DALAM BERMASYARAKAT, saya dan suami tidak dikenal bercirikan identitas agama tertentu. Sesuatu yang sengaja disepakati dengan beberapa alasan. Bagi kami, hubungan dengan “Tuhan” sangat personal, lalu merasa tidak memiliki kebutuhan untuk menunjukkan bagaimana beragama, yang lagi-lagi juga sangat personal.

Sekian lama menjadi perantau, yang jauh dari kampung halaman dan tentunya zona nyaman berupa sanak saudara, kerabat dan lain-lain jauh di mata, mungkin juga memotivasi kami untuk selalu melebur dalam lingkungan yang semakin heterogen. Beberapa orang memang jadi bertanya-tanya, kapan sebenarnya Ivy yang mereka kenal perlu diucapkan selamat hari raya.

Biasa mereka memilih mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek, terkait dengan perawakan saya yang menunjukkan keturunan Tionghoa Indonesia. Atau mereka berasumsi sendiri mengucapkan Selamat Natal atau yang paling aman, Selamat Tahun Baru. Respon awal mulai dari, saya tidak merayakan dan lama kelamaan lebih kepada terima kasih, mengingat berarti masih diperhatikan keberadaannya oleh teman-teman sekitar.

Konsep Impersonal God dan Sekilas tentang Aliran Agama Buddha

Sesungguhnya, saya dan suami adalah umat Buddha, aliran Mahayana, sekte Nichiren Syosyu; yang di Indonesia dikenal dengan nama Majelis Nichiren Syosyu Buddha Dharma Indonesia
(MNSBDI). Apakah teman-teman jadi paham dengan penjelasan itu?

Mungkin yang teman-teman tahu hanya agama Buddha saja. Seorang teman sampai bertanya pada saya, bukannya Agama Buddha cuma satu saja? Dia membandingkan dengan informasi dari Yesaya Sihombing, teman kami yang juga Pendeta Gereja Pentakosta Wonosobo. Agama Kristen yang dikenal awam biasa disebut agama Kristen Protestan, yang memiliki aliran Lutheran, Calvinis, Bala Keselamatan, Baptis, Anabaptis, Metodis, Anglikan, Pentakosta dan Kharismatik. Bila kemudian ada yang mengatakan mereka umat Kristen HKBP atau GKJ, itu bukan aliran melainkan sinodenya. Atau ketika kita bicara Islam, kita akan membahas tentang kelompok Sunni dan Syiah serta ormas Islam, Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah.

Pada kenyataannya, Buddha memiliki banyak aliran, kitab suci yang menjadi pegangan juga berbeda, vihara juga berbeda. Agama Buddha tidak mengenal Tuhan sebagai person, termasuk tidak menganggapnya pencipta dan pengatur kehidupan. Konsep KeTuhanan lebih pada Impersonal God, sebuah kekuatan hukum Alam Semesta, yang membuat segala sesuatu di dunia ini bergerak dan berproses sebagaimana mestinya. Sehingga cara berdoa dan bersembahyang pun berbeda esensinya. Berdoa, bersembahyang atau ada yang mengatakan bermeditasi, lebih kepada tindakan mengevaluasi diri, menganalisa permasalahan, bukan meminta untuk dibantu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.

Meski dalam Dictionary.com membahas pengertian Buddha dari beberapa tinjauan, seperti Buddha dalam arti sosok Sidartha Gautama yang sebelumnya pangeran kemudian memperkenalkan ajaran Buddhisme kepada dunia saat itu, sehingga belakangan dikenal sebagai Buddha Gautama. Lalu Buddha dalam arti Guru-guru yang mengajarkan paham Buddhisme dan menyebarkannya, tentu saja selain Buddha Gautama. Dan yang terakhir barulah Buddha dalam arti seseorang atau bahkan setiap orang yang mencapai kesadaran dan pencerahan hidup lalu mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari.

Tinjuan terakhir inilah yang lebih tepat untuk dikaitkan dengan Tuhan sebagai Impersonal God serta bagaimana proses umat Buddha berdoa. Bagaimana ketika ada permasalahan, diri sendiri yang mengevaluasi dan melihat ke dalam, mencari penyebab mengapa hal itu terjadi. Jadi Buddha bisa dikatakan atau bahkan disematkan kepada setiap orang yang sadar, yang bisa melihat ke dalam diri termasuk bisa menerapkan segala nilai-nilai kebaikan yang dipelajarinya dalam setiap tindak laku kehidupan.

