Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Orientasi Maba Bebas Perundungan dan Waswas

Surokim AS • Kamis, 3 Agustus 2023 | 18:48 WIB

 

Surokim A.S.
Surokim A.S.

 

SETIAP musim penerimaan mahasiswa baru (maba), selalu saja terbayang tentang horor orientasi maba dengan segala dinamikanya. Harus pula diakui, selain maba, yang paling khawatir, waswas, dan deg-degan adalah orang tua mereka. Semua itu tidak lepas dari sejarah panjang orientasi maba di negeri ini. Orang tua dihinggapi harap-harap cemas karena tidak menerima jaminan layanan terkait kondisi anaknya. Hendak diapakan maba selama masa perkenalan di kampus?

Secara regulasi sebenarnya sudah klir bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebab, orientasi maba digelar untuk mengenalkan lingkungan kampus dan menunjukkan tantangan ke depan sehingga mereka memiliki daya adaptasi, awareness,dan readiness yang baik. 

Hanya, harus diakui, sejauh ini regulasi strategis itu belum ditindaklanjuti dalam regulasi fungsional. Salah satunya berupa pakta integritas dan atau standardisasi layanan citizen charter (kontrak layanan publik) yang bisa menjadi pegangan bersama terkait mutu layanan perguruan tinggi (perti). Bisa jadi manajemen perti merasa hal itu belum prioritas. Sehingga cerita horor orientasi maba yang penuh kekerasan masih membayang dan menjadi kekhawatiran orang tua

Citizen charter semacam perjanjian antara orang tua dan kampus itu mendesak diadakan untuk mengikis berbagai kekhawatiran tersebut. Sekaligus memberi jaminan bahwa orientasi maba ini akan jauh dari kekerasan, perundungan, pelecehan, dan hal negatif yang lain. Sejauh ini harus diakui, belum banyak kampus yang memulai membuat kontrak layanan ini.

 

Kontrak Layanan (Citizen Charter) Maba

Kontrak layanan (citizen charter) merupakan salah satu bentuk manajemen pelayanan partisipatif yang mendorong warga (orang tua) sebagai pemangku kepentingan, penyelenggara layanan, dan para pihak untuk bisa duduk bersama membangun kesepakatan tentang bagaimana sebaiknya pelayanan publik diselenggarakan. Dengan kontrak ini orang tua, maba, dan penyelenggara perti akan memperoleh kesepakatan sejak awal mengenai bentuk layanan publik yang disepakati.

Kesepakatan layanan ini akan menjadi pintu masuk bagiTidak adanya kontrak citizen charter itu akan membuat ruang munculnya oknum berbuat kekerasan verbal, nonverbal, serta perundungan menjadi terbuka dan leluasa. Dalam beberapa konteks transformasi dan habituasi nilai kampus kerap kali bisa berubah menjadi paradoks. Pengenalan nilai tridarma perguruan tinggi dan kegiatan kokurikuler maupun ekstrakurikuler kampus akan mudah berubah dan digeser menjadi ajang transformasi dominasi dan perundungan ulah oknum. 

Regulasi UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi tegas mengatakan bahwa pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan ilmu pengetahuan serta teknologi untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam menghadapi globalisasi di segala bidang. Program pengenalan kampus harus dilaksanakan sesuai dengan nilai cita-cita luhur itu.

Titik tekan pengenalan maba adalah mendapat kesan baik. Mahasiswa harus bisa merasa feel at home, enjoy sehingga bisa mengikuti serangkaian kegiatan dengan senang, bahagia. Pemberian materi-materi dengan edutainment yang menginspirasi menjadi mahasiswa maju dan prestatif. 

Itulah sesungguhnya tantangan di era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Mahasiswa harus mampu membaca perubahan lingkungan dengan baik dan cermat. Melalui orientasi maba itu mereka diharapkan mendapat pencerahan mengenai visi kekinian dan masa depan terkait dengan apa yang harus dilakukan saat berada di kampus.

Dengan demikian, harapan mahasiswa bisa menjadi agen perubahan (agent of change), agen penggerak (agent of driven), dan agen pelopor (agent of creator) senantiasa bisa dikembangkan dengan baik. Orientasi maba menjadi wahana yang penting agar maba memiliki growth mindset, memiliki pandangan maju, selalu bisa progres dan sukses. Sukses ditentukan oleh kemampuan dalam menggabungkan hard skill dan soft skill, termasuk di dalamnya pemahaman tentang integritas, etik, dan moral.

Program orientasi maba adalah wahana peneguhan tradisi unggul yang mengutamakan kekuatan daya pikir dan intelektual. Kampus sesungguhnya adalah tempat persemaian ide-ide untuk melahirkan prestasi dan perbaikan peradaban yang lebih baik. Adapun basis fun edutainment adalah pola pengenalan kampus dengan enjoy, nyaman, dan bahagia.

Nah, bagaimana cara mewujudkan hal itu? Fun, happy, interesting, creative, innovative learning is a basic concept of edutainment learning. Program orientasi maba harus bisa dilakukan dalam bingkai itu secara konsisten. Kata kuncinya adalah bagaimana membangun relasi yang menyenangkan kepada maba dan jangan memberi tekanan serta stres yang mengada-ada kepada maba.

Jika belajar ilmu neurologi, kita bisa paham mengapa kebahagiaan, kesenangan, akan bisa mengalirkan banyak hormon endorfin. Juga bisa menghasilkan energi positif yang melimpah, menghadirkan efek multiplier yang luar biasa bagi pengembangan potensi dan kekuatan maba. Tujuannya untuk menjadi prestatif dan belajar penuh semangat tiada henti dan berkelanjutan. 

Mari kita masuki era baru orientasi maba gen Z dengan happy, nyaman, ceria, dan fun menjauhkan dari segala bentuk tekanan, perundungan, pelecehan, dan stres yang berlebihan serta mengada-ada. Selamat datang maba, enjoy campus, feel at home.(*)


*) SUROKIM AS, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo Madura

 

Editor : Amin Surachmad
#Mahasiswa Baru 2023 #maba