Sektor pariwisata di DIY yang dikelola masyarakat selama beberapa tahun terakhir berkembang pesat. Itu antara lain ditandai semakin majunya pengelolaan desa wisata maupun homestay. Jumlah desa dan kampung wisata tercatat ada sebanyak 114.

“Semua tersebar di kabupaten dan kota se-DIY,” ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo saat menjadi narasumber workshop Sadar Wisata dan Sapta Pesona di Hotel Quality pada, Kamis (13/6).

Sedangkan jumlah homestay yang berada di desa dan kampung wisata ada 1300. Rata-rata setiap homestay punya dua kamar. Dengan begitu jumlah kamar homestay di DIY ada sebanyak 2600 kamar.

“Tata letak maupun ruangan tidak kalah dengan hotel bintang. Bahkan ada beberapa homestay yang kamarnya setara dengan hotel bintang tiga,” ungkap Singgih bangga. Contoh itu seperti di kawasan Desa Wisata Nglanggeran. Homestay di desa wisata tersebut pernah menjadi juara di tingkat Asia Tenggara.

Berkembangnya pengelolaan homestay di desa-desa wisata itu tak lepas dari keseriusan Dinas Pariwisata DIY memberikan pelatihan dan pendampingan. Instansinya, sambung Singgih, juga menggalang kerja sama dengan berbagai asosiasi. Di antaranya seperti PHRI, ASITA dan lainnya.

“Asosiasi-asoasiasi itu bersedia berbagai ilmu dan pengalaman dengan para pengelola homestay desa wisata. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya,” lanjut pria yang tinggal di Celeban, Umbulharjo, Yogyakarta ini.

Singgih menambahkan, pariwisata menjadi salah satu sektor menjanjikan bagi masyarakat. Terbukti pariwisata ikut berperan nyata meningkatkan kesejahteraan. Selain itu, pariwisata juga membuka peluang kerja sehingga ikut menekan angka pengangguran.

Contoh nyata itu bisa dirasakan mereka yang tinggal di desa-desa wisata di DIY. Perekonomian mereka meningkat sejak terlibat aktif dalam  mengelola dan memasarkan desa wisata. “Desa wisata yang mengelola masyarakat. Bukan investor,” tegasnya.

Lebih jauh dikatakan, pariwisata ikut menggerakan  sektor kehidupan di masyarakat. Perkembangan itu bisa diamati di Gunungkidul, Bantul dan Sleman. Warga yang semula bekerja di luar, kini ramai-ramai balik ke desa. Sektor yang bergerak di desa wisata antara lain atraksi kesenian, homestay hingga kuliner.

Selain Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, desa wisata yang berkembang pesat seperti Kaki Langit Mangunan, Dlingo, Bantul dan  Desa Wisata Pulesari, Wonokerto, Turi, Sleman. Juga Tebing Breksi, Prambanan, Sleman.

Tahun ini, Dinas Pariwisata DIY akan membangun sejumlah fasilitas dan prasarana di Desa Wisata Kaki Langit. Nilainya mencapai Rp 5,9 miliar. Dari hitungan Singgih, jika itu dianggap sebagai investasi, akan kembali tiga tahun ke depan. Hitungan itu didasarkan perputaran uang yang ada di Kaki Langit. Saat ini jumlah wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata itu cukup banyak.

Dari catatan Singgih, rasa senang dengan berkembangnya desa wisata juga dirasakan para pedagang di Pasar Digital Ngingrong, Mulo, Wonosari, Gunungkidul. Mereka yang berdagang di pasar digital itu punya omset  jauh lebih besar dibandingkan saat berjualan di pasar tradisional Desa Mulo.  “Perbandingannya jualan di pasar digital hanya beberapa jam dagangan sudah habis. Di Pasar Mula butuh waktu seminggu,” terang dia.

Kabid Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata DIY Wardoyo  mengatakan saat ini ada desa budaya dan desa wisata. Perbedaannya,  desa  budaya  lebih menitikberatkan pada upaya pelestarian adat dan tradisi di desa tersebut.

Sedangkan desa wisata lebih pada upaya memasarkan kegiatan adat dan budaya tersebut. Baik desa wisata maupun desa budaya masuk dalam rencana induk pengembangan pariwisata daerah (Ripparda) DIY 2012-2025. Ini tertuang di Perda DIY No. 1 Tahun 2019. (kus/by)

Pemerintahan