RADAR JOGJA- Setelah hasil KLB ilegalnya ditolak Pemerintah, pihak KSP Moeldoko masih mencari-cari cara untuk terus mengganggu Partai Demokrat yang sah. Salah satunya dengan mempersoalkan hak cipta merek dan lambang Partai Demokrat.

Polemik logo partai Demokrat terus bergulir. Masing-masing pihak mengklaim merasa yang paling menciptakan dan memiliki. Situasi itu pun direspons langsung oleh pendiri Partai Demokrat nomor 99, Steven Rumangkang.

Steven menjelaskan, bahwa dirinya terlibat langsung dengan sejarah pembuatan lambang dan bendera Partai Demokrat. Bahkan, mantan suami artis Angel Karamoy ini menjelaskan, ide dan gagasannya memang benar dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) waktu itu.

“Dalam proses pengerjaannya, saya memberi masukan ide, dibantu Ifan Pioh (pendiri no.30), dan kemudian disetujui mendiang Pak Vence Rumangkang,” ujarnya dalam keterangannya, Rabu (14/4).

Steven menuturkan, dirinya membuat serta menyempurnakan semua arahan dari SBY dalam bentuk teknis visual, sehingga terbentuk bintang segi tiga merah putih dengan latar belakang warna dasar biru dan biru muda serta tulisan Partai Demokrat di bawahnya sperti yang digunakan saat ini.

“Ada beberapa ide masukan dari saya seperti bintang tiga dengan warna merah putih di dalamnya. Saya sendiri yang waktu itu turun tangan dalam kerja desain grafis, dan sering berdiskusi langsung dengan Bapak Vence Rumangkang, untuk menterjemahkan ide dari Pak SBY. Beliau meminta agar logo partai dibuat seperti ‘bintang tiga’, pucuk atasnya menyimbolkan Nasionalis-Religius, kaki pertama mewakili Humanisme dan kaki kedua mewakili Pluralisme,” katanya.

Agar tercipta logo Partai Demokrat yang genuine dan tidak menyerupai logo tertentu yang sudah ada, dirinya menggunakan Adobe Illustrator dan Photoshop. Dirinya sengaja memakai font Times New Roman yang tersedia pada semua komputer, untuk memudahkan bagi pengurus daerah nantinya untuk mencetak logo tersebut.

Saat pertama kali didaftarkan ke Menkumham, logo bintang segi tiga milik Partai Demokrat itu masih dibingkai segi lima dasar hitam yang juga merepresentasikan Pancasila.

Menjelang Deklarasi 2002, SBY merasa lambang dan pilihan warnanya masih belum optimal. Agar logo bintang segitiga terlihat lebih dinamis, bingkai segi lima dihapus.

“Tulisan Partai Demokrat, diletakkan di bawah logo Bintang Segitiga tanpa blok warna putih, dengan pilihan font Times New Roman dengan format huruf besar semua,” katannya.

Warnapun mengalami perubahan, SBY juga memerintahkan untuk memasukkan unsur warna biru pasukan penjaga Perdamaian Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kita tahu Pak SBY pernah bertugas sebagai Chief Military Observer di United Nation’s Peacekeeper Forces di Bosnia Herzegovina (1995-1996). Pak SBY juga minta mengubah warna biru tua menjadi biru yang lebih terang,” ujarnya.

Steven menambahkan, “Saya ingat betul, Pak SBY dengan detail mencontohkan warna biru yang beliau maksud adalah warna biru dalam bendera dikibarkan di sebuah hotel di Jakarta Pusat, yang sering beliau lihat saat berkantor sebagai Menko Polhukam,” tambajnya.

Steven kemudian mendatangi manajemen hotel tersebut untuk menanyakan bendera warna biru terang itu. Setelah dirinya mendapatkan contoh kain dengan warna yang sesuai arahan SBY tersebut, dirinya memerintahkan stafnya untuk mencari bahan dengan warna tersebut di Pasar Tanah Abang, agar bisa segera diproduksi cepat.

Tantangan belum selesai, semula, para pendiri berpandangan bahwa pilihan warna yang kaya dan beragam itu berpotensi menghambat proses cetak di daerah, yang umumnya saat itu masih menggunakan teknis sablon manual.

Namun, SBY mengatakan tidak apa-apa, bendera negara-negara di Afrika saja sangat warna-warni.

“Mendengar arahan Pak SBY itu, kami sadar kekhawatiran kendala teknis percetakan sablon bukanlah hambatan untuk mengembangkan partai ini menjadi partai besa,” tuturnya.

Steven menegaskan, ide dan gagasan dari proses pembuatan logo, merek dan lambang Partai Demokrat, itu memang digagas oleh SBY. Presiden Indonesia ke-6 ini langsung memberikan arahan-arahan teknis secara langsung, secara detail, dan juga menerima saran dan masukan dari para pendiri.

“Semua revisi dan perbaikan teknis lainnya, semua melalui persetujuan Pak SBY,” ungkapnya.

Selain soal bendera, Steven juga mengungkapkan mengapa pendiri Partai Demokrat berjumlah 99. Semula tim bersepakat membentuk tim yang terdiri atas 9 orang pendiri. Tapi aturan mensyaratkan partai politik yang baru dapat didirikan setidaknya oleh 50 orang.

Lalu Vence Rumangkang memutuskan daripada 50 orang, lebih baik dibuat menjadi 99 orang. Selain angka yang baik, angka 99 ini juga memiliki makna khusus bagi SBY yang lahir pada 9 September 1949.

“Atas ijin Tuhan YME, saat pertama kali mengikuti Pemilu 2004, Partai Demokrat juga mendapatkan nomor urut 9,” katanya. “Sejak awal, Partai Demokrat memang digagas, diinspirasi dan dibesarkan oleh sosok pak SBY serta pak Vence Rumangkang, Wajar jika kami menganggap Pak SBY dan Pak Vence Rumangkang sebagai the Founding Fathers dari Partai Demokrat,” jelasnya.

Steven merasa penting untuk buka suara soal ini. Karena di tengah situasi post-truth politics yang semakin menjadi-jadi dalam ruang demokrasi Indonesia belakangan ini, manipulasi sejarah bukanlah hal sulit untuk dilakukan. Ditengah menguatnya peyebaran hoax, fake news dan hate speech, kebohongan yang diulang-ulang, bisa menjadi kebenaran yang baru.

“Partai Demokrat ini didirikan dengan prinsip dasar etika politik dan nilai-nilai berdemokrasi yang matang. Sudah menjadi tugas kita semua, warga bangsa pada umumnya dan para kader Partai Demokrat pada khususnya, untuk serius dan berkomitmen menjaga kebenaran dan keadilan bersikap dalam menghadapi berbagai dinamika. Yang benar akan menang, dan yang melawannya akan tumbang. Itulah rumus kehidupan yang patut kita teladani,” pungkasnya.

Parlementaria