Mitos/Stereotip Pemeluk Agama Buddha

Lalu, apakah ada asumsi bahkan mitos tentang umat atau penganut ajaran Buddha? Ternyata banyak, dan berikut empat contoh di antaranya.  Mitos pertama, penyabar dan bertutur kata halus. Itu mitos dan mungkin banyak digambarkan untuk memberikan asumsi bahwa diharapkan semua yang mempelajari ajaran Buddhisme akan bisa melakukan hal itu juga. Namun perlu dipikirkan bahwa tak semua umat Buddha sanggup bersikap seperti seorang Bhiksu yang sudah melalui pertapaan dan tingkat kesadaran yang bisa menahan hawa nafsu. Ada yang tidak selalu paham di mana dia beragama Buddha karena diturunkan oleh orang tuanya. Ada yang hanya datang saat upacara keagamaan saja, ada yang rajin sembahyang namun tak paham ajaran. Umat Buddha bisa marah juga seperti orang lain.

Kedua, Imlek dan bersembahyang di Kelenteng. Asumsi ini kebanyakan sering saya temukan dari teman-teman yang belum paham. Bahwa sebenarnya tempat beribadah umat Buddha adalah Vihara, Kuil atau dalam Bahasa Inggris disebut Buddhist Temple. Bukan klenteng, yang lebih tepat menjadi tempat berdoa bagi penganut Tao dan Konfusius.

Setiap kuil, vihara Buddha memiliki area altar pemujaan dengan gambar atau patung Buddha serta bagian bentuk bangunannya mengandung banyak unsur di alam semesta. Desain yang dibangun tergantung aliran ajaran Buddhisme. Vihara Ajaran Theravada yang banyak berkembang di Asia Selatan dan Asia Tenggara; sedikit berbeda dengan Ajaran Mahayana di Asia Timur seperti, Jepang, Cina dan Korea serta Ajaran Mahayana di Asia Tengah seperti di Tibet dan Mongolia. Jadi bila Anda bertanya mengapa kuil-kuil di Jepang berbeda dengan kuil di Thailand , berbeda lagi dengan di Mongolia; itu karena memang berbeda ajaran Buddhisme yang melatarbelakanginya.

Mitos ketiga, hanya ada satu aliran saja. Ajaran Buddhisme ini sudah berkembang sedemikian rupa. Seperti disebut di atas, area penyebaran telah meluaskan cakupan perkembangan Buddhisme ke berbagai pelosok dunia.

Dari situs www.diffen.com/difference/Mahayana_vs_Theravada dibahas salah satu yang jelas membedakan ajaran Theravada dan Mahayana adalah tentang tujuan agama ini. Mahayana bertujuan menjadi Buddha dan memenuhi takdir sebagai Bodhisatva, mencapai kesadaran dan ketenangan hati. Sementara aliran Theravada, lebih kepada pembebasan pikiran, menjadi Arahat atau orang suci dan membebaskan diri dari penderitaan.

Ajaran Buddha Mahayana biasanya mengikuti Siddhartha Gautama (Sang Buddha) tapi tidak menutup kemungkinan, ada tokoh suci lain, dianggap kehadiran Buddha baru seperti kehadiran Amitābha  maupun Nichiren Daisyonin. Sementara Ajaran Theravada hanya mengikuti ajaran Sidharta Gautama. Mengikuti penyebaran agama Buddha di dunia, bisa dilihat seperti pada cerita legenda Sun Go Kong, di mana sang Guru sedang mencari kitab ke Barat.

Mitos empat, Tionghoa sudah pasti Buddha. Asumsi ini mungkin bercampur baur dengan asumsi tentang tempat beribadah umat Buddha di Klenteng. Kenyataannya, saat perayaan Waisak di Borobudur, banyak bermunculan wajah-wajah yang bukan warga keturunan Tionghoa. Berbaur di situ orang-orang Jawa yang sudah memilih agama Buddha dan meninggalkan tradisi Kejawen. Seperti di daerah Wonomulyo,  Jawa Timur penduduknya sangat lentur dalam hal beragama. Ketika pemimpin mereka memilih Hindu mengikuti tradisi sebagai keturunan Majapahit, semua penduduk mengikuti. Demikian halnya ketika pemimpin memilih memeluk Buddha aliran Theravada, semua mengikuti. Lalu kemudian beralih ke aliran Nichiren Syoshu, semua penduduk juga mengikuti. Hal ini seperti diceritakan oleh Dhyana Dharmasurya, salah satu pandita Majelis Nichiren Syosyu Buddha Dharma Indonesia (MNSBDI) melalui percakapan WhatsApp dengan saya, baru-baru ini.

Saat ini juga semakin banyak ditemui, wajah-wajah bukan keturunan Tionghoa yang beragama Buddha. Umumnya mereka menemui kesadaran sendiri untuk menganut agama ini, bukan meneruskannya dari orang tua seperti yang umumnya terjadi dulu.

Sebaliknya, tidak semua warga keturunan Tionghoa pasti beragama Buddha. Dari sebelas cucu kakek, hanya saya dan kakak yang beragama Buddha. Yang lainnya beragama Katolik atau Kristen Protestan. Beberapa alasan terutama dari generasi mudanya, mungkin lebih pada pendapat beragama Buddha itu tidak keren, tidak hype.  Oleh karenanya kini beberapa aliran agama Buddha, mengupayakan beberapa kegiatan yang kekinian agar anak mudanya lebih mau terlibat dengan kegiatan keagamaan, seperti penuturan Dhyana mewakili MNSBDI.

Menjadi “Buddha”

Kembali kepada judul, lalu bagimana menjadi “Buddha” dalam keseharian? Pernyataan itu mengandung arti, bagaimana menerapkan ajaran Buddhisme dalam segala tindak tanduk, sikap dan perilaku kita. Jujur saja ini lebih sulit dari tekunnya kita menghafalkan kitab-kitab ajaran atau terus menerus bermeditasi tanpa henti. Mengapa? Karena godaannya banyak dan nyata.

Saya mengambil contoh satu aspek saja, yaitu cinta kasih dalam agama Buddha dan bagaimana menantangnya penerapan bersikap cinta kasih dalam hidup sehari-hari. Seorang kolumnis Kompas, Karim Raslan pernah mewawancarai Bhikkhu Badrapalo yang selalu beribadah disertai meditasi di Vihara Jina Dharma Sradha Gunung Kidul.

Kata Beliau, Agama Buddha mengajarkan bahwa cinta kasih adalah kebutuhan dasar manusia dan bersifat universal. Tidak terbatas hanya untuk orang-orang tertentu, tidak memandang latar belakang seseorang, dan tidak mengharapkan timbal balik. Artinya, segenap alam dan mahluk hidup yang ada di dunia ini harus kita cintai. Sebab, mereka juga membutuhkan kehidupan dan kebahagiaan.

Kita biasa berharap, kalau sudah mencintai, memperhatikan nanti akan mendapat imbalan yang sama. Kita lupa bahwa berhadapan dengan manusia yang segala sesuatunya, perasaan dan pikirannya, sama kompleksnya. Mungkin sama-sama juga memiliki permasalahan dan tak semudah itu juga mencintai dan memperhatikan orang lain.

Ini baru satu hal saja, yaitu konsep cinta kasih. Belum halnya memahami dan merasakan penderitaan orang lain seperti yang diajarkan dan dteladani dari Sang Buddha. Sungguh tak mudah menjadi “Buddha” dalam keseharian kita. Bagi saya sendiri, ini masih sebuah perjalanan dan proses yang panjang seumur hidup. Akan tetapi tak berarti tak bisa untuk dijalankan, bukan?

Menjadi Buddha adalah menyadari, bahwa banyak hal baik yang diajarkan dalam agama adalah untuk diresapi dan diaplikasikan dalam hidup kita sehari-hari. Bukan cuma teori yang tersimpan dalam catatan saja. (ila)

*Penulis merupakan peserta Beasiswa Literasi Media Perempuan Lintas Iman yang diselenggarakan Srili dan Cika –Jogjakarta.

Opini