Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Paradoks Prabowo: Retorika Modernis dalam Cangkang Otoritarianisme

Bahana. • Jumat, 27 Februari 2026 | 13:17 WIB

Nazaruddin
Nazaruddin

Prabowo Subianto pernah berterus terang: ia berasal dari elite Indonesia yang “kiblatnya ke Barat”.

Ia tumbuh dalam alam pikiran yang mengagumi Barat sebagai model ideal kemajuan.

Pernyataan itu wajar, sebab ia putra Soemitro Djojohadikusumo, tokoh utama Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sutan Sjahrir.

PSI adalah representasi kelompok intelektual yang percaya bahwa Indonesia modern harus tegak di atas demokrasi, supremasi sipil, dan rasionalitas politik universal.

Indonesia Modern Menurut Sutan Takdir Alisjahbana

Pandangan modernis itu menemukan artikulasi teoretisnya dalam pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA).

Dalam esai Keindonesiaan Kita, STA mematok garis batas tegas antara Indonesia modern dengan masa lalu "prae-Indonesia".

Bagi STA, Indonesia bukanlah restorasi Mataram, bukan pula sambungan Sriwijaya atau Majapahit.

Indonesia adalah kesadaran baru abad ke-20 dengan organisasi modern dan semangat dinamis yang menyerap elemen Barat.

Retorika Modern, Praktik Feodal

Ironisnya, ketika Prabowo akhirnya berkuasa, orientasi “Barat”-nya justru tampil dalam wajah paradoks. Keputusan bergabung dalam “Board of Peace” bentukan Donald Trump dan menandatangani Agreement of Reciprocal Trade tidak memancarkan kemandirian, melainkan aroma patronase kekuasaan.

Alih-alih berdiri setara sebagai bangsa rasional, langkah itu terbaca sebagai politik mencari perlindungan kekuatan besar.

Prabowo tampak menyerupai raja-raja Mataram era kolonial yang meminta proteksi dan berkompromi dengan VOC demi mempertahankan takhta melalui konsesi politik serta ekonomi.

Militerisme dan Surutnya Supremasi Sipil

Lebih jauh, gaya kepemimpinannya yang militeristik kontras dengan prinsip PSI yang anti-otoritarianisme dan menjunjung supremasi sipil.

Kritik dibalas label “antek asing”, sementara ia sendiri merapat pada agenda global Trump. Ruang publik menyempit, oposisi dicurigai, dan kontrol negara terasa kian sentralistik.

Menanti Fajar atau Kembali ke Kegelapan?

Prabowo mungkin besar di Barat, namun ia nampaknya gagal mencerna esensi terdalam nilai yang ia puja: Demokrasi dan Check and Balances.

Jika kebijakan luar negerinya sekadar menjadi "mitra junior" kekuatan global dan domestiknya membungkam suara kritis, maka ia bukanlah pewaris ideologis Soemitro maupun Sjahrir.

Ia hanyalah "raja kecil" abad ke-18 yang mengenakan setelan jas modern. Ia bukan sedang membangun "Indonesia Raya", melainkan sedang merestorasi singgasana feodalisme di atas puing-puing reformasi yang kian rapuh.

Oleh: Nazaruddin

Editor : Bahana.
#prabowo #retorika