REMAJA (usia 10-18 tahun) atau siswa SMP dan SMA merupakan kelompok yang akan mengisi ruang dan waktu sebagai generasi emas Indonesia tahun 2045. Pada  kelompok usia tersebut boleh dibilang tidak mengenal dunia tanpa smartphone serta berbagai platform media sosial seperti facebook, twitter, whatsapp, instagram, dll.

Sekitar 10 jam atau lebih sehari waktunya dihabiskan untuk berselancar di dunia maya. Secara umum generasi tersebut cenderung bersifat mandiri, independent dalam bekerja dan belajar.

Beberapa catatan yang masih menjadi keprihatinan adalah berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2018. Itu menunjukkan jumlah remaja yang anemia sebanyak 32% artinya terdapat 3-4 dari 10 remaja yang menderita anemia.

Hal tersebut disebabkan oleh asupan gizi (khususnya zat gizi mikro) yang tidak optimal dan kurangnya aktifitas fisik. Itu dikarenakan jumlah tablet tambah darah yang diminum remaja putri baik yang diperoleh dari sekolah, fasilitas kesehatan maupun inisiatif sendiri sudah sangat tinggi yaitu 96-97,1%.

Keadaan masalah tersebut diperberat dengan perilaku gizi yang belum baik pada remaja  yang merupakan faktor risiko mengalami berbagai penyakit tidak menular dalam kehidupan selanjutnya seperti  DM, Jantung, Hipertensi, Stroke, Kanker, Ginjal, sebagai berikut:

  1. Jumlah remaja (usia 12-19 tahun) yang obesitas sebanyak 20,5%
  2. Kebiasaan konsumsi makanan manis ≥ 1 kali per hari ysebanyak 40,1%. Pada kelompok usia 10-14 tahun 50,4% dan kelompok usia 15-19 tahun 41%
  3. Kebiasaan konsumsi minuman manis ≥ 1 kali per hari kelompok usia 10-14 tahun 61,86% dan kelompok usia 15-19 tahun 56,43%
  4. Kebiasaan konsumsi makanan asin ≥ 1 kali per hari pada kelompok usia 10-14 tahun 31,4% dan kelompok usia 15-19 tahun 30,5%
  5. Kebiasaan konsumsi makanan berlemak/berkolesterol/gorengan ≥ 1 kali per hari pada kelompok usia 10-14 tahun 44,2% dan kelompok usia 15-19 tahun 43,8%
  6. Kebiasaan konsumsi makanan yang mengandung bumbu penyedap ≥ 1 kali per hari pada kelompok usia 10-14 tahun 78,5% dan kelompok usia 15-19 tahun 78,3%
  7. Kebiasaan konsumsi mi instan ≥ 1 kali per hari pada kelompok usia 10-14 tahun 11,6% dan kelompok usia 15-19 tahun 11,2%
  8. Tidak mengonsumsi buah dan sayur kelompok usia 10-14 tahun 15,3% dan usia 15-19 tahun 13,3%. Sedangkan yang mengonsumsi 3-4 porsi per hari kelompok usia 10-14 tahun hanya 14,1% dan usia 15-19 tahun 15,2%. Yang mengonsumsi ≥ 5 porsi perhari pada kelompok usia 10-14 tahun hanya 3,2% dan usia 15-19 tahun 3,6%. Dapat diartikan sekitar 96-97% remaja kurang mengonsumsi sayur dan buah.
  9. Aktivitas fisik yang kurang pada kelompok usia 10-14 tahun 64,4% dan kelompok usia 15-19 tahun 49,6%.
  10. Kurang Energi Kronis (KEK) wanita sebagai faktor risiko gangguan kehamilan dan melahirkan anak stunting sebanyak 14,5%. Pada kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 36,3% (paling tinggi diantara kelompok usia lain di atasnya)

Upaya  yang dapat dilakukan bagi semua stakeholder pembinaan remaja diantaranya adalah:

  1. Transformasi menu gizi seimbang dalam bentuk kekinian. Menciptakan menu gizi seimbang bagi remaja dengan mengadopsi preferensi menu-menu yang sedang in pada remaja tapi menggunakan modifikasi bahan-bahan yang bergizi dan metode pengolahan yang sehat. Misalnya: smoothy, molecular gastronomy, red velvet, corn dog, long potato stick, sajian makanan tradisional yang autentik, es krim charcoal, boba, thaitea, dlsb.
  2. Dukungan kebijakan publik yang positif, misalnya peraturan olahraga sebelum jam pembelajaran, penyediaan fasiltas publik untuk olahraga secara massal, pembinaan club/komunitas olahraga pada remaja, edukasi dan pemantauan makanan yang dijual di sekolah (aman dan bergizi)
  3. Strategi sosial marketing untuk pesan-pesan gizi seimbang yang dirancang khusus bagi remaja melalui berbagai platform media sosial
  4. Endorsement melalui publik figure remaja untuk sosialisasi dan testimoni pesan gizi seimbang

Sehingga sangat tepat sekali Hari Gizi Nasional ke 61 yang diperingati setiap tanggal 25 Januari tahun ini mengambil tema “Remaja Sehat, Bebas Anemia” dengan slogan “Gizi Seimbang, Remaja Sehat, Indonesia Kuat”. Mudah-mudahan bisa menjadi momentum bagi perhatian dan pemberdayaan kelompok usia remaja di bidang kesehatan dan gizi sehingga memiliki kemandirian dalam mengelola asupan gizi dan aktivitas fisik sehari-hari untuk tumbuh menjadi remaja yang sehat, bugar, dan berkualitas. Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan keadaan tersebut diantaranya:

  1. Mampu mengontrol kecemasan dan depresi
  2. Membangun kepercayaan diri, berekspresi, dan berinteraksi sosial
  3. Menunjukkan kinerja akademik yang lebih unggul
  4. Disiplin, kerja keras, sportif, motivasi kuat dan tidak mudah menyerah

Semoga menjadi perhatian dan pemikiran bersama sebagai tugas dan kewajiban kita agar remaja saat ini dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensinya. (ila)

*Penulis merupakan dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Jogjakarta dan OP Persatuan Ahli Gizi Indonesia

Opini