MENURUT Robbins dan Judge (2015), Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi atau tujuan yang didapatkan. Sementara menurut Adair J. (2002), kepemimpinan adalah kemampuan membujuk orang lain untuk mencari tujuan yang telah ditetapkan dengan antusias. Itu adalah faktor manusia yang mengikat kelompok bersama-sama dan untuk meningkatkan kinerja mereka dan mengarahkan mereka ke arah tujuan”. Dari definisi di atas menjelaskan bahwa Kepemimpinan adalah proses membimbing, mengarahkan dan mempengaruhi pikiran, perasaan, perilaku dan tindakan orang lain untuk digerakkan menuju tujuan tertentu. Lebih lanjut, kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting bahkan dapat dikatakan sangat menentukan dalam pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Robbins dan Judge (2015) mengatakan bahwa organisasi memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk efektivitas yang optimal. Diperlukan para pemimpin untuk menantang status quo, menciptakan visi masa depan, dan menginspirasi para anggota organisasi untuk mencapai visi. Selain itu diperlukan juga para manajer untuk merumuskan rencana yang terperinci, menciptakan struktur organisasi yang efisien, dan mengawasi kegiatan operasional sehari-hari. Oleh sebab itu diperlukan Gaya kepemimpinan dalam merepresentasikan filosofi, keterampilan dan sikap pemimpin. Pendapat lain menyatakan bahwa gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku (perkataan dan tindakan) seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain (Erben & Güneşer, 2018). Gaya kepemimpinan menjadi salah satu faktor internal yang berperan penting dalam upaya meningkatkan kinerja bawahan. Gaya kepemimpinan yang sesuai akan membuat bawahan merasa nyaman dan mendorong bawahan untuk mengeluarkan potensinya dalam upaya mencapai kinerja optimal.

Salah satu jenis gaya kepemimpinan adalah kepemipinan karismatik. Menurut Teori House dalam Robbins dan Judge (2015), kepemimpinan karismatik adalah kondisi di mana para bawahan membuat atribut kepahlawanan atau kemampuan kepemimpinan yang luar biasa ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu dan cenderung untuk memberikan kekuasaan para pemimpin tersebut. Pemimpin karismatik memiliki visi serta bersedia untuk mengambil risiko pribadi untuk mencapai visi tersebut yang sesuai terhadap kebutuhan pengikut dan memperlihatkan perilaku-perilaku yang luar biasa. Behr (2020) menyatakan bahwa kepemimpinan karismatik melampaui rasa empati. Hal ini menyiratkan kekuasaan untuk mengikat orang lain dengan ikatan berdasarkan identifikasi dan penyerahan pada otoritas pemimpin. Individu yang terkena pengaruh akan dituntun untuk percaya bahwa pemimpin berbicara untuk mereka dengan mengartikulasikan pikiran mereka dan beresonansi dengan perasaan mereka. Pemimpin bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan fundamental mereka terpenuhi. Karisma melibatkan orang yang rentan pada tingkat emosional yang dalam sedemikian rupa.

Menurut Irianto, dkk. (2021), fungsi kepemimpinan Camat dalam meningkatkan kinerja birokrasi yaitu terdiri dari fungsi instruksi, fungsi partisipasi, fungsi konsultasi, fungsi pengendalian dan fungsi delegasi. Diantaranya Camat diharapkan mampu menjadi motivator yang baik, menjadi wadah konsultasi bagi para pegawai, memiliki strategi yang cukup baik dalam hal peningkatan kerja serta Camat diharapkan turut aktif dalam memberikan wewenang kepada para pegawai sehingga tercapainya fungsi kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan Camat merupakan faktor pendukung karena dapat memberikan motivasi kepada para pegawai dalam pencapaian hasil program kantor kecamatan. Sementara menurut Triyanto (2020), kepemimpinan karismatik dapat dimiliki oleh Camat di mana hal ini terlihat dari beberapa orang-orang yang ada di sekitarnya atau bawahannya merasa kagum dan terinspirasi dengan sikap pemimpin. Motivator dan Inspirator hal ini terlihat bahwa kebijakan dan kegiatan sehari-hari. Camat diharapkan dapat memperlihatkan bahwa beliau adalah orang yang memiliki ide-ide yang mampu membuat orang di sekitarnya termotivasi dan sekaligus mendapatkan inspirasi dalam bekerja.

