Oleh: Jimmy Jeniarto
(Dosen freelance pada mata kuliah Logika dan Etika)
Teknologi digital telah mengubah banyak cara hidup manusia. Telah banyak mengganti, atau melengkapi, teknologi analog yang dahulu banyak digunakan.
Dengan segala kelebihannya, teknologi digital juga memiliki kekurangan yang tidak dimiliki oleh teknologi analog. Demikian pula sebaliknya. Teknologi analog memiliki kelebihan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi digital, namun memiliki kekurangan yang tidak dimiliki oleh teknologi digital.
Di tingkat yang lebih fundamental, terjadi dikotomi paradigmatik antara sistem digital versus analog yang mendasari perbedaan keduanya. Sistem digital berparadigma statis, sedangkan sistem analog berparadigma dinamis. Dikotomi realitas statis dan realitas dinamis.
Perbedaan paradigma realitas statis dan realitas dinamis juga pernah menjadi tema perdebatan di dalam sejarah filsafat Yunani Kuno. Diwakili terutama oleh pemikiran Herakleitos dan pemikiran Parmenides. Keduanya merupakan bagian dari para pemikir filsafat alam Prasokrates.
Herakleitos (abad 5 SM) menganggap bahwa realitas bersifat dinamis. Segala sesuatu berubah, berlangsung sementara. Tidak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri.
Semuanya adalah “menjadi”. Tidak ada yang benar-benar “ada”. Hanya saja, menurut Herakleitos, terdapat perubahan universal.
Universalitas mengandaikan kesatuan. Di sini, pemikiran Herakleitos menyimpan paradoks. Bahwa yang banyak adalah satu.
Menurutnya, segala sesuatu terdiri dari hal-hal yang berlawanan, dan hal-hal yang berlawanan tersebut memiliki kesatuan. Kesatuan atas hal-hal yang bertentangan.
Di fase pemikiran ini, Herakleitos tidak mengambil sikap biner. Pemikirannya mengakomodasi perbedaan, menerima pluralitas di dalam kesatuan.
Berbeda terhadap Herakleitos, Parmenides (abad 5-4 SM) menganggap bahwa realitas adalah bersifat tetap.
Menurutnya, hal yang ada adalah ada. Hal yang ada, tidak mungkin tidak ada. Hal yang ada juga tidak mungkin ada sekaligus tidak ada. Hal yang ada adalah ada, dan yang tidak ada adalah tidak ada.
Pemikiran Parmenides tersebut bersifat biner. Di antara dua pilihan, hanya ada satu kebenaran: ada atau tidak ada. Menyingkirkan jalan tengah atau jalan ke-tiga.
Realitas, apa yang ada, bersifat satu keseluruhan, sehingga mengisi semua tempat. Dengan demikian, menurut Parmenides, tidak ada ruang kosong.
Dengan tidak adanya ruang kosong, maka tidak dimungkinkan terjadinya gerak dan perubahan. Sebagai konksekuensinya, pluralitas ditolak. Realitas adalah satu kesatuan dan statis.
Perbedaan antara realitas dinamis dan realitas statis tersebut juga menjadi pembeda antara teknologi analog dan teknologi digital. Perbedaan sifat sinyal masing-masing.
Sinyal merupakan suatu entitas fisik atas informasi, dan dengannya manusia bisa berkomunikasi satu sama lain. Sinyal bisa berubah secara kontinyu ataupun secara diskrit.
Di dalam konteks elektronik, perubahan secara kontinyu merupakan sifat sinyal analog, dan perubahan secara diskrit merupakan sifat sinyal digital.
Sinyal analog bersifat berkelanjutan, perubahan tegangan dari waktu ke waktu. Sinyal-sinyal analog bisa mengambil nilai apapun di dalam suatu rentang. Informasi dikirim dalam sinyal-sinyal yang bersifat kontinyu. Tidak terpisah-pisah. Kesatuan. Bersifat dinamis.
Sifat dinamis ini mengijinkan sistem analog menangkap dan memproses perbedaan tipis dan variasi, transisi halus di antara dua keadaan. Namun juga bersifat ephemeral, informasi berada hanya pada suatu saat.
