Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Minimalisme Untuk Mencegah Inflasi Gaya Hidup

E
Penulis: Editor News❯
Tri Hendro SP., M.B.A., Dosen STIE YKPN
Tri Hendro SP., M.B.A., Dosen STIE YKPN
INFLASI gaya hidup (lifestyle inflation) adalah suatu pilihan gaya hidup seseorang yang kenaikan pendapatannya berdampak pada kenaikan biaya hidupnya. Kenaikan pendapatan yang seharusnya dialokasikan untuk lebih banyak investasi atau tabungan, nyatanya lebih banyak digunakan untuk menambah konsumsi. Istilah lain untuk inflasi gaya hidup ini adalah gaya hidup yang merangkak naik (lifestyle creep) untuk menggambarkan fenomena ketika semakin banyak sumber daya dihabiskan untuk standar hidup, sehingga hal-hal yang sebelumnya dianggap sebagai kemewahan berubah menjadi kebutuhan. Laporan di situs www.mindmoneybalance.com menunjukkan, ada beberapa ciri lifestyle creep, diantaranya adalah penambahan luas ruangan dan jumlah peralatan elektronik yang digunakan oleh keluarga, secara rutin berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan atau mal, dan lebih banyak membeli produk-produk makanan siap santap atau instan dibandingkan membuatnya sendiri.

Inflasi gaya hidup sangat menguras keuangan seseorang. Jika pendapatan seseorang yang lebih tinggi digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan secara mendasar, seperti membeli rumah yang lebih layak huni, konsumsi makanan yang lebih bergizi, dan melanjutkan studi yang tertunda, hal tersebut sangatlah baik untuk dilakukan, namun yang lebih sering terjadi, uang yang lebih banyak ini digunakan untuk memuasi ego konsumtif dengan membeli lebih banyak barang, bahkan untuk barang-barang yang sepertinya tidak terlalu dibutuhkan. Tidak sedikit pula yang akhirnya mengabaikan tabungan atau investasi karena menganggap kedua hal tersebut dapat dilakukan kelak, menjelang masa pensiun atau di usia lanjut.

Media Sosial, Gaya Hidup dan Kebiasaan Berbelanja

Perubahan teknologi informasi dan komunikasi berlangsung sangat cepat dalam 20 tahun terakhir, salahsatunya dipicu oleh maraknya media sosial. Akses ke media sosial melalui perangkat mobile menyebabkan setiap orang dapat terhubung di mana saja, kapan saja. Studi New York Times Consumer Insight Group (2018) mengungkapkan alasan banyak orang untuk mengakses dan berbagi informasi di media sosial, seperti berbagi konten yang berharga dan menghibur untuk orang lain, ajang pamer, menumbuhkan dan memelihara hubungan dan untuk menyebarkan berita tentang merek serta tujuan yang mereka sukai atau dukung. Jika internet adalah bagian yang tidak dapat dilewatkan dari kehidupan saat ini, media sosial adalah bagian integral dari komunikasi, elemen yang tidak dapat dihindari, terutama bagi mereka yang menjalani gaya hidup sibuk dan bergantung padanya bahkan untuk pembaruan terkecil. Orang-orang dapat berkomunikasi dengan teman, berbicara dengan keluarga, dan tetap mendapatkan informasi terbaru tentang kejadian global melalui berbagai platform. Facebook, Instagram, dan TikTok adalah media sosial yang sangat populer saat ini.

Media sosial tidak hanya mengubah cara konsumen bertransaksi, tetapi juga cara mereka menemukan merek dan produk baru. Survei Avionos selama pandemi di AS tahun 2021 menunjukkan, generasi Z (70%) dan Milenial (68%) menggunakan media sosial untuk membeli dan berinteraksi dengan merek lebih dari Gen X (51%) dan Baby Boomers (33%) karena pengguna yang lebih muda ini memanfaatkan banyak saluran untuk membeli produk dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Generasi Z menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, sehingga mereka melihat media sosial sebagai tujuan pembelian dibandingkan dengan generasi yang lebih tua. Di era influencer saat ini, uji coba produk melalui realitas virtual, streaming langsung, dan pembelian produk melalui media sosial terus meningkat, bahkan cenderung mengubah kebiasaan berbelanja. Para influencer di media sosial mendapatkan kepercayaan konsumen dengan menampilkan pembelian mereka, mendiskusikan kualitas produk dan memberikan pendapat mereka kepada ribuan orang di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram dalam format yang menghibur. Pelanggan menggunakan penilaian dan ulasan pelanggan lain untuk membuat keputusan pembelian akhir, tidak hanya mengandalkan konten yang dibuat oleh produsen.