Di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta sendiri, dikenal istilah “Kemantren” yang merupakan sebutan Kecamatan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan bagian wilayah dari daerah Kota Yogyakarta. Menurut Perwal Yogyakarta Nomor 121 Tahun 2020, Kemantren dipimpin oleh seorang Mantri Pamong Praja yang merupakan sebutan Camat di wilayah Kota Yogyakarta dan merupakan seorang Pegawai Negeri Sipil. Sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, tentunya Mantri Pamong Praja tidak terlepas dari regulasi terkait Aparatur Sipil Negara. Di dalam PP Nomor 11 Tahun 2017 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 17 Tahun 2020, salah satu kompetensi yang wajib dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil adalah Kompetensi Manajerial. Kompetensi Manajerial adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap/perilaku yang dapat diamati, diukur, dikembangkan untuk memimpin dan/ atau mengelola unit organisasi. Kompetensi Manajerial ini diukur dari tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan.

Jabatan tersebut mempunyai tugas mengoordinasikan penyelenggaraan pemerintahan umum, ketenteraman dan ketertiban umum, perekonomian dan pembangunan, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan melaksanakan penugasan urusan keistimewaan pada tingkat Kemantren. Selain tugas tersebut, seorang Mantri Pamong Praja juga melaksanakan tugas sebagian kewenangan urusan di pemerintahan di tingkat kota yang dilimpahkan kepadanya. Mantri Pamong Praja yang merupakan pemimpin administratif pada wilayah di bawah Kota Yogyakarta dan di atas kelurahan tentunya membutuhkan kepemimpinan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Sebagai pemimpin dalam hal-hal lintas jenis urusan, Mantri Pamong Praja juga memerlukan kepemimpinan karismatik untuk mendukung pencapaian visi dan misi Walikota Yogyakarta. Di dalam Perwal Yogyakarta Nomor 119 Tahun 2021, disebutkan standar kompetensi manajerial yang harus dimiliki oleh Mantri Pamong Praja, yakni (1) Integritas, yakni mampu memastikan, menanamkan keyakinan Bersama agar anggota yang dipimpin bertindak sesuai nilai, norma, dan etika organisasi, dalam lingkup formal, (2) Kerjasama, yakni mampu membangun tim kerja untuk peningkatan kinerja organisasi secara efektif, (3) Komunikasi, yakni mampu berkomunikasi secara asertif, terampil berkomunikasi lisan/ tertulis untuk menyampaikan informasi yang sensitif/ rumit/kompleks, (4) Orientasi pada hasil, di mana Mantri Pamong Praja menetapkan target kerja yang menantang bagi unit kerja, memberi apresiasi dan teguran untuk mendorong kinerja, (5) Pelayanan publik, yakni mampu memanfaatkan kekuatan kelompok serta memperbaiki standar pelayanan publik di lingkup unit kerja, (6) Pengembangan diri dan orang lain, yakni memberikan umpan balik, membimbing orang lain, (7) Mengelola perubahan, yakni membantu orang lain mengikuti perubahan, mengantisipasi perubahan secara tepat, dan (8) Pengambilan keputusan, yakni membandingkan berbagai alternatif, menyeimbangkan risiko keberhasilan dalam implementasi.

