PENERAPAN metode pembelajaran di sekolah yang sesuai dengan kondisi peserta didik belum membumi di Indonesia. Masih banyak guru yang belum menghubungkan pengalaman kehidupan nyata peserta didik dalam mata pelajaran yang diampu.

Selain itu mereka juga masih terpasung birokrasi, kurikulum yang dianggap teks sakral dan berbagai standarisasi. Birokrasi yang penuh dengan standar dan sertifikasi justru akan bersifat merusak dan menurunkan derajat pendidikan. Hal ini akan berdampak pada hilangnya kesempatan peserta didik untuk belajar dengan mandiri, kritis, kreatif, banyak bertanya dan malah justru menjadikan mereka peserta didik yang banyak menghafal.

Seperti dalam mata pelajaran pendidikan agama yang seharusnya bukan sekadar menghafal ayat tetapi bagaimana menanamkan karakter pro-sosial kepada peserta didik. “Biarlah anak ini jauh dari agama tapi dekat dengan kebaikan. Apa yang dibawa agama: kebaikan? Atau ganasnya kata “sesat”. Demikian petikan kalimat dari Novel Maryam karya Okky Madasari. Disinilah tanggung jawab sekolah itu sebenarnya yaitu mengasah kemampuan kognitif dengan menanamkan daya kritis dan berpikir logis peserta didik.

“Membawa” situs Sangiran dengan museum manusia purbanya ke sekolah atau pola belajar peserta didik di luar tembok-tembok sekolah mampu menjawab kondisi pendidikan di Indonesia yang kurang transformatif. Sebagai situs yang ditetapkan menjadi world heritage (warisan dunia) kita bisa belajar tentang budaya, paleoantropologi, arkeologi, evolusi manusia, geografi, biologi, geologi atau alam sekaligus berwisata.

Apalagi saat ini Museum Sangiran telah disulap menjadi sebuah museum dengan arsitektur yang megah dengan gaya yang modern. Ada lima museum klaster seperti meseum klaster Krikilan, Ngebung, Manyarejo, Bukuran dan Dayu yang kaya sumber khazanah pengetahuan. Tentu situs kunci yang telah diakui UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) ini sangat menarik dan berpotensi menjadi mitra sekolah dan universitas dalam mengembangkan pendidikan yang tidak ada tandingannya karena pendidikan tidak hanya menjadi disiplin ilmu tetapi juga membentuk identitas dan transformasi sosial. Pendidikan yang kritis akan mendorong peserta didik menemukan identitas dirinya.

Museum seharusnya dapat sejajar dengan keberadaan laboratorium dan perpustakaan dalam upaya menyehatkan ekosistem pendidikan di tanah air. Selain sebagai wahana berwisata atau rekreasi museum memiliki fungsi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian. Penelitian di bidang kepariwisaataan pun sangat cocok dilaksanakan di Museum Sangiran yang berada di dalam Kubah Sangiran di Depresi Solo yang berada di kaki Gunung Lawu ini karena saat ini telah menjelma menjadi objek wisata yang menarik. Bayangkan ketika dapat menyaksikan hamparan kebun bunga yang cantik berpadu dramatis dan kontradiktif dengan keberadaan gurun pasir yang tandus

Semua negara di dunia memiliki museum namun tidak banyak negara yang memiliki kawasan dengan jejak-jejak manusia purba yang lengkap seperti situs Sangiran. Bahkan situs Sangiran termasuk situs purbakala yang paling lengkap di dunia. Peninggalan budaya manusia purba dengan artefak batu, fosil manusia, fauna dan flora beserta koleksi replika manusia purba jenis homo erectus beserta gambaran stratigrafinya dapat kita temukan. Banyak hal-hal fundamental yang dapat kita pelajari dari situs Sangiran dalam usaha menyongsong masa depan bangsa yang lebih maju.

Pengalaman rohani saat berkunjung ke museum manusia purba di Kalijambe, Sragen membuka mata kita bahwa kita adalah bangsa yang mempunyai kekayaan budaya masyarakat pada masa lampau. Prestasi dan kejayaan peradaban nenek moyang bangsa Indonesia yang terus berkembang yang dibuktikan dengan situs prasejarah dapat menjadi collective memory bangsa agar dapat berpikir kritis, analitis dan kronologis. Inilah bentuk pembelajaran berbasis HOTS (High Order Thinking Skills) yang dapat membakar semangat dan pikiran kita agar tetap hidup atau a nursery of living thougt, meminjam istilah George B. Goode, praktisi dan ahli museologi dalam George dan Sherrell- Leo, 1989.

Kajian-kajian ilmiah yang didapatkan dari learning by observing cerita sejarah dalam wujud barang jadi (konkrit) di museum akan menjadi motor penggerak proses pendidikan yang hanya sekadar kajian teoritis menjadi begitu konstekstual sebagai mana dicanangkan dalam kurikulum 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Guru-guru yang memiliki kecerdasan relevansi akan sebanyak-banyaknya mempersentuhkan peserta didik dengan rasa tanggung jawab yang konstektual sehingga kondisi mental peserta didik dapat tumbuh dan berkembang menjadi orang-orang yang berkarakter dan bahagia (well-being). Antara pendidikan dalam hal ini sekolah dan kebudayaan seperti situs Sangiran ibarat ibu dan anak. Apabila seorang ibu selalu memberikan makanan-makan bergizi dan curahan atau sentuhan kasih sayang maka seorang anak juga akan tumbuh dengan dengan sehat secara fisik dan mentalnya.

Pembelajaran yang interaktif melalui interaksi langsung dengan koleksi peninggalan sejarah di daerah cagar budaya seluas 56 km persegi di sekitar Sangiran Early Man Site membawa kebahagiaan tersendiri. Apalagi penyajian narasi dan informasi ilmiah dan budaya yang begitu hidup dan interaktif menjadikan kegiatan-kegiatan ilmiah di situs Sangiran terasa tidak begitu kaku atau formal. Suasana yang santai dan nyaman menjadikan museum sangat layak dan strategis menjadi mitra para guru yang ingin mengajar dan mendidik peserta didik agar memahami concept of formation (konsep pembentukan) dan concept of discrimination (konsep diskriminasi) serta penguatan karakter.

Besar harapan situs Sangiran yang termasuk kategori objek wisata minat khusus sekaligus sebagai sarana pembelajaran yang strategis selalu mendapat pengelolaan yang baik dari Balai Pelestari Situs Manusia Purba (BPSMP) karena situs yang istimewa dengan lebih dari 50% temuan fosil manusia purba ini bukanlah kuburan barang rongsokan sebagaimana pemahaman terbatas masyarakat luas.

Akhirnya, tulisan ini penulis tutup dengan pernyataan George dan Sherell- Leo (1989) bahwa museum yang baik seharusnya dapat menjadi pintu gerbang bagi umat manusia untuk memasuki dunia di luar kita, entah itu berupa dunia yang diciptakan oleh kegiatan alam atau manusia, dunia yang ditemukan oleh para peneliti, dunia yang dibayangkan oleh para seniman, dunia yang telah diubah oleh teknologi, atau pun dunia tempat nenek moyang hidup dengan budaya yang berbeda. Saatnya, pendidikan melakukan transmisi kultural antara dunia luar dan peserta didik. (ila)

*Penulis merupakan Guru SMPN 4 Muara Teweh.

Opini