PEDAGANG di Katingan menjemput guru-guru agama dari Muhammadiyah Pusat untuk mengembangkan pendidikan dan agama di Hulu Sungai Katingan. Tepatnya, Tumbang Samba (Katingan Tengah) dan Tumbang Sanamang (Katingan Hulu), Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah.

Hal ini terjadi pada awal abad XX Masehi. Salah satu guru agama yang dijemput bernama Wuhaib Syarkawi. Beliau adalah teman seangkatan A.R. Fahruddin ketika kuliah di Zu’amma (Lembaga Dakwah Muhammadiyah).

Beliau adalah anak Raden Syarkawi. Raden Syarkawi adalah teman berdagang K.H. Ahmad Dahlan. Kisah ini direkam secara rinci dalam sebuah buku yang berjudul Perdagangan Menjemput Muhammadiyah Ke Katingan. Penulisnya adalah seorang guru besar Universitas Lambung Mangkurat yang bernama Prof. Dr. Rizali Hadi, MM.

Sejak Februari 2014, saya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara Pemerintah Daerah Kabupaten Katingan. Saya bertugas di SMP Negeri 4 Katingan Kuala. Sekolah yang terletak di Kecamatan Katingan Kuala (terkenal dengan sebutan Pegatan), Muara Sungai Katingan Kalimantan Tengah. Tidak jauh dari tempat saya tinggal adalah Laut Jawa.

Sejak tinggal di Kecamatan Katingan Kuala, saya mulai berinteraksi dan berkomunikasi secara intensif dengan suku lokal dan pendatang yang mendiami daerah ini. Suku Dayak dan Suku Banjar merupakan dua suku lokal di Muara Sungai Katingan. Sementara itu, suku pendatang jenisnya sangat beragam. Yang paling banyak adalah Suku Jawa.

Saya sering melakukan perjalanan lintas kecamatan di Kabupaten Katingan.  Menyusuri sungai dan daratan. Ada banyak hal menarik yang menjadi perhatian saya selama 6 tahun di kabupaten yang terkenal dengan sebutan Bumi Penyang Hinjei Simpei ini. Salah satunya  adalah perkembangan pergerakan Muhammadiyah di berbagai kecamatan.

Sambil melakukan perjalanan lintas kecamatan, saya sering melakukan observasi tentang pergerakan Muhammadiyah. Setelah melihat  sebaran massa dan amal usaha Muhammadiyah di Kabupaten Katingan, saya merasa heran. Mengapa di lingkungan tempat tinggal saya (Kecamatan Katingan Kuala) jarang/sulit/tidak  ditemukan  kader dan amal usaha Muhammadiyah? Yang banyak penulis temui justru kader Nahdatul Ulama’.

Sementara, di daerah Hulu Sungai Katingan (Kecamatan Katingan Tengah dan Kecamatan Katingan Hulu) banyak/ mudah ditemui kader dan amal usaha Muhammadiyah. Padahal, dari sisi geografis, harusnya Muhammadiyah dapat/lebih berkembang di Muara Sungai Katingan (Kecamatan Katingan Kuala) daripada di Hulu Sungai Katingan. Alasannya, Muara Sungai Katingan (dulu/ awal abad XX Masehi) merupakan tempat transit pedagang dari berbagai daerah, termasuk pedagang dari Pulau Jawa yang berorientasi ke Muhammadiyah.

Secara tidak sengaja, saya melihat status facebook seorang mitra kerja yang berkarir di Kecamatan Katingan Tengah. Beliau  bernama Challen Nur Aprilian, SPd. Beliau adalah seorang ASN dan penggerak Aisyiah di Kecamatan Katingan Tengah (Tumbang Samba).

Dalam status facebook yang diunggah pada akhir Desember 2019, beliau  mengunggah sebuah sampul buku yang berjudul “Perdagangan Menjemput Muhammadiyah ke Katingan”. Saya tertarik dengan judul buku tersebut.

Sebelum memegang dan membaca, dari sisi kalimat judul, buku tersebut terkesan unik dan menarik. Saya tidak sabar ingin segera memegang buku tersebut dan membaca isinya. Sepertinya, buku tersebut  mampu menjawab pertanyaan saya selama ini.

