
JOGJA - Piala Dunia baru saja berakhir. Tapi gaungnya seperti tak terasa. Ya. Mungkin karena Timnas tak lolos, jadi pildun kemarin serasa biasa saja. Tapi, masuk Agustus, penggila bola Jogja mulai merasakan kenaikan suhu. Tentu, suhu sepak bola. Kalau suhu udara Jogjakarta sih, sejuk awal Agustus 2026. Maklum, musim bediding belum usai.
Sayup-sayup istilah Derby DIJ kerap terlihat di media. Baik konvensional atau media sosial. Di medsos lebih kenceng lagi. Pemberitaan tentang derbi ini mulai naik ke meja redaksi, dan akun-akun medsos. Ini tak lepas dari dua tim asal provinsi ini akan tampil di BRI Super League musim 2026/2027. Kebetulan hari ini peluit kick-off kompetisi ini segera ditiup.
Ya, setelah 18 tahun, PSIM Jogja dan PSS Sleman kembali satu panggung di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Kali terakhir keduanya tampil di Divisi Utama 2006. Sayang, saat itu musibah gempa Jogja terjadi. PSIM terpaksa mengundurkan diri dari kompetisi. PSS yang lanjut. Tapi terdampar di urutan 10 klasemen. Dan gagal naik ke Superliga.
Baca Juga: Dua Ribu Sleman Fans "Ngeluruk" ke Bali, Pieter Huistra Ingatkan Para Suporter Jaga Kelakuan
Keduanya sempat ketemu lagi di musim 2018. Tapi level Liga 2. Saat itu, di leg pertama PSIM menang 1-0. Tapi di leg kedua kala PSS tuan rumah, PSIM kalah 0-4. Musim ini, keduanya ketemu lagi. Bedanya, PSS datang sebagai tim promosi. Sementara saudara tuanya sudah semusim di Super League.
Sebagai orang Jogja (tepatnya yang tinggal di Jogja), pasti ikut seneng. Dua tim ini sukses menembus level tertinggi sepak bola tanah air. Dua-duanya punya basis pendukung yang superfanatik. Tentu dengan ciri khas sendiri-sendiri. Dari sudut pandang media, ini tentu menguntungkan. Karena ada dua sumber berita yang seksi di satu wilayah.
Apalagi kedua pendukung tim ini punya aktivitas tinggi di media sosial. Gayeng tenan, jika kita mengikuti aktivitas mereka. Salah satunya, saat PSIM dapat jersei Adidas. Wah, traffic di medsos seperti meroket. Tentu akun-akun medsos yang menyorot sepak bola Jogja. Penggemar PSIM seperti kaget. Tahu-tahu timnya gandeng brand olahraga dari Jerman, bukan jejer Kauman. Rasane ki piye ngono...
Bangga, seneng meski banyak juga pertanyaan. Kenapa gini, kenapa gitu. Harusnya gini, harusnya gitu. Atau mending ini, mending itu. Tapi kalau dilihat dari sebaran netizen yang komen atau respons, yang bener-bener pendukung PSIM seneng sih. Buktinya banyak juga netizen yang komen di Podcast Mainbola kalau mayoritas pendukung PSIM demen sama jersei barunya.
Baca Juga: Hadapi Tuan Rumah Bali United, PSS Sleman Bertekad Amankan Tiga Poin di Laga Pembuka Super League
Sekarang memang unik. Saat teknologi digital merambah ke media massa, banyak hal-hal yang dulu dianggap remeh temeh sama koran ternyata juga punya nilai berita. Kebetulan saya belakangan mantengin terus medsos-nya Mainbola sehingga tahu apa yang dibicarakan pendukung PSIM maupun PSS.
Bahkan, derbi yang masih dalam hitungan beberapa bulan ke depan juga sudah mulai ramai dipergunjingkan. Tentu, publik penasaran bagaimana derbi itu. Meskipun, jujur saja banyak juga yang masih waswas. Sebab, rivalitas antara PSIM dan PSS di kalangan pendukung grassroot juga masih tinggi.
Kita berharap derbi menjadi sangat damai. Karena banyak pendukung kedua tim ini sebenarnya yang beririsan. Banyak yang demen PSS juga seneng PSIM. Bahkan banyak dari pendukung keduanya yang bertetangga rumah. Harapannya tentu derbi ini membuat sepak bola menjadi indah. Bukan sebaliknya menjadi resah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




