REVOLUSI INDUSTRI, Ekonomi dan Teknologi berdampak signifikan pada sektor pendidikan dan pembelajaran. Perkembangan ragam genre teknologi di era abad 21 (revolusi industri 4.0 menjelang 5.0) ini mempengaruhi perubahan arah orientasi dan konstruksi dalam pendidikan dan pembelajaran, tidak terkecuali pendidikan dan pembelajaran bahasa Arab.

Perkembangan dan pertumbuhan pembelajaran bahasa Arab di indonesia sangat cepat mengingat banyaknya orang asing (penutur arab) yang datang ke indonesia, banyaknya sarjana-sarjana indonesia yang belajar di jazirah arab dan timur tengah, banyaknya TKI-TKI yang lama di negeri Arab lalu datang kembali ke indonesia. ini merupakan arus besar dalam perkembangan pengaruh bahasa Arab di Indonesia, disamping itu bahasa Arab masih berimage sakral bagi sebagian masyarakat Indonesia karena bahasa Arab merupakan belahan dari doktrin-doktrin agama Islam.

Kemajuan teknologi semakin memudahkan orang untuk belajar bahasa Arab. saat ini, orang tidak perlu jauh-jauh untuk belajar bahasa Arab ke timur tengah namun cukup lewat jejaring sosial, internet, dan web-online. Melalui dunia maya ini, secara otomatis lingkungan berbahasa Arab terbentuk dengan sendirinya tanpa harus direkayasa dalam nyata. Pemerolehan bahasa Arab sebagai bahasa kedua sudah tidak menjadi hal yang mustahil dan sulit namun sudah menjadi hal yang sangat mudah.

Bahasa Arab pada saat ini, menjadi bahasa yang diminati dan familiar dikalangan akademisi, dan masyarakat sipil di berbagai belahan asia. Data menunjukkan bahwa bahasa Arab sudah mencapai daerah korea, jepang dan sekitarnya. betapa ini merupakan angin segar bagi syiar bahasa Arab itu sendiri. Stigma yang terbentuk bahwa bahasa Arab merupakan bahasa yang sulit dan rumit secara perlahan akan terkikis dan muncul dipermukaan bumi bahwa bahasa Arab sangatlah indah dan menjadi candu untuk dipelajari serta di dalami.

Model belajar bahasa di era abad 21 ini sangat beragam. Belajar bahasa Arab tidak hanya melalui bangku sekolah formal dengan biaya mahal, namun sudah sangat mudah dijumpai melalui kegiatan kegiatan tidak resmi dan informal melalui media sosial seperti facebook, WAG, instagram, telegram dsb.

Era pandemi saat sekarang ini, para akademisi dan praktisi bahasa Arab menggelar secara masif model pengajaran terkait bahasa Arab dengan menggunakan media webinar dan meeting online. Betapa teKnologi memudahkan orang dibelahan dunia khususnya di indonesia untuk belajar dan mengajarkan bahasa Arab. Mudah sekali orang indonesia sebagai penutur non arab untuk berinteraksi dengan penutur arab (pengajar) dari saudi, mesir, maroko, sudan, libanon, dan daerah daerah arab lainnya. senada dengan tujuan dari literasi abad 21 bahwa seharusnya memang teknologi itu menjadi wasilah atau alat untuk memudahkan orang dalam belajar bahasa, bukan sesuatu yang menyulitkan untuk belajar bahasa.

Namun fakta di lapangan masih banyak menunjukkan bahwa pegiat bahasa Arab masih gaptek dalam menggunakan teknologi, dinamika dan pergerakan tegnologi memaksa para guru dan siswa untuk lebih meng-upgrade kemampuannya dalam urusan teknologi. Siswa siswa tumbuh menjadi generasi milenial yang maunya serba instan dan praktis termasuk dalam belajar. Maka dari itu hal ini merupakan bentuk dari tantangan dan peluang bagi guru dalam mengembangkan kemampuannya sebagai pendidik yang profesional di era abad 21.

Tentunya ini merupakan problem yang perlu sedikit menjadi perhatian bagi para praktisi dan akademisi bahasa Arab. Salah satu problem yang menjadi perhatian adalah terkikisnya esensi belajar bahasa Arab di karenakan dampak teKnologi. orang-orang (pembelajar bahasa Arab) justru disibukkan dengan bagaimana menginovasi dan menciptakan teknologi untuk belajar bahasa Arab menjadi mudah bukan pada bagaimana menggunakan teknologi itu sendiri untuk memudahkan dalam mempelajari bahasa Arab. Bagaimana caranya menyadarkan akan hal ini yaitu dengan mereorientasi dan merekonstruksi arah esensi pembelajaran bahasa Arab itu sendiri.

Setidaknya Ada 3 reorientasi arah pembelajaran bahasa Arab yaitu bahasa Arab sebagai science, bahasa Arab sebagai tools, dan Bahasa Arab sebagai sense of Islamic. Bahasa Arab sebagai science yaitu sebagai ilmu yang selalu terus berkembang kajiannya dan risetnya. Bahasa Arab perlu diteliti misalnya dengan menulis artikel, penelitian bersifat literasi, penelitian lapangan ataupun research and development, bereksperimen menggunakan metode baru dan penelitian ilmiah lainnya.

Sebagai tools, bahasa Arab merupakan alat untuk berkomunikasi dan bertujuan khusus (aghrad khas), yakni memiliki kebutuhan khusus bagi para pembelajarnya sesuai kebutuhan masing-masing seperti memahami tafsir Qurán, percakapan bahasa Arab, untuk dunia pekerjaan, pariwisata, hubungan bilateral dua negara, alih bahasa, memahami kitab, train of trainer, memandu haji dan umroh dan lain sebagainya.

Sedangkan sense of Islamic, bahasa Arab merupakan bagian dari ritual keislaman, ruh keislaman itu kental terasa dengan menggunakan bahasa Arab itu sendiri, meyakini bahasa Arab adalah bahasa penghuni syurga sehingga penggunanya merasa “ruh” nya hidup dan bangga menggunakannya. Sehingga kita bisa menjiwai bahasa Arab itu sendiri karena telah menjadi bagian dari hidupnya, itulah makna bahwa bahasa Arab menjadi sense of Islamic.

Ketiga trilogi reorientasi inilah yang diharapkan mampu menyadarkan dan mengembalikan esensi dari belajar bahasa Arab itu sendiri agar tidak terbawa arus perkembangan teknologi yang mana pembelajar lebih condong berfikir dan fokus pada teknologinya bukan pada pemanfaatan teknologinya untuk belajar bahasa Arab.

Disamping itu, kajian-kajian dan pendekatan serta stategi baru harus muncul sebagai bentuk kebaruan (novelty) yang merupakan hasil dari interdisiplinary keilmuan agar semakin memudahkan dan menguatkan kecintaan terhadap bahasa arab dari berbagai sisi, segi dan bidang. (ila)

*Penulis merupakan dosen  STAI Masjid Syuhada

Opini