reaktivasi. Bantuan ini untuk membeli handsanitazer, masker dan sabun karena setelah sekitar 2 bulan tidak buka tentu pengelola tempat wisata tidak mendapat pemasukan. Sementara bantuan sarana dan prasarana seperti wastafel dan lainnya sudah dilakukan sejak 2020.
Saat ini sudah sekitar 90% pelaku wisata di DIY juga sudah divaksin sehingga mereka cukup siap untuk buka. Selain itu, 331 usaha pariwisata di DIY sampai 2021 ini sudah mengantongi sertifikat CHSE. Masing-masing pengelola wajib menjalankan Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan) dalam operasionalnya di masa pandemi.

Pengelola wisata, kata Singgih, juga tetap melakukan aktivitas. Mereka membuat video untuk promosi wisata. “Untuk kegiatan semacam ini diizinkan karena yang terlibat hanya kru dan tidak ada wisatawan. Mereka juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” katanya.
Ditengah pandemi, Dinpar DIY juga terus mengoptimalkan Tourism Information Center (TIC) untuk menjadi panduan bagi wisatawan yang datang ke DIY.

“Kami menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat, bukan informasi yang kami punya. Jadi basic kami menyediakan informasi itu adalah mengacu pada keinginan dan kebutuhan wisatawan, kami berusaha untuk memberikan itu,” katanya.

Informasi yang dibutuhkan ini, menurut Singgih, misalnya tentang tempat wisata, pusat kuliner, penginapan atau hotel, informasi-informasi tentang destinasi baru yang unik yang saat ini banyak bermunculan. Saat ini Dinpar DIY juga sedang melengkapi informasi-informasi lain, misalnya, rekomendasi lima warung soto terenak di DIY, lima tempat warung mi ayam terenak dan sebagainya.
Ada beberapa TIC yang dimiliki Dinpar DIY, yaitu TIC pusat yang ditempatkan di Malioboro, stasiun, bandara Yogyakarta International Airport dan juga di Bali. TIC tersebut juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas demi membuat wisatawan nyaman dan berasa disambut di tempat itu.

“Untuk TIC di Malioboro sering dimanfaatkan wisatawan untuk beristirahat sambil mencari informasi. Kami kan menyediakan semacam lounge, mereka bisa duduk atau bersantai,” jelasnya.

Menurut Marlina, wisatawan mancanegara, biasanya datang ke Jogja sekitar pukul 10.00 WIB, sementara mereka baru bisa check in di hotel setelah pukul 13.00 WIB. Jadi wisman ini kadang berada di TIC Malioboro sambil beristirahat karena biasanya mereka membawa tas yang besar-besar. (*/ila)

Pemerintahan