Sedangkan sinyal digital bersifat putus-putus. Tegangan diatur hidup dan mati seiring perubahan waktu.
Sinyal digital direpresentasikan oleh digit-digit yang bersifat diskrit, yakni memiliki nilai-nilai yang berbeda dan terpisah. Nilai tetap, statis, dan tidak berubah. Digit bisa biner, desimal, atau heksadesimal.
Sifat statis pada sistem digital mengijinkan sistem digital memproses dan menyimpan informasi di dalam cara yang bisa diprediksi. Teknologi digital memiliki kecepatan dan ketepatan.
Meski demikian, sistem digital bisa memproses dan membangkitkan konten dinamis. Namun, representasi digital yang mendasarinya adalah bersifat statis dan biner.
Selain itu, beberapa sistem digital, semisal yang menggunakan AI, bisa memperlihatkan perilaku dinamis dan cair. Hal ini memburamkan batas antara properti-properti analog dan digital.
Di dalam pandangan fisika kontinyu, alam bersifat menyambung. Saling terhubung dalam kesinambungan.
Alam kontinyu direpresentasikan secara matematik melalui matematika kontiyu. Matematika kontinyu berurusan dengan nilai-nilai yang bisa mengambil nilai apa saja di dalam rentang yang bersangkutan. Melibatkan himpunan yang tidak bisa dihitung.
Di dalam statistika, data statistik numeris kontinyu diperoleh melalui pengukuran, dan tidak bisa megambil nilai tepat. Misal, pengukuran luas ruangan.
Realitas fisika kontinyu menjadi backbone sistem analog, dan pararel dengan pemikiran Herakleitos bahwa realitas bersifat dinamis.
Sedangkan di dalam pandangan fisika diskrit, alam bersifat terpisah-pisah. Tidak berada dalam kesinambungan.
Alam diskrit direpresentasikan secara matematis melalui matematika diskrit. Matematika diskrit berhubungan dengan element-element individual dan terpisah. Melibatkan himpunan yang bisa dihitung.
Data statistik mumeris diskrit hanya bisa mengambil nilai-nilai pasti. Biasanya diperoleh melalui penghitungan, dan nilainya adalah bilangan bulat. Misal, jumlah skor gol dalam sepak bola.
Realitas alam diskrit menjadi backbone sistem digital, dan pararel dengan pemikiran Parmenides bahwa realitas bersifat tetap di dalam konteks biner.
Hingga puncak fisika klasik, salah satu persoalan yang belum terpecahkan adalah tentang sifat cahaya. Di satu sisi, cahaya dianggap memiliki sifat gelombang. Di sisi lain, dianggap memiliki sifat diskrit-korpuskular.
Fisika kemudian berusaha menyatukan teori diskrit-korpuskular dan teori gelombang cahaya. Fisika modern mendapati sifat ganda partikel-gelombang atas materi dan cahaya. Konsep yang semula berkontradiktoris, partikel vs gelombang, disatukan ke dalam pemahaman partikel-gelombang.
Mekanika kuantum membentuk interpretasi matematis teoritis atas sintesisnya dua konsep yang berkontradiktoris tersebut. Kemudian diiringi perumusan logika kuantum, dengan fitur pokok tentang tidak berlakunya sifat distributif.
Lebih lanjut, perbedaan pandangan realitas statis dan realitas dinamis disatukan ke dalam satu pandangan realitas statis-dinamis.
Penyatuan dua pandangan yang berkontradiktoris ini membawa pada pemikiran Herakleitos yang terlihat paradoks, yakni kesatuan atas hal-hal yang bertentangan.
Fisika kemudian berjalan di jalur Heraklitean. Membawa pada penyatuan, bukan penolakan, dua fenomena berbeda yang terpisah ke dalam satu teori integral. Demikian pula terhadap sistem analog dan digital.
Sebagaimana telah disinggung di atas, batas antara properti-properti analog dan digital bisa menjadi samar oleh perilaku beberapa sistem digital yang memiliki properti dinamis sebagaimana pada sistem analog. Terjadi integrasi, kesatuan, antara hal-hal yang berlawanan.***
Editor : Jihad Rokhadi