Keesokan, saya mencari nomor kontak ibu Challen Nur Aprilian. Saya berusaha menghubungi dan bertanya apakah saya boleh meminjam buku tersebut? Beliau merespons positif keinginan saya untuk memegang dan membaca buku yang menarik perhatian tersebut.

Awalnya, saya berkeinginan untuk mengambil buku tersebut langsung dari rumah beliau. Selain itu, saya juga ingin wawancara langsung dengan berbagai pihak terkait. Namun, saya menemui banyak kendala, utamanya harus menunaikan amanah pekerjaan yang cukup padat sepanjang maret sampai mei 2020.

Selain itu, saya tidak bisa menemui Challen dan wawancara  langsung dengan berbagai pihak terkait karena alasan waktu, biaya, dan tenaga. Untuk pergi ke Hulu Sungai Katingan (Kecamatan Katingan Tengah) dibutuhkan waktu yang lama, biaya yang banyak, dan cukup menguras tenaga.

Waktu yang dibutuhkan setidaknya satu minggu. Saya harus memulai perjalanan dengan naik taksi air L300 (sering disebut klotok) dari Kecamatan Katingan Kuala (Pegatan) menuju Sampit Kotawaringin Timur. Taksi tersebut berjalan menyusuri tiga sungai sekaligus, yaitu Sungai Katingan, Sungai Hantipan, dan Sungai Mentaya. Waktu yang diperlukan untuk menyusuri tiga sungai tersebut sekitar enam jam. Singkat cerita saya mendapatkan buku itu.

Dalam buku tersebut, Prof. Dr. Rizali Hadi, MM menyampaikan bahwa para pedagang (Kecamatan Katingan Tengah dan Kecamatan Katingan Hulu) menjemput guru-guru agama dari Pusat Muhammadiyah Jogjakarta. Kata menjemput menunjukkan bahwa para pedagang sangat aktif menjadi perintis dan penggerak muhammadiyah di tempat mereka tinggal saat itu.

Dulu, Kecamatan Katingan Tengah (Tumbang Samba) dan Kecamatan Katingan Hulu (Tumbang Sanamang) merupakan daerah pedalaman yang kaya akan hasil hutan. Salah satunya adalah rotan. Rotan tersebut diperdagangkan ke berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa dengan menyisiri Sungai Katingan menuju ke Laut Jawa, dekat Kecamatan Katingan Kuala (Pegatan-tempat tinggal saya sekarang). Hal tersebut menjadi daya tarik para pedagang.

Pedagang Islam yang pertama kali datang ke Tumbang Samba (Kecamatan Katingan Tengah) adalah Haji Abul Hasan. Beliau adalah anak buah Pangeran Antasari. Beliau berasal dari Marabahan Kalimantan Selatan. Kemudian, banyak pedagang Islam lain bermunculan. Kebanyakan mereka berasal dari Kalimantan Selatan. Mereka bermigrasi ke Kecamatan Katingan Tengah (Tumbang Samba) dan Kecamatan Katingan Hulu (Tumbang Sanamang) untuk berdagang. Beberapa diantara pedagang islam tersebut ada yang berorientasi ke muhammadiyah.

Saya tidak bisa membayangkan, betapa sulitnya perjuangan menyebarkan agama di pedalaman Kalimantan Tengah kala itu. Para da’i Muhammadiyah harus bersabar mengarahkan umat untuk tidak melakukan praktik Takhayul, Bid’ah, dan Churofat (TBC) yang sudah mendarah daging. Sekarang, pergerakan Muhammadiyah telah memiliki banyak amal usaha dan berkembang hingga ke pusat kota Katingan (Ibu kota Kabupaten yang bernama Kasongan di Kecamatan Katingan Hilir). Mulai dari lembaga pendidikan hingga lembaga sosial, ekonomi, dan dakwah. Lembaga pendidikan yang didirikanpun meliputi semua jenjang, dari PAUD hingga perguruan tinggi. Semuanya lengkap.

Oleh karena itu, saya berharap buku ini mendapat apresiasi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam rangkaian acara Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, Jawa Tengah, tanggal 1-5 Juli 2020. Mengingat, tulisan dalam buku ini sangat inspiratif. (ila)

*Penulis adalah guru SMPN 4 Katingan Kuala

Opini