KEBERADAAN Kaum perempuan di kehidupan masyarakat sudah tidak asing lagi. Peter Carey dan Vincent Houben memperlihatkan, perempuan priyayi dan perempuan keluarga keraton di Jawa Tengah Selatan, hingga akhir Perang Jawa (1825-1830) di dalam buku mereka yang berjudul “Perempuan-Perempuan Perkasa Di Jawa Abad XVIII-XIX”.

Buku ini menyajikan sebuah pengantar singkat mengenai Sejarah Perempuan dan Kontribusi mereka dalam kehidupan sehari-hari di Keraton Jawa Tengah. Buku ini juga merupakan pengantar inspiratif bagi sejarawan untuk melakukan kajian yang lebih utuh dengan pendekatan baru atas Sejarah Indonesia dari pertengahan Abad ke-18 hingga era modern. Penulisan buku ini bukan hanya berfokus pada Jawa, melainkan juga mencakup keseluruhan Nusantara sebelum rezim kolonial Hindia-Belanda (1818-1942) dan ajaran islam modern yang melenyapkan budaya matriarki polinesia asli.(hlm.xv) Bahasanya sangat mudah dipahami sehingga memudahkan bagi pembaca untuk memahami alur ceritanya. Peter carey juga mengatakan bahwa buku ini di buat untuk memberikan jawaban tentang kekonyolan dengan menunjukkan situasi yang berlaku selama tatanan lama Jawa sebelum Perang Jawa (1825-1830). (hlm.xvii)

Buku Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX merupakan buku Sejarah  yang menjelaskan mengenai perempuan di Jawa pada Abad ke-18 hingga abad ke-19. Di awal buku ini di kisahkan sebuah cerita mengenai Sosok Perempuan Jawa dalam Sastra Kolonial Hindia-Belanda dengan memberikan pandangan yang paling menonjol dalam roman dan sandiwara karya pengarang kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang mengisahkan perempuan jawa dari kalangan elite atau kaum priyayi. Di dalam roman yang terkenal itu juga menggambarkan sosok perempuan yang digambarkan oleh Raden Ayu sebagai Boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan diri sendiri. Inilah tipe perempuan elok namun kepalanya kosong, menurut peter carey dan Vincent houben. (hlm.2)

Selanjutnya di dalam buku ini juga dijelaskan mengenai Nyi Roro Kidul dan sosok perempuan dalam wayang yang digambarkan oleh Ken Dedes dan Dewi Mudingsari yang menceritakan bahwa mereka itu panas dalam arti magis memiliki vagina bercahaya dan hanya lelaki yang mempunyai kekuatan gaib luar biasa yang dapat menikahinya.

Bahkan menceritakan sosok Drupadi yang setia pada sumpahnya untuk tidak mengikat rambutnya dan memakai perhiasan di kepalanya sebelum ia bermandikan darah Dursana.  Setelah itu buku ini menceritakan dua srikandi di Awal Abad ke-19, seperti Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Raden Ayu Yudokusumo adalah seorang perempuan yang punya kecerdasan tinggi, kemampuan besar, dan siasat jitu selayaknya laki-laki. Raden Ayu Kusumo menjadi salah satu dari panglima kavaleri senior Diponegoro di mancanegara timur dan kelak bergabung dengan Raden Tumenggung Sosrodulogo di daerah Jipang-Rajegwesi (Bojonegoro) dalam perlawanan terhadap Belanda di pesisir utara dari 28 November 1827 sampai 9 Maret 1828 (Louw dan De Klerck 1894-1909, III:510). (hlm. 29) Nyi Ageng Serang adalah seorang pahlawan nasional Indonesia juga ahli siasat dan strategi yang berjasa sebagai panglima perang pada Perang Jawa (1825-1830). Disinilah terlihat bahwa perempuan ini membuktikan bahwa mereka juga bisa turut andil dalam peperangan.

Selanjutnya di dalam buku ini juga menjelaskan mengenai Peran Perempuan di Keraton Jawa Tengah Selatan sebagai prajurit sekaligus anggota prajurit estri khususnya. Pembagian tugas antara perempuan dan laki-laki menyangkut financial dan urusan keuangan pada awal abad ke-19 (Raffles 1817, I:353)

“Dalam hal urusan uang, perempuan (Jawa) secara universal dianggap unggul dibandingkan pria, dan dari buruh umum sampai kepala provinsi sudah lumrah suami mempercayakan urusan uang sepenuhnya kepada istrinya. Hanya perempuan yang mengunjungi pasar dan melakukan semua bisnis beli. Ada pepatah bahwa pria (Jawa)sama sekali tolol dalam hal keuangan” (hlm.38)

Tampak jelas di Jawa Tengah Selatan di awal Abad ke-19, perempuan Jawa tetap memiliki hak adat yang kuat atas warisan terutama jika mereka memiliki tali kekerabatan erat dengan penguasa. Peran perempuan sebagai pemelihara pertalian wangsa, jejaknya terasa di bidang yang kemudian dianggap sebagai urusan laki-laki, yakni dunia militer dan politik.

Dalam bidang bisnis pun perempuan sangat mengambil peran itu, seperti tampak pada sosok  Ratu Kencono Wulan (sekitar 1780-1859), permaisuri ketiga Sultan Hamengku Buwono II. Sang Ratu menjelma menjadi seorang first lady yang luar biasa rakus dan dia memanfaatkan posisinya untuk meminta bagian dari keuntungan setiap proyek.

Hal lain yang diceritakan di dalam buku ini tentang penganiayaan dan perceraian yang menyorot sosok perempuan tangguh yang termasuk dalam golongan bangsawan, seperti Raden Ayu Notodiningrat. Raden Ayu Notodiningrat memutuskan untuk mengajukan perceraian karena begitu menderita dalam pernikahannya dengan Bupati Probolinggo yang kasar dan amat tidak sopan. Bupati Probolinggo telah memfitnah nama orangtuanya, membandingkannya dengan seorang pelacur, dan tidak memperlakukannya sesuai martabat Raden Ayu Notodiningrat sebagai bangsawan.

Kisah hidup tokoh-tokoh perempuan yang di tulis oleh penulis mulai dari riwayat keluarga, perjuangan, hingga masa akhir hidupnya. Mampu memberikan pelajaran yang dapat diambil saat membaca buku ini.

Dengan itu, dapat disimpulkan bahwa di balik sosok perempuan yang memiliki sifat lembut, dan halus, perempuan juga memiliki sifat tangguh, keberanian, dan ikut andil dalam membangun bangsa ini. Semoga buku ini dapat menginspirasi bagi perempuan-perempuan di Indonesia supaya dapat lebih berguna bagi Bangsa Indonesia. (ila)

*Penulis merupakan Mahasiswi Sastra/Sejarah Universitas Sanata Dharma

Opini