RADAR JOGJA – Sleman memiliki beberapa jenis satwa endemik. Sebut saja elang jawa, burung punglor, hingga macan tutul Merapi. Ada lagi jenis ikan-ikan kecil seperti wader, uceng, cethul, dan lainnya. Keberadaan satwa endemik itulah yang tengah menjadi pembahasan panitia khusus (Pansus) Raperda Perburuan Satwa DPRD Sleman.

Anggota Pansus Raperda Perburuan Satwa DPRD Sleman Suryana AMD Kes menilai perlindungan satwa mestinya tak hanya pada jenis yang dilindungi negara atau pemerintah. Tapi dilihat pula habitatnya. Ini untuk memastikan satwa-satwa endemik tersebut tetap terjaga dari kepunahan. “Habitat mereka perlu dijaga. Perburuan harus diatur. Kalau untuk satwa yang hampir punah ya seharusnya dilarang untuk diburu,” ujarnya akhir pekan lalu.

Kondisi ekosistem yang menjadi habitat satwa juga perlu diperhatikan. Agar populasi satwa-satwa itu tetap terjaga. Bukan saja aman dari tindak perburuan liar, melainkan juga terlindungi dari kemungkinan kerusakan alam. “Makanya perlu ada pemetaan satwa endemik berdasarkan habitat masing-masing,” usul politikus Partai Golkar itu.

Suryana memaparkan, draf Raperda Perburuan Satwa memuat klasifikasi atas kepentingannya. Meliputi untuk kegiatan penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan pengembangan pariwisata. Kawasan perburuan juga diatur dalam raperda. Demikian pula tata caranya.

Siapa pun dilarang berburu di luar kawasan perburuan dengan cara menembak, menggunakan bahan kimia berbahaya dan beracun dan/atau alat tangkap lainnya (setrum, bahan peledak). Sebab, cara itu dapat menyebabkan matinya atau menurunnya populasi serta membahayakan kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem satwa lokal dan satwa yang hidup di daerah. (yog)

Pemerintahan