Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kepala Daerah Jangan Jadi Penonton Demo

P
Pakar Otonomi Daerah Prof. Djohermansyah Djohan
Pakar Otonomi Daerah Prof. Djohermansyah Djohan

Advertisement

Demonstrasi adalah denyut demokrasi. Di jalan raya, di depan gedung pemerintah, rakyat menyampaikan suara yang mungkin tidak terdengar di ruang-ruang kekuasaan. Mereka datang membawa poster, tuntutan, kemarahan, sekaligus harapan agar negara mau mendengar.

Karena itu, ketika demonstrasi damai berubah menjadi kerusuhan dan bahkan merenggut nyawa, yang seharusnya kita rasakan bukan hanya kemarahan kepada pelaku. Ada kesedihan yang lebih dalam: mengapa sebuah negara demokrasi belum mampu memastikan warganya dapat menyampaikan pendapat tanpa harus mempertaruhkan keselamatan?

Sebab pada akhirnya, yang menjadi korban sering kali bukan mereka yang datang untuk membuat kerusuhan.

Advertisement

Pada Agustus 2025, Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring, kehilangan nyawa setelah terlindas kendaraan taktis Brimob di tengah situasi demonstrasi di Jakarta. Affan bukan demonstran. Ia sedang mencari nafkah, mengantarkan pesanan, lalu terjebak dalam kericuhan.

Bayangkan keluarganya menunggu ia pulang.

Advertisement

Mungkin ada anak yang menanti ayahnya membawa sesuatu ke rumah. Mungkin ada istri yang menunggu kabar. Mungkin ada orang tua yang tidak pernah membayangkan bahwa pekerjaan sederhana mencari nafkah akan berakhir menjadi berita duka.

Pada Agustus 2026, kabar tragis kembali datang. Bambang Setiyawan, seorang penjahit, kehilangan nyawa setelah aksi damai masyarakat Pati Bersatu. Ia diduga menjadi korban kekerasan kelompok masyarakat sipil setelah demonstrasi.

Sekali lagi, kita harus berhati-hati. Kedua peristiwa itu berbeda konteks dan harus dibuktikan berdasarkan fakta serta proses hukum. Tetapi keduanya meninggalkan pesan kemanusiaan yang sama: di tengah keributan politik dan demonstrasi, jangan sampai rakyat biasa menjadi korban.

Sebab bagi seorang ayah, seorang ibu, seorang anak, kehilangan satu anggota keluarga bukan sekadar statistik.

Ia adalah kursi makan yang tiba-tiba kosong.
Ia adalah telepon yang tidak lagi berdering.
Ia adalah pintu rumah yang setiap sore ditunggu seseorang, tetapi tak pernah lagi terbuka.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Uneg-Uneg Kepala Daerah: Otonomi Makin Sempit, Jakarta Makin Jauh

Uneg-Uneg Kepala Daerah: Otonomi Makin Sempit, Jakarta Makin Jauh

Kegelisahan kepala daerah terhadap kebijakan pusat menjadi alarm bagi pemerintah. Otonomi daerah, TKD, dan keadilan fiskal perlu kembali diperkuat.

Uneg-Uneg Kepala Daerah

Uneg-Uneg Kepala Daerah

Ada letupan kegelisahan bahkan  kemarahan yang mulai terdengar dari daerah. Uneg-uneg itu tidak lagi ditutupi, tapi disampaikan terbuka  dengan bahasa keras, terus terang, dan mengejutkan.

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda

Mengakhiri Pecah Kongsi Pimpinan Pemda

Hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah kembali menjadi sorotan wakil rakyat di Senayan. Di berbagai daerah, pasangan yang ketika kampanye tampil mesra justru berubah menjadi rival setelah berkuasa.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer