WABAH Covid-19 merubah tatanan kehidupan di Indonesia, khususnya didunia pendidikan. Problem bermunculan seiring dengan serangan wabah ini. Mulai sejak kasus pertama di umumkan yaitu 3 maret membuat pemerintah mengambil sikap. Sekitar 2 minggu lebih setelah itu, tepatnya pada tanggal 13 maret pemerintah memberlakukan sistem “Work From Home” (sebut saja; WFH) dan “Studi at Home” (sebut saja; BDR).

Wabah ini semakin menyebar di area Jakarta, kenapa? Kita tahu bahwa Jakarta adalah salah satu central aktifitas dan perekonomian, maka untuk memutuskan rantai penyebarannya, pemerintah memutuskan untuk PSBB di wilayah itu mulai 10 April sampai 4 Juni 2020. Berjalannya waktu, pada 5 Juni munculah keputusan pemerintah dengan apa yang disebut “New Normal”, apakah yang normal? Wabahnya yang sudah tidak ada atau gerakan dan mobilisasi masyarakat yang dinormalkan? Tentunya adalah kegiatan dan mobilisasi masyarakatnya. Ini merupakah usaha pemerintah untuk tetap memulai kembali aktifitas dan usaha untuk menaikkan kembali stabilitas perekonomian masyarakat, tentunya dengan peraturan protokol kesehatan.

Para akademisi, anak-anak sekolah, mahasiswa, guru, dan dosen benar-benar merasakan dampak wabah ini dengan sangat signifikan, betapa tidak? Seluruh tatanan Kurikulum dan Kebijakan disekolah mulai dirubah, salah satunya adalah kebijakan pembelajaran “LURING” menjadi “DARING”. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Mendikbud No. 4/2020 (24 Maret 2020) tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19). Meskipun ini berjalan, namun tetap saja menemui batu terjal selama prosesnya, dan memunculkan problem-problem baru, baik itu berasal dari siswanya, orangtua siswanya, guru, ataupun sistemnya.

Banyak siswa yang mengeluh karena pembelajaran “DARING” membosankan, mengeluarkan banyak biaya untuk online, para orangtua siswa juga mengeluhkan karena bukan siswanya yang belajar namun mereka yang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, mahasiswa juga semuanya diliburkan mereka cuma rebahan dirumah sambil online belajar bersama dosennya, begitu juga dengan guru dan dosen.

Meskipun demikian, ada hikmahnya yaitu para akademisi (siswa, mahasiswa, guru dan dosen) sedikit atau banyak telah melaksanakan apa yang disebut dengan “literasi media tegnologi”, dan “literasi pengetahuan”. Bagi yang bernalar, tentunya berfikir, apakah ini yang disebut Disruptive Era? Apakah ini yang disebut dengan Dampak dari Revolusi Industri 4.0? atau akibat panjang dari Arus Globalisasi, dimana segala macam hal bisa di lakukan melalui dunia maya. Bagi yang keblablasan bernalar bisa berpikir ini adalah seperti sudah direncanakan apik oleh pihak tertentu, dan dunia telah di giring untuk hal ini semua, termasuk datangnya wabah ini. Ah, ini kan hanya teori konspirasi, lagi- lagi hanya manusia. Sudahlah. Hal terpenting adalah yang menjadi fokus tulisan ini yaitu pada bidang pendidikan dan pembelajaran bahasa Arab.

Juli 2020, Pembukaan sekolah berdasarkan zonasi Covid-19, dimana area sekolah yang berada pada zona aman maka boleh untuk mengadakan proses belajar dengan “LURING”. Namun demikian dalam konteks dunia   perkampusan   atau   perguruan tinggi, sampai saat ini kebijakan masih dalam bentuk pembelajara “DARING”. Beriringan dengan Covid-19 dan Kurikulum Darurat (PJJ),   Kemendikbud   ternyata telah lama menggodok apa yang dinamakan Kurikulum Belajar Merdeka dan Kampus Merdeka. Fokus dari proyek besar ini adalah pada 4 point yaitu 1) pembukaan program studi baru, 2) sistem akreditasi perguruan tinggi, 3)perguruan tinggi negeri badan hukum, 4) hak belajar 3 semester diluar prodi. 4 Point ini berdampak besar pada masa depan prodi-prodi di perguruan tinggi baik umum maupun Islam. Sebut saja pada prodi pendidikan bahasa Arab, apakah hal ini akan menjadi angin segar (solutif)?, atau akan menambah deretan masalah yang belum terpecahkan (problematik). Inilah yang menjadi fokus tulisan ini.

Berbicara kurikulum baru banyak pro dan kontra nya. Dimana-mana seperti itu di berbagai negara manapun. Setiap kebijakan besar pasti akan menuai dan berdampak beberapa hal. Apalagi ini urusannya dengan pendidikan dan kurikulum. Kurikulum ibarat “vitamin” yang akan di minum oleh generasi bangsa.

Apakah vitamin itu mengandung nutrisi yang bergizi atau mengandung “racun”. Hal itu akan menentukan perkembangan generasi bangsa ke depan. Dalam konteks “Solutif”, bahwa kurikulum kampus merdeka tentu akan membawa oksigen baru dalam dunia perguruan tinggi, terutama pada perkembangan bahasa Arab sebagai bahasa asing yang di minati oleh mahasiswa.

Pembukaaan prodi pendidikan bahasa Arab akan lebih mudah dan tidak banyak aturan, bisa jadi proposal pembukaan prodi lebih disederhanakan dan tidak memuat banyak standar. Akreditasi akan lebih mudah pula, prodi PBA yang tidak mengajukan akreditasi pada deadline waktunya tidak akan merubah nilai akreditasi sebelumnya, namun bagi kampus yang mau mengajukan akan di proses lebih lanjut. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi prodi PBA khususnya dan semua prodi pada umumnya. Bisa jadi bahasa Arab akan banyak diminati mengingat arah pembelajaran bahasa Arab saat ini tidak hanya pada tujuan untuk pemahaman Agama islam, namun sudah pada tingkat yang lebih duniawi yaitu tujuan pragmatis.

Dalam kurikulum KKNI dan arah kebijakan pendidikan Abad 21, podi pendidikan bahasa Arab mengarah kepada kompetensi afektif dan psikomorik, kecakapan hidup dan pengembangan karier. Standar lulusan pendidikan bahasa Arab tidak hanya menjadi pendidik, namun diarahkan juga untuk menjadi peneliti, penulis, dan interpreneur. Seiring dengan ini, bahwa dalam kurikulum kampus merdeka mahasiswa wajib mengambil jurusan lain selama 3 semester baik dalam kampus maupun luar kampus. Jadi mahasiswa bisa mengambil jurusan lain baik di dalam kampus atau magang diluar kampus, bebas memilih sesuai keinginannya, ini mengacu kepada sifat merdeka belajar itu.

Hal ini mengacu kepada tujuan dari belajar merdeka itu sendiri yaitu belajar untuk bebas dan tidak mengekang dan belajar dalam konteks pengalaman kerja nyata, pengembangan karier dan trans-disipliner. Hal ini tentunya berdampak jauh pada pengembangan sumber daya manusia indonesia yang semakin matang dan berpengalaman, mampu beradaptasi pada semua bidang tanpa mengacu kepada latar belakang pendidikan atau ijazah.

Hal yang menjadi utama dalam peradaban manusia adalah bukan latar belakang pendidikan, namun soft skill dan hardskill manusianyaitu sendiri. Manusia akan berkembang jika memiliki soft skill untuk mampu berdikari, dan beradaptasi dengan lingkungan, berinovasi, dan kreatif berkehidupan. Dalam konteks sumber daya bahasa Arab, tidak hanya menjadi guru, namun juga bisa menjadi peneliti handal, penulis ulung, dan bisnis men. Angin segar ini harus direspon dengan baik dengan segala kesiapan mental dan materi sebuah perguruan tinggi dan semua lini pendidikan.

Berbicara  solutif,  tentunya  ada  hal  “problematik”  yang  harus  diperhatikan dampak dari kurikulum merdeka belajar ini. Hal yang menjadi perhatian penting adalah pada kesiapan sumber daya pengajar (dosen). Dosen harus di upgrade skillnya baik skill kompetensi pendidiknya, kompetensi kebahasaannya, dan kompetensi tegnologinya. Seiring dengan kurikulum merdeka dan perkembangan tegnologi, tidak menutup kemungkinan setengah dari model pembelajaran akan menggunakan model “DARING”, maka skill tegnologi dosen harus di upgrade.

Disamping itu, bagaimana dosen akan mampu melaksanakan standar kurikulum kampus merdeka, dan arah pendidikan Abad 21 kalau skill mendidik, skill akademik, skill kebahasaan, dan skill menulisnya tidak di upgrade juga. Ini menjadi PR, khususnya bagi kampus-kampus swasta yang merangkak, bahwa untuk merealisasikan ini semuanya membutuhkan banyak biaya dan tenaga. Kampus-kampus harus menyelenggarakan banyak pelatihan, workshop, dan seminar-seminar untuk dosennya.

UIN Sunan Kalijaga sudah merespon baik  kurikulum  merdeka  ini,  beberapa  bulan  yang  lalu,  fakultas  tarbiyah  telah mengadakan webinar tentang: “Kebijakan Kurikulum Uin Sunan Kalijaga Mengacu kepada Kurikulum Kampus Merdeka”, banyak hal yang akan dirubah mulai dari akar yaitu pedoman kurikulum universitas sampai ke batang dan rantingnya yaitu fakultas dan jurusan. Ini adalah PR besar bagi seluruh perguruan tinggi. Kurikulum ini akan diberlakukan untuk angkatan baru 2020-2021.

Ada 1 hal penting yang menjadi perhatian dalam aktualisasi kurikulum merdeka ini yaitu pada point 3 semester mengambil pada jurusan lain dan bisa di luar kampus. Bagaimanakah sistemnya, apakah kampus akan bekerjasama dengan perusahaan?, lalu bagaimana prosesnya?, dan penentuan pemilihan perusahaannya. Misalnya; dalam konteks prodi pendidikan bahasa Arab, bagaimana sistem kebijakan kerjasama dengan perusahaan diluar kampus?, lalu perusahaan seperti apa yang ada hubungannya dengan bahasa Arab?, Lalu bagaimana model bekerjasamanya?.

Mungkin inilah pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi stimulus bagi setiap penyelenggara pendidikan di ranah perguruan tinggi. Hubungannya dengan bahasa Arab, mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga kursus dan pelatihan bahasa Arab. Jika lebih jauh dalam konteks bahasa. Prodi pendidikan bahasa Arab bisa bekerja sama dengan lembaga kursus bahasa asing seperti Inggris, Jerman, Cina, Turki dan sebagainnya. Semua ini membutuhkan peran dan kesiapan perguruan tinggi dalam hal mental dan materi. (ila)

*Penulis merupakan Dosen STAI Masjid Syuhada Jogjakarta

Opini