Jebakan Perbandingan

Teori perbandingan sosial pertama kali dikemukakan pada tahun 1954 oleh psikolog Leon Festinger, yang berhipotesis bahwa seseorang membuat perbandingan sebagai cara untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Menurut Gerber (2020), perbandingan sosial adalah proses ketika seseorang mengevaluasi kemampuan, prestasi, dan atribut diri sendiri. Pada akarnya, dorongan tersebut terhubung dengan penilaian instan terhadap orang lain, elemen kunci dari jaringan kognisi sosial otak yang dapat dilacak pada kebutuhan evolusioner untuk melindungi diri sendiri dan menilai ancaman. Di masa purba, seorang pemburu umumnya mencari pemburu lain sebagai panduan untuk melacak mangsa, termasuk saat dia menyerahkan tombak kepada mereka yang dianggap memiliki keahlian yang lebih baik dibandingkan dirinya.

Menurut Thomas Mussweiler, profesor perilaku organisasi di London Business School, seseorang akan selalu menghubungkan informasi tentang orang lain dengan dirinya sendiri. Peristiwa ini terjadi tidak hanya secara strategis, namun juga secara spontan dan otomatis setiap kali orang tersebut berhadapan dengan orang lain. Bahkan ketika dirinya dihadapkan dengan standar yang ekstrim, maka langkah pertama adalah membandingkan, kemudian mengoreksi hasilnya. Hal ini berpotensi menimbulkan ketidakpuasan terus menerus. Ketidakpuasan kepada diri sendiri karena selalu membandingkannya dengan orang lain bisa menyebabkan seseorang masuk ke dalam jebakan perbandingan (comparison trap). Ketika melihat akun Instagram yang menampilkan interior rumah terbaru, pakaian kekinian yang sedang disukai, mobil seri terbaru, dan berbagai hal lain yang secara visual sangat menarik perhatian, maka akan muncul alasan bagi siapapun untuk mengikutinya dalam bentuk: mobil baru, pakaian baru, peralatan masak baru, dan sebagainya. Hanya kendali emosilah yang akan mencegah seseorang untuk merasakan FOMO (fear of missing out) sehingga terhindar dari jebakan perbandingan.

Gerakan Gaya Hidup Minimalis

Gerakan minimalisme bermula pada tahun 1950an di Eropa melalui benda-benda seni dengan desain sederhana, lalu diikuti juga oleh industri fashion dan perlengkapan rumah tangga, serta masuk pula ke dalam desain arsitektural seperti dinding rumah yang dibiarkan polos tanpa lukisan atau foto dengan sofa dan furnitur dalam jumlah sedikit sesuai dengan kebutuhan ruangan. Banyak orang saat itu merasakan kenyamanan dalam rumahnya dengan barang-barang yang terbatas, serta desain sesuai dengan fungsi utamanya. Minimalisme mulai digunakan sebagai istilah sehari-hari dalam menulis, melukis, arsitektur, dan bidang estetika, desain, dan kreatif lainnya. Pada tahun 1970-an, Dieter Rams memperkenalkan prinsip-prinsip desain yang baik dan sejak saat itu beliau dipuji sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam tren desain produk berdesain minimalis.

Dalam kurun waktu 1980-2000, gerakan minimalisme berlanjut dalam bentuk gerakan hidup sederhana. Gerakan slow food dimulai setelah pembukaan McDonald's diprotes di Roma, yang mengilhami subkultur serupa dalam kategori lain seperti mode dan wisata berkelanjutan. Para pendukung gerakan melambat (slowness) menolak gagasan modern bahwa perolehan cepat dan terakumulasi lebih banyak menjadikan hidup yang lebih baik. Mereka percaya bahwa kualitas lebih penting dibandingkan kuantitas dan menyesuaikan hidup dengan ritme yang melambat membantu seseorang mendapatkan hasil maksimal dari kehidupannya. Gerakan minimalisme kemudian berkembang menjadi sebuah mindset bahwa uang yang dihabiskan untuk membeli atau memiliki terlalu banyak barang dianggap sebagai sebuah perilaku yang tidak sehat (unhealthy mindset). Situasi ekonomi yang buruk di tahun 2007 turut menyuburkan gaya hidup minimalis di kalangan keluarga kelas menengah di AS dengan cara mereka beramai-ramai membersihkan rumah dari barang-barang yang tidak atau jarang digunakan, mendonasikan atau menjual barang-barang tersebut sehingga rumah menjadi lebih bersih, lebih lega (spacious), dan lebih sehat.

