HUBUNGAN antara Indonesia dengan Arab Saudi beberapa tahun terakhir ini sangat harmonis. Mulai kunjungan mega bersejarah Raja Salman Bin Abdul Aziz ke Indonesia pada 2017sebagai bentuk kunjungan balasan Presiden RI Bapak Joko Widodo pada 2015. Pada 2017 merupakan tahun penting dalam sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Saudi sejak didirikan 67 tahun yang lalu.

Ada jarak sekitar 46 tahun antara kunjungan pertama oleh Raja Saudi waktu itu adalah Raja Faisal yang datang ke Indonesia pada tahun 1970. Momentum ini menjadi momentum emas dalam intensitas interaksi antara pemerintah, komunitas bisnis, dan masyarakat antara keduanya. Ada 11 perjanjian antara kedua Negara ini di berbagai sektor pada tahun 2017.

Menelisik ke belakang, data Kementrian Perdagangan RI mencatat hubungan perdagangan indonesia-Kerajaan Arab Saudi fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2015-2016, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 5,4 miliar dan US$ 4,05 miliar. Pada 2017, nilai perdagangan kedua negara ini meningkat menjadi US$ 4,5 miliar. Arab Saudi pada tahun itu surplus karena ekspor minyak dan gas ke Indonesia. Pada tahun 2018 Arab Saudi menikmati surplussebesar US$ 1,78 miliar atau Rp 27 Triliun.

Keharmonisan ini sampai di istilahkan dengan nama SAUNESIA (Arab Saudi dan Indonesia)(dilansir dari matamatapolitik.com). Pada 2018, ada pertemuan tingkat menteri pertama dalam kegiatan evaluasi kemajuan dan program untuk mengatasi tantangan dalam hubungan bilateral.Pada sektor keagamaan, pemerintah Arab Saudi memberikan kerjasama berupa penambahan kuota haji sekitar 10.000 serta meningkatkan akomodasi hingga inisiatif Rute Makkah yang baru.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah-jemaah Indonesia dapat menyelesaikan proses masuk ke Arab Saudi di  Indonesia melalui bandara khusus. Ini merupakan inisiasi Penjaga Dua Masjid Suci yaitu Raja Salman dan Putra Mahkota, dalam program Transformasi Nasional Saudi 2020 dan Visi Saudi untuk melayani dan memfasilitasi para peziarah dengan lebih baik.

Keharmonisan itu dibuktikan tidak hanya dalam bidang Politik, Kebudayan, Ekonomi, dan Agama saja, namun juga dalam bidang Pendidikan.Pada tahun 2017 waktu itu, wakil presiden Yusuf Kalla meningkatkan kerjasama dibidang Bahasa Arab dan Ilmu Islam. Kerjasama tersebut direalisasikan melalui Universitas Islam Imam Mohammed bin Saud.

Ini merupakan implementasi dari kunjungan Raja Salman. Kunjungan Rektor Universitas Islam Imam Mohamed bin Saud, Sulaiman Bin Abdullah Aba Al-Khail kala itu merupakan realisasi kerjasama dalam bidang pendidikan bahasa Arab dan Keislaman. Bentuk kerja sama yaitu pemberian beasiswa dan program pendidikan di universitas-universitas di Indonesia.

Peresmian sejumlah lembaga ilmu dan Arab Saudi Corner telah dilakukan. Pemerintah indonesia dan Arab Saudi juga melakukan peningkatan kerjasama pada bidang pendidikan tinggi dan kebudayaan. Kesepakatan tersebut tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Menteri Riset, Tegnologi dan Pendidikan Mohamad Natsir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy dan Menteri Kebudayaan dan Informasi Kerajaan Arab Saudi Adel bin Zaid Al-Toraifi.

Kesepakatan ini disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Raja Salman. Muhadjir menyatakan pokok kesepakatan pada bidang promosi kebudayaan, festifal kesenian, sejarah warisan budaya, permuseuman dan perpustakaan. Ada sekitar 250 beasiswa di bidang sains dan mesin, namun peminatnya masih sedikit. Menurut Natsir, pendidikan tinggi Arab Saudi sudah sangat maju, beberapa kampus di Arab Saudi masuk Top Five Hundred World Class University.

Selain Universitas yang disebutkan diatas, ada lagi Universitas di Arab Saudi yang menjadi pelopor pengembangan bahasa Arab dan pengajarannya bagi masyarakat indonesia yaitu Ummul Quro. Ummul Quro melalui kerjasama dengan IMLA (Persatuan Guru Bahasa Arab Indonesia) dan Ponpes Darunnajah Jakarta memberikan beasiswa belajar gratis  selama 40 hari di Ummul Quro untuk para guru dan akademisi bahasa Arab di seluruh pondok pesantren dan lembaga pendidikan di Indonesia. Pembelajaran itu di namakan dengan Dauroh Shaifiyah limu’allimi al-Lughah al-Arabiyah.

Dauroh ini diadakan setiap tahun dan melalui proses pendaftaran dan seleksi se-Indonesia. Peserta harus mengirimkan beberapa data sebagai syarat administrasi ke Ponpes Darunnajah. Setelah itu diseleksi administrasi dan wawancara. Pendaftaran di mulai dari bulan September dan proses seleksi wawancara bulan maret. Ummul Quro telah mengadakan Dauroh ini sejak tahun 2007 sampai tahun 2020.

Pada tahun ini dengan adanya wabah Virus Covid-19, maka Dauroh di selenggarakan dengan Daring menggunakan aplikasi Cisco Webex mulai Ahad 9 Agustus hingga 4 minggu kedepan 6 September 2020, selama 4 jam pelatihan setiap hari.

Berbagai persiapan telah dilakukan dengan simulasi penggunaan aplikasi dan dengan antusias para peserta dari 24 lembaga perguruan tinggi, pondok pesantren dan lembaga pendidikan lainnya.  Pelaksanaan Dauroh Ummul Quro ini, meskipun melalui Daring, namun berjalan sampai selesai. Kendala pada keterbatasan sinyal saja dalam beberapa kali pertemuan via maya.

Kendala ini dialami oleh beberapa peserta yang ada di daerah pedalaman Sumatra dan Sulawesi. Syeikh Dr. Hasan Abdul Hamid Al-Bukhori selaku Dekan Lembaga Bahasa Arab di Ummul Quro menjelaskan bahwa meskipun ada wabah korona tidak menyurutkan semangat dan perhatian Ummul Quro dalam membina para pengajar Bahasa Arab di belahan dunia, khususnya Indonesia.

Peserta diberi bekal berupa materi-materi tentang aspek-aspek pembelajaran bahasa Arab seperti Maharah Istima, Kalam, Qiraah, Kitabah serta Unsur-unsur bahasa Arab seperti ilmu kaidah bahasa Arab (Suara, kata, dan kalimat). Adapun tujuannya agar para pengajar mampu mengajar Bahasa Arab dengan baik dan benar. (ila)

*Penulis merupakan merupakan dosen tetap di prodi Pendidikan Bahasa Arab di Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada Jogjakarta. Penulis juga sebagai dosen tidak tetap di prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Surakarta dan Tutor Bahasa Arab di Pusat Bahasa IAIN Surakarta.

Opini