RADAR JOGJA- Di era pandemi ini, seluruh aspek dan sendi kehidupan masyarakat jelas terpengaruh dengan berhentinya pergerakan dan mobilitas masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus.

Tanpa terkecuali, sektor seni dan industri kreatif menjadi salah satu sektor yang paling terdampak dari pandemi ini. Di tengah upaya berbagai pihak untuk mengakhiri bencana ini dengan merendahkan mobilisasi, industri kreatif dan seni dituntut untuk terus bertahan menghadapi permasalahan yang tidak mudah.

Salah satu bagian dari sektor seni dan Industri kreatif yang menghadapi permasalahan ini adalah Para pembatik dan pelaku usaha dalam Industri batik di Indonesia.

Mengingat bahwa hasil karya mereka merupakan barang tersier yang tidak termasuk dalam kebutuhan penting di era pandemi ini, Industri batik tengah berjuang untuk dapat mempertahankan keberadaanya di tengah menurunya minat dan permintaan terhadap karya adiluhung bangsa di atas sebuah kain ini.

Krisis yang dialami Industri batik ini menjadi permasalahan yang hendak dientaskan oleh mahasiswa yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata dari Universitas Gadjah Mada. Dengan mengadakan acara Pekan batik sebagai sebuah media sosialisasi dan forum diskusi untuk berbagi kreatifitas, para generasi muda berusaha untuk mencurahkan ide, semangat, dan kreatifitasnya untuk berkontribusi meningkatkan resiliensi industri batik di era pandemi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Anggun Maharani S. P, mahasiswi Alih Program Bahasa Inggris ini menggagas pentingnya forum diskusi untuk pengembangan Industri batik. Bersama para mahasiswa lain sebagai pemateri yaitu Rizal Hendra Pratama, Abednego Andhana Prakosajaya, Gita Yasinastiti, Yashinta Ratih, Niken Azzahra F, Sarah Hannah Mandari, dan Shakira Amaranta serta Vincentius Ryo S. sebagai moderator dan Julius Cipta Jaya selaku dokementer, kegiatan Pekan batikpun mulai direncanakan dan sukses dilaksanakan pada tanggal 14-15 Agustus 2021.

Kegiatan pekan batik ini pada mulanya dilaksanakan dengan sasaran Industri batik di Desa Ngentakrejo dan Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo.

Akan tetapi mengingat besarnya dampak pandemi Covid-19 terhadap Industri batik secara keseluruhan, acara ini didedikasikan untuk pengembangan Industri batik di Nusantara secara keseluruhan.

Acara dengan semboyan Nanggo batik ben katon becik ini dilaksanakan secara daring. Adapun acara ini dimulai pada pukul 09.00 pagi pada tanggal 14 Agustus 2021 dengan pembukaan yang dihadiri oleh Kepala Desa Gulurejo dan secara resmi dibuka oleh Ibu Bernadette Josephine Istiti Kandarina selaku Dosen Pembimbing Lapangan Mahasiswa KKN-PPM UGM.

Acara dimulai dengan peragaan media Artsteps sebagai sarana pameran online bagi para pelaku Industri batik. Dengan adanya program ini, diharapkan industri batik tidak lagi memandang pandemi sebagai sebuah keterbatasan melainkan sebuah kesempatan untuk terus berinovasi menelusuri segala peluang yang ada.

Acara kemudian dilanjutkan dengan peragaan pembuatan kain dua lapis sebagai upaya para pembatik untuk merambah peluang masker batik sebagai produk baru yang menjadi kebutuhan utama di era pandemi.

Tidak kalah menarik, adalah sesi live drawing session yang merupakan peragaan proses menggambar animasi dengan tema batik. Pelaksanaan sosialisasi pemasaran batik melalui E-Commerce dilakukan oleh para mahasiswa dengan harapan terbukanya pangsa pasar baru bagi para pengerajin batik. Acara pada hari ini kemudian ditutup dengan pengundian doorprize berhadiah bagi para peserta.

Pada hari berikutnya, pekan batik kembali dilaksanakan pada pukul 9 pagi dengan materi penyuluhan metode pembuatan batik warna alam dan motivasi bagi pembatik serta berbagi pengalaman strategi bagi industri batik untuk menghadapi tantangan pandemi ini. Acara dilanjutkan dengan peragaan pewarnaan untuk live drawing session kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi pembuatan batik bagi pemula.

Keseluruhan acara pekan batik ini tidak hanya berfokus pada upaya untuk mengembangkan resiliensi industri batik di era pandemi tetapi juga mewujudkan suatu industri batik yang berkelanjutan dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan sosialisasi bahaya limbah batik bagi kesehatan dan sosialisasi pencegahan resiko penyakit yang dapat timbul akibat membatik.

Tentunya dengan beragam cakupan materi yang didiskusikan, kegiatan ini merupakan bukti nyata generasi muda untuk melestarikan dan terus memajukan Batik sebagai warisan budaya kebanggaan bersama di era pandemi maupun pasca-pandemi. (*/sky)

Opini