Menurut Joshua Beker (https://www.becomingminimalist.com), seorang praktisi minimalis, gaya hidup minimalis terus tumbuh disebabkan oleh faktor berikut. Pertama, meningkatnya pengangguran, upah yang stagnan, dan turunnya harga saham telah memaksa keluarga dan individu untuk mengevaluasi kembali pembelian mereka. Banyak yang mulai hidup dengan anggaran yang lebih ketat. Akibatnya, banyak konsumen memilih untuk mengidentifikasi perbedaan antara pembelian penting dan tidak penting. Kedua, banyak orang memilih untuk hidup minimalis karena kepedulian terhadap lingkungan. Mereka memahami bahwa lebih sedikit konsumsi sama dengan lebih sedikit penggunaan sumber daya alam. Ketiga, setelah bertahun-tahun hidup di luar kemampuan, orang-orang mulai memilih untuk keluar dari beban utang yang berat. Orang memilih untuk membeli lebih sedikit dan menabung lebih banyak, dan tren ini diharapkan terus berlanjut di masa mendatang. Keempat, ketidakadilan, kemiskinan, dan kekurangan gizi selalu ada. Tetapi karena teknologi baru telah membuat dunia lebih kecil dengan membuat gambar/berita global lebih mudah diakses, kesadaran untuk membuat perbedaan terus meningkat. Beberapa orang lebih memilih untuk memberi makan mereka yang lapar, menyediakan air minum bersih, melawan epidemi, dan berbicara untuk mereka yang tidak bersuara di mana pun dibutuhkan. Kelima, kemajuan teknologi telah membuat gerakan minimalisme lebih mudah dilakukan daripada sebelumnya. Saat ini, komputer telah menggantikan kebutuhan terhadap cd, dvd, file kertas, album foto, kalender, kalkulator, buku, buku telepon, buku catatan, surat kabar, dll. Keenam, karena kompleksitas dunia saat ini terus berkembang, minimalisme menawarkan kehidupan dengan lebih sedikit stres, lebih sedikit gangguan, lebih banyak kebebasan, dan lebih banyak waktu. Ketujuh, internet memungkinkan gaya hidup minimalis dilakukan sepanjang waktu. Orang tidak lagi harus terikat pada pekerjaan dari jam 9 hingga 5 sore. Banyak orang memilih untuk mencari nafkah secara online, dan banyak dari mereka yang memilih untuk menjadi minimalis agar pilihan gaya hidup ini lebih mudah diakses. Kedelapan, konsumerisme akan tetap hidup namun perlu dijalankan secara sehat. Produsen dan pengiklan terus menerus memberi tahu konsumen bahwa pembelian barang akan memberi kepuasan namun ternyata klaim ini penuh dengan kepalsuan. Banyak konsumen telah mencoba untuk menemukan kebahagiaan melalui harta benda, dan ternyata hal ini tidak terpenuhi. Akibatnya, konsumen mulai mencari kebahagiaan dan kepuasan dalam bentuk kualitas hubungan, tujuan sosial, dan signifikansi.

Dari paparan diatas tampak bahwa gaya hidup minimalis sangat efektif dalam menghindari atau mengurangi inflasi gaya hidup. Jika demikian, tunggu apa lagi, ayo jalani hidup less is more mulai sekarang! (*/Dwi)

Advertisement
Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Ketika Opini Terlihat Seperti Fakta: Hidup di Era Informasi Tanpa Batas

Ketika Opini Terlihat Seperti Fakta: Hidup di Era Informasi Tanpa Batas

Kita hidup di zaman ketika informasi menyebar begitu cepat. Dalam hitungan detik, sebuah pendapat bisa viral dan dianggap sebagai kebenaran hanya karena disampaikan dengan yakin, dilengkapi foto, video.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer