RADAR JOGJA – Indonesia kembali kehilangan salah satu peletak dasar pers nasional sekaligus pendiri harian Kompas, Jakob Oetama. Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIJ menyampaikan rasa duka dan bela sungkawa atas meninggalnya Jakob Oetama dalam usia 88 tahun pada Rabu (9/9).

“Almarhum Jakob Oetama adalah satu tokoh pers nasional dengan mewariskan semangat jurnalisme di tanah air yang mengawal proses demokrasi dengan semangat humanisme keberagaman, kebhinnekaan dan keseteraan dalam sajian jurnalistik lewat media massa,” kata politisi PDI Perjuangan ini dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9).

Eko menilai sosok almarhum Jakob Oetama dalam praktek jurnalistik sangat membantu banyak pihak, terutama pemerintah dan stake holder nya dalam mengambil kebijakan publik. Melalui berita dan liputan mendalam yang dilakukannya dalam pemberitaan, pembaca media Tanah Air bisa mendapat referensi, data, analisis hingga ulasan penting untuk dasar mengambilĀ  kebijakan.

“Fungsi pers sebagai saluran atau kanal informasi, edukasi dan hiburan disajikan dengan berimbang berkat sentuhan dasar kepemimpinan oleh almarhum. Semoga semua amal kebaikan beliau menjadi suri tauladan bagi generasi penerusnya, selamat jalan Pak Jakob, karya dan jasamu abadi,” tutur Eko.

Pendiri Kompas Gramedia Group Jakob Oetama tutup usia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara. Jenazah disemayamkan di Gedung Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta. Selanjutnya jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata.

Jakob Oetama adalah pendiri Kompas bersama PK Ojong. Jacob adalah salah satu tokoh jurnalistik Indonesia. Kiprah Kompas dan media-media lain miliknya tak bisa diabaikan dalam sejarah jurnalistik di Indonesia.

Jakob Oetama diketahui lahir di Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 27 September 1931. Dia merupakan putra pertama dari 13 bersaudara.

Ayahnya bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru Sekolah Rakyat di Sleman, Yogyakarta, sementara ibunya bernama Margaretha Kartonah.

Lulusan Komunikasi UGM ini mendapat gelar doktor honoris causa dari UGM dan membacakan pidato berjudul “Antara Jurnalisme Fakta dan Jurnalisme Makna” pada 2003 silam. (sce/tif)

Pemerintahan