Kepemimpinan karismatik tentunya berdampak positif terhadap kreativitas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Luu dkk. (2019), seorang manajer tim harus menginspirasi anggota tim untuk menjadi agen perubahan karismatik yang pada gilirannya dapat menarik satu sama lain ke dalam proses pengumpulan sumber daya untuk pembuatan pekerjaan tim. Manajer yang menerapkan kepemimpinan karismatik juga harus memberikan pemberdayaan dan dukungan bagi anggota tim untuk mencari sumber daya baru demi pembuatan pekerjaan kolektif dan kreativitas. Selanjutnya, manajer karismatik harus lebih membangun identitas kolektif antara pegawai melalui peningkatan lebih lanjut motivasi pelayanan publik di dalam diri mereka. Oleh karena itu, manajer tim harus membangkitkan atau mengkatalisasi nilai-nilai layanan publik dalam jiwa pegawai melalui komunikasi misi serta pelatihan dan pendampingan nilai-nilai pelayanan publik. Selain itu, kepemimpinan karismatik juga berdampak positif terhadap komitmen organisasional afektif dengan dimediasi oleh kepuasan kerja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ozgul dkk. (2022), kepuasan kerja dan gaya kepemimpinan karismatik manajer dapat dilihat sebagai tujuan penting dan sarana bagi organisasi untuk meningkatkan komitmen afektif karyawan dan mempertahankan mereka. Sambil menentukan strategi yang akan diikuti dalam proses membangun komitmen afektif, gaya kepemimpinan manajer dan tingkat kepuasan kerja karyawan harus dipertimbangkan dan harus dibuat sesuai rencana. Selain itu, tidak boleh dilupakan bahwa tingkat komitmen afektif organisasi dapat ditingkatkan sebagaimana ditingkatkannya kepuasan kerja karyawan.

Sementara Conger dan Kanungo (1998) mengatakan bahwa ada lima dimensi perilaku pemimpin kharismatik, yaitu (1) Peduli terhadap konteks lingkungannya, (2) Memiliki strategi dan artikulasi visi, (3) Peduli terhadap kebutuhan pengikutnya, (4) Memiliki personal risk, serta memiliki perilaku yang tidak konvensional, dan (5) Memiliki kekuatan yang besar dan tahu mempergunakannya dengan tepat dan semaksimal mungkin. Lalu apabila dilakukan pencermatan terhadap aturan kompetensi manajerial Mantri Pamong Praja di Kota Yogyakarta, terhadap 5 dimensi perilaku pemimpin karismatik menurut teori tersebut, ditemukan bahwa dimensi kepemimpinan karismatik yang paling sedikit terkait adalah dimensi “Memiliki personal risk, serta memiliki perilaku yang tidak konvensional”. Apabila dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ozgul dkk. (2022) bahwa kepemimpinan karismatik mampu mendorong kreativitas pegawai, maka hal ini akan menjadi relevan bahwa “perilaku yang tidak konvensional” mampu mendorong kreativitas pegawai. Tentunya akan menjadi sesuatu yang penting apabila terdapat penambahan standar kompetensi manajerial Mantri Pamong Praja untuk meningkatkan keterkaitan dengan dimensi tersebut serta meningkatkan kreativitas pegawai.

Dari data Inovasi Government Award (IGA) yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 2020-2022 Kota Yogyakarta terdapat 13 kemantren dari total 14 kemantren yang telah melakukan penerapan inovasi Kemantren yang terbanyak mengeluarkan inovasi adalah Kemantren Jetis dengan jumlah sebanyak 4 inovasi. Namun apabila melihat dari jumlah inovasi yang dikeluarkan oleh seluruh perangkat daerah di Pemerintah Kota Yogyakarta, rata-rata setiap perangkat daerah sudah mengeluarkan sebanyak 2,09 inovasi. Jika dicermati lebih lanjut terdapat sebanyak 50 % atau7 kemantren yang mengeluarkan inovasi di bawah rata-rata, dan juga sebanyak 50 % atau 7 kemantren yang mengeluarkan inovasi di atas rata-rata. Kondisi ini membuktikan bahwa kreativitas di tingkat pemerintahan kemantren perlu lebih ditingkatkan sesuai dengan amanat Perwal Nomor 77 Tahun 2022. Dengan adanya penambahan standar kompetensi manajerial Mantri Pamong Praja berkaitan dengan kreativitas maupun inovasi, diharapkan hal ini mampu meningkatkan inovasi di tingkat kemantren serta meningkatkan keterkaitan dimensi “Memiliki personal risk, serta memiliki perilaku yang tidak konvensional”. (Vis/Dwi)

Opini