SAAT INI pandemi Covid-19 masih merambak di Indonesia, termasuk di Daerah Istimewa Jogjakarta. Banyak sektor-sektor usaha yang terkena imbasnya, salah satunya sektor pertanian dan peternakan. Artiseni Production, organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya, mengajak muda-mudi khususnya pelajar Sekolah Menengah Atas dan mahasiswa untuk peduli sesama melalui seni. Baik sebagai penikmat seni maupun sebagai pelaku seni.

Pada Rabu (28/10) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda Artiseni mengadakan Webinar “Puisi Alam-Alam Puisi”: Membedah Alam dalam Isi Tubuh Puisi di Koffee Wae Jogjakarta. Dihadiri Prof Dr Faruk Tripoli selaku budayawan dan guru besar FIB UGM, Muhammad Qadhafi MA selaku penulis, serta  Fitri Merawati, SPd, MA selaku penulis dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra UAD sebagai pembicara.

Acara ini merupakan acara pembuka dari rangkaian acara yang akan diselenggarakan oleh Artiseni Production mendatang. Melalui webinar, diharapkan para kaum muda lebih dulu mendapatkan arti mengenai alam.

“Seni kan adalah salah satu cara dalam melihat alam. Dalam puisi pun dari dulu sudah banyak sekali penyair yang berbicara tentang alam, bukti kita hidup berdampingan. Setelah berdikusi dan membedah puisi bersama para pembicara terkait strukturnya, bagaimana puisi dilihat, dibicarakan, diperlakukan dan lain-lain harapannya untuk ke depan kita para muda-mudi lebih mengerti tentang alam dan fenomena alam itu sendiri,” ujar Executive Producer Artiseni Budy Kurniawan.

Membahas persoalan antara manusia dan puisi, puisi alam, dan alam puisi, Prof Faruk Tripoli selaku narasumber utama mengimbau sejatinya alam memiliki arti dan konsep yang berbeda pada setiap manusia. Dengan begitu, tidak perlu memaksakan arti dan konsep yang dimiliki pada orang lain.

Menurutnya, alam merupakan kejadian yang satu waktu. Hanya terjadi saat itu lalu sudah. Ketika ada yang mengatakan gunung api meletus karena perbuatan manusia maka itu bukan suara alam lagi tetapi sudah menjadi suara manusia.

“Alam puisi artinya lebih baik kita tidak mengatasnamakan alam. Berbicaralah tentang alam ‘ini alam menurut saya’, ‘ini alam menurut pendapat saya’, dan orang lain boleh memiliki pendapat yang berbeda. Jangan sampai menjadi wakil alam lalu menjadi wakil Tuhan yang menganggap penting diri sendiri karena merupakan bagian dari wakil alam dan wakil Tuhan itu. Nah, itu yang berbahaya,” ujarnya.

Fitri Merawati menambahkan dengan mengimbau kepada para penyair atau penulis untuk tidak perlu memaksakan kehendak kepada alam karena butuh adanya sinergi jika menginginkan alam yang lebih baik. ”Saya rasa semua harus bersepakat kalo memang ingin membuat suatu perubahan, tidak bisa satu orang. Biarkan alam berdiri dengan caranya sendiri, sehingga kita tidak perlu punya ekspetasi terlalu tinggi untuk mengubah dunia hanya karena kita menulis tentang dunia itu,” tuturnya.

Webinar “Puisi Alam-Alam Puisi”: Membedah Alam dalam Isi Tubuh Puisi dan rangkaian kegiatan lain yang akan dilaksanakan mendatang dilakukan bersamaan dengan diadakannya  penggalangan dana. Donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada petani dan peternak ikan Jogjakarta yang terdampak pandemi. (*/ila)

Opini