ADANYA pandemic Covid-19 ini membuat proses belajar mengajar di sekolah menemui gaya baru. Sudah hampir satu tahun tak ada sekolah tatap muka, semua dilakukan secara daring (online). Kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan via Zoom, Google Class, Google Meeting, dan menggunakan aplikasi lain yang disesuaikan oleh masing-masing sekolah.

Di awal pemberlakuannya tentunya ada banyak sekali keluhan. Mulai dari perilaku siswanya sendiri yang kurang aktif dalam menjalankan KBM online, terbatasnya kuota data yang dimiliki guru dan siswa, hingga keterbatasan bahan ajar yang dimiliki oleh guru. Intinya pada awal KBM online ini semua belum siap, baik dari segi SDM hingga teknologinya. Namun, seiring berjalannya waktu, adaptasi dijalankan, dan pada akhirnya ternyata sekolah daring oke-oke saja.

Ada kelebihan dan kekurangan dari KMB daring. Itu pasti. Namun, adanya KBM daring ini ada satu esensi penting yang harus disadari bahwa belajar tidak harus di kelas. Bahwa belajar tidak harus duduk manis sembari mendengarkan guru di sekolah. Patut disadari pula bahwa sekolah tak boleh mempersulit setiap orang untuk belajar. Jadi dimanapun anak-anak sebetulnya bisa belajar, tinggal lingkungan di sekitarnya mendukung atau tidak.

Menurut Pendiri Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih, anak adalah mahaguru bagi dirinya sendiri, mereka hanya butuh kesempatan dan kepercayaan orang dewasa di sekitarnya. Bagi praktisi pendidikan ini anak-anak hanya butuh dipercaya. Karena menuntut ilmu bisa dimana saja, belajar bisa dari siapa saja.

Pandemi Covid-19 ini justru memperlihatkan hal-hal yang selama ini tak mungkin dilakukan, justru dapat diwujudkan. Utamanya dalam proses belajar, sebab pendidikan anak bukan dititikberatkan pada sekolah saja, tetapi juga peran orang tua di rumah begitu pula lingkungan di sekitar anak. Keterlibatan elemen-elemen pendidikan, yakni sekolah dan guru, anak didik, dan orang tua dapat diaplikasikan secara nyata. Termasuk didalamnya keberpihakan pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana pendidikan.

Ini menjadi relevan dengan konsep Merdeka Belajar yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim.   Merdeka Belajar ini merupakan salah satu langkah untuk membebaskan unit-unit pendidikan untuk melakukan inovasi sesuai dengan kearifan lokal dan menyesuaikan kondisi KBM berjalan.

Pada intinya teknologi atau platform digital hanya menjadi sarana, esensi terpenting tetap pada SDM dan keterlibatan elemen pendidikan lain termasuk didalamnya adalah orang tua yang mendukung anak-anaknya di rumah dalam belajar secara mandiri. (